Senin, 29 September 2025

La Galigo II

Harun Hadiwijono, Dr. 1977. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Harvey, Barbara Sillars, (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/ TII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Holt, Claire. 1939. Dance Quest in Celebes. Paris: Les Archives Internationales de la Dance.

Karepesina; Ja'cuba, at.al.. (Pengantar: Abdullah Dr. Taufik). 1988. Mitos, Kewibawaan dan Perilaku Budaya. Yayasan Ilmu- Ilmu Sosial.
Kern; R.A. I La Galigo. 1989. Yogyakarta- Jakarta: Gajah Mada University Press & KITLV, 1989.
Koolholf, Sirtjo dan Roger Tol. 1995. I La Galigo (Menurut Naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa). Jakarta: KITLV dan Djambatan.

Lathief, Halilintar. 1987. Tari- tarian Daerah Bugis. Yogyakarta: Institut Press.
Lathief; Major Inf. A. 1957. Masalah Keamanan. Makassar: Ko. Pemuda Pembangunan Lompobattang.
Mattalioe, M. Bahar. 1994. Pemberontakan Meniti Jalur Kanan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mone, Abdul Rahim. 1958. Pelantikan Pimpinan Bissu. Majalah Kebudayaan Sulawesi No. 2/ Oktober 1958.
Mone; Abdul Rahim. 1975. Pesta Palili di Segeri. Ujung Pandang: Kantor Cabang II L.S.A.
Muhni; Djuretna A. Imam. 1994. Moral dan Religi. Kanisius, Yogyakarta.

Nofal; Ir. Abdul Razaq. 1975. Alam Jin dan Malaikat. Bulan Bintang.
Noorduyn. 1972. Islamisasi Makassar. Jakarta: Bhratara.
Pelras, Christian. 1996. The Bugis (The Peoples of South- East Asia and the Pasific), Amerika Serikat: Blackwell Publishers.

Pritchard; E.E.Evans. 1987. Teori- teori Tentang Agama Primitif. (Terjemahan: Chen Hock Tong). Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Roham; Drs. H. Abujaman. 1991. Agama Wahyu dan Kepercayaan Budaya. Media Da'wah.
Saparina, Sadli. 1976. Persepsi Sosial Mengenai Prilaku Menyimpang. Jakarta: Bulan Bintang.

Subagya, Rahmat. 1976. Kepercayaan: Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan. Yogyakarta: Kanisius.
Sukardjo, K. 1993. Agama- Agama yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya. Bandung: Angkasa.
Sulu, Phill M. 1997. Permesta, Jejak- jejak Pengembaraan. Jakarta: Sinar Harapan.

Tule LIC, Drs. Philipus dan Wilhelmus Djulei LIC. 1994. Agama- agama Kerabat Dalam Semesta. Nusa Indah Flores, NTT.
Verkuyl, Dr. J. 1958. Tari dan Dansa. Jakarta: Badan Penerbit Kristen.
Wouden; F.A.E. Van. 1985. Klen Mitos dan Kekuasaan. PT. Graffiti Press.

Sudah sejak lama kita mengetahui kehebatan Sawerigading dalam perjalanannya melanglang buana. Bahkan bukan saja dunia ini yang diinjakinya karena tokoh superman ini tak segan berjalan jauh- jauh sampai di luar angkasa, seperti yang dapat kita lihat pada episode Mappaliqna Sawerigading Saliweng Langiq, 'Terdamparnya Sawerigading di Luar Angkasa' (Fauziah 1998).

Diceritakan bahwa Batara Lattuq, maharaja Luwuq, melahirkan Batara Guru (tidak dikenal permaisurinya). Setelah Batara Guru mengambik alih kekuasaan di kerajaan Luwuq, maka Batara Lattuq menghilang (diperkirakan kembali ke kayangan). Batara Guru dikaruniai tiga orang anak:
1. Lagaligo (sulung) ahli di bidang sejarah dan sastra pada umumnya.

2. Sawerigading (anak kedua) menjadi orang sakti, ahli perang dan perantau.
3. Batendriajeng (wanita, anak bungsu) ahli dan menguasai soal- soal adat setempat.

Epik raksasa ini bergerak ketika Patotoqe (Sang Penentu Nasib) memperoleh laporan bahwa Dunia Tengah ternyata kosong melompong. Patotoqe lalu bertindak menjalankan perannya yang sejati, dengan terlebih dahulu mengumpulkan segenap dewa di Puncak Langit dan Dunia Bawah Tanah.

Peran terpentinh dari Patotoqe sang Dewa Tertinggi, bukanlah sekedar sebagai Sang Penentu Nasib. Ia harus menyebarkan kehidupan di dunia, menjaga dan merayakannya, sehingga dunia yang tadinya kosong, menjadi meriah dan bercahaya.

Jika tak ada kehidupan di dunia, maka takkan ada manusia di sana dan tanpa manusia maka takkan ada Dewa Maha Tinggi yang menentukan nasib (yang ada hanya sekedar penghuni langit). Konsep inti di sini adalah kehidupan, kemanusiaan. Adapun penyembahan manusia kepada Dewata yang Maha Tinggi, hanyalah akibat samping dari penciptaan kehidupan dan kemanusiaan.
Menurut Sureq Galigo, padi baru diperkenalkan sekitar setahun kemudian dihitung dari awal kedatangan Batara Guru yaitu ketika salah seorang isterinya bernama We Saung Riuq melahirkan seorang putri yang diberi nama We Oddang Riuq.

Hanya tujuh hari usianya ia lalu meninggal. Maka dicarilah hutan yang lebat, gunung yang tinggi dan hulu sungai untuk dibuatkan makamnya. Hanya tiga malam setelah anak itu dimakamkan, Batara Guru lalu pergi mencari makam anaknya itu. Tetapi yang ditemuinya bukan makam, melainkan hamparan tanaman.

Karena heran ia langsung pergi menghadap Patotoqe (ayahnya) untuk menanyakan apa gerangan yang ia jumpai. Jawaban yang ia peroleh: "La na ritu anaq riaseng Sangiang Serri, Anaqmu ritu mancaji ase", artinya "Itulah (Paduka) anakda yang disebut Sangiang Serri, anakmu itulah yang menjelma menjadi padi".

Minggu, 28 September 2025

La Galigo. Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia

Editor: Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar.

Diterbitkan atas kerja sama
Pusat Studi La Galigo
Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora
Pusat Kegiatan Penelitian
Universitas Hasanuddin

dengan
Pemerintah Kabupaten Barru

Cetakan Pertama, Juni 2003


The 'La Galigo' A Bugis Encyclopedia and its Growth (Sirtjo Koolhof).
Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim).
Ibuku Magali- Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim).

Pengembaraan La Galigo ke Washington DC (Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura) (Roger Tol).
Seduced by La Galigo (A Filmmaker Journey) (Rhoda Grauer).

* Pengembaraan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara
La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli).
Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang).

Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara (Ingatan Masa Lampau dan Tafsir Masa Kini) (Susanto Zuhdi).
La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau): Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu'jizah dan Dewaki Kramadibrata).

Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan (Cornelis Salombe).
Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abd. Latief).

Sawerigading dalam La Galigo (Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina) (Abdul Rahman Al Ahmady).

*
La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan "Penemuan" Manusia (Nirwana Ahmad Arsuka).
La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka).
Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras).

La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian).
Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading Sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah- Daerah di Sulawesi (James Danandjaja).

Nature and Culture (Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo) (Darmawan Mas'ud dan Gufran D. Dirawan).
Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo (Widya Nayati).

Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre).
Perspektif Gender dalam Naskah Galigo (Nurmaningsih).
Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo Bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim).

La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight).
Berlayar ke Tompoq Tikkaq: Sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner).
Solusi Konflik dalam La Galigo (Mahmud Tang).
Nilai- nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

*
Sawerigading dalam Identifikasi dan Analisi (Mattulada).
Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo (A. Anton Pangerang).
"Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi": Arkeologi Bersejarah dan Pusat- Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell).

The Archeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck).
Kepercayaan dan Upacara dari Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic).
Bissu in La Galigo (Sharyn Graham).
Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Lafief).


* Daftar Pustaka
Abdullah, Hamid. 1985. Manusia Bugis Makasar. Jakarta: Inti Idayu.
Abrams, M.H. 1976. The Mirror and The Lamp Romantic Theory and Critical Tradition. Oxford University.
Arung Pancana Toa, 2000. La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa. Jilid II, Transkripsi dan Terjemahan Muhammad Salim, dkk. Lephas Makasar.

Ambo Enre, Fachruddin. 1999. Ritumpanna Welenrengnge: Telaah Filologis sebuah Episode Sastra Bugis Klasik. Efeo: Jakarta.
Coulmas, Florian.1989. The Writing System of the World. New York: Basic Blackwell.
Eliade, Mircea, (ed). 1983. "Bugis Religion" dalam "The Encyclopedia of Religion. New York: Mc Millan.

Kern. R.A. 1939. Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigosyclus Behoorende. Handscripten der Leidedsche Universiteitsbibliotheek. Leiden: Universiteitsbibliotheek.
___. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun. Yogyakarta: Gajahmada Press.

I La Galigo, Jilid I tahun 1995. Transliterasi dan terjemahan olah Muh. Salim dan Fachruddin A.E. KITLV dan Jambatan.
Kern. R.A. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun MD. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Koolhof, Sirtjo. 1995. Pengantar/ Pendahuluan dalam I La Galigo, Jilid I. Jakarta: Djambatan.
Mills, Roger F. 1975. Proto South Sulawesi and Proto Austronesian Phonology. Disertasi: University of Michigan.
Noordfuyn. 1992. "Variation in the Bugis and Makassarese Scripts" Paper for International Workshop of Indonesian Studies, Leiden.

Rahman, Nurhayati 1998. (disertasi). Pelayaran Sawerigading ke Tana Cina: Kajian Filologi dan Semiotik La Galigo. Jakarta: Universitas Indonesia.
Abdoussalam, Harith & Drs. R. 1971. Magie Dalam Agama Primitive & Hindu (Beberapa catatan Bibliography). Yogyakarta: Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Yogyakarta.

Adaus, Abdul Hafied. 1974. Seni Tari Klasik Bissu. Pangkep: Kantor Kebudayaan Kabupaten Pangkep.
Ali; Andi Muh. 1980. Arti dan Jenis Arajang. Watampone: Kantor P dan K Kabupaten Bone.
Badaruddin, Makmun; at.al.1980. Bissu dan Peralatannya. Ujung Pandang: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan.

Burhanuddin, BH., 1976. Zaman Hindu di Sulawesi (600- 1500 M), Kendari: Yayasan Karya Teknika.
Fauzi bin Haji Awang, Ustadz Mohd. 1971. Ugama- ugama Dunia. Kelantan: Malaysia: Pustaka Aman Press. (cet.2).
Fowler; James W. 1995. Teori perkembangan Kepercayaan. Kanisius, Yogyakarta.

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama (terjemahan Francisco Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius.
Gonggong, Anhar (1992). Abdul Qahar Muzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak.
Hafidy; H.M. As'ad El. 1982. Aliran- aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia. (Cetakan kedua).

Jumat, 26 September 2025

Foto- foto T.E.D

 1. Dalam kereta menuju kota Bandung


2. Büyük Çamlıca Camii (Masjid)




3.



































Mengunjungi Tempat- tempat di Kota Magelang

 1. Masjid Agung Magelang




Salah satu bangunan cagar budaya. Dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang bernama Thomas Kharsten. Mampu menampung 1.750 juta liter air. Memiliki ketinggian 23 meter.

Dibangun pada tahun 1916. Tujuan utama pembangunannya adalah untuk mengamankan persediaan air minum bagi tentara militer Belanda maupun warga Belanda yg tinggal di Kota Magelang. Agar para tentara dan warga Belanda terlindungi dari upaya peracunan maupun pencemaran.


Dibangun pd tahun 1977. Tinggi bangunannya 4 meter. Pembangunan monumen ini mempunyai maksud agar masyarakat Kota Magelang dapat menghayati jiwa kepahlawanan dan pengorbanan Pangeran Diponegoro yang ditangkap secara licik oleh Jenderal De Kock di Magelang pada tahun 1830.

Ada sebuah candra sengkala yang tertulis: "Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono" yang berarti tahun 1977 saat monumen ini dibangun.


4. Tugu Aniem (A. Niem) dan Klenteng Liong Hok Bio

Tugu Aniem (A. Niem) di kawasan Alun- alun Kota Magelang.

Memiliki bentuk silinder berwarna putih dengan puncak lancip dan hiasan khas arsitektur eropa abad ke- 19. Nama tugu ini berasal dari Abraham Christian Niem, seorang asisten residen Belanda yang meninggal pada masa Perang Jawa melawan pasukan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1830.

Dibangun pada masa kolonial sebagai bentuk penghormatan atas jasa Niem yang kala itu dianggap sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang berjasa dalam menjaga stabilitas kekuasaan di wilayah Kedu.


*Klenteng Liong Hok Bio

Didirikan tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Be Tjok Lok. Terdapat Hio (dupa yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam kegiatan peribadatannya) -besar di dalamnya dengan berat 3,8 ton.


5. Candi Asu Sengi

Peninggalan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu). Berada di lereng Gunung Merapi sebelah barat, di tepian sungai Tlingsing Pabelan, tepatnya di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Nama candi asu diberikan karena sewaktu pertama kali ditemukan ada sebuah patung lembu Nandhi yang wujudnya telah rusak dan lebih mirip menyerupai Asu (anjing - dlm bhs Jawa).


6. Candi Lumbung




Letak aslinya di tepi sungai Apu, anak sungai Pabelan di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Pada tahun 2010 Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (kini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) mengamankan candi ini dengan memindahkan candi ini dari tempat aslinya ke tempat sementara di tepi jalan yang menuju ke Ketep Pass, sekitar 500 meter dari lokasi aslinya.

Candi ini dipindah karena tanah tumpuannya hanya tinggal satu meter dari tebing sungai setinggi 7 meter yang dikhawatirkan longsor. Karena bila tebing penyangga tanah tumpuan candi ini longsor, maka runtuhlah candi ini dan batu- batunya akan terhanyut aliran lahar Merapi.

Secara arsitektural memiliki latar belakang agama Hindu dan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Tinggi 7, 20 meter. Bagian puncak sudah runtuh dan hilang batu- batunya, yang tersisa bagian tengah dan dasar. Diperkirakan dibangun dalam kurun waktu bersamaan dengan Candi Asu dan Candi Pendem, yakni pada abad ke- 9, ketika Kerajaan Mataram Kuno.













Rabu, 24 September 2025

Mengunjungi Tempat- tempat di Jakarta

 1. Masjid Istiqlal

    Masjid terbesar di Asia Tenggara.

    Nama"Istiqlal" berasal dari bahasa Arab yang berarti "kemerdekaan".

    Pembangunannya dimulai pada tahun 1961 dan selesai pada tahun 1978, diresmikan oleh Presiden

    Soeharto.



2. Halte Jaga Jakarta
    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama jajaran balaikota memutuskan untuk merubah Halte
    Senen Sentral menjadi Halte Jaga Jakarta.

3. Monumen Nasional terlihat dari atas gedung Perpustakaan Nasional

4. Kawasan Komplek Olahraga Gelora Bung Karno. Memiliki luas 279, 1 Ha.
    Dibangun pada tahun 1962.

Stadion Utama Gelora Bung Karno. 

Denah Komplek Stadion dari Gate D


5.


6. Penetapan Stasiun Pasar Senen sebagai bangunan cagar budaya.
    Awalnya berupa halte kecil milik Batavia Ooster Spoorweg MIJ untuk menunjang transportasi
    di pasar senen yang dibangun pada 1733.






















Perpustakaan Nasional di Jakarta

 1.


2. Lantai- lantai di Perpustakaan

3.

4.

5.

6. Pengakuan naskah di kancah Internasional: Memory of The World (MOW)

7.

8. Naskah yang ditulis dalam bahasa jawa kuno dengan aksara Bali di atas daun lontar



9. Aksara ULU merupakan kekayaan budaya tulis kuno yang dimiliki daerah Sumatera Selatan


10.


Museum Nasional Indonesia di Jakarta

 1. Denah Museum Nasional Indonesia


2. Arca Ganesha, dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan penghalau rintangan.
    Digambarkan dengan kepala gajah dan tubuh manusia, seringkali dengan empat tangan yang
    memegang berbagai atribut seperti gading patah, kapak, tasbih, teratai dan mangkuk berisi modaka

3. Arca Suhita, raja keenam Kerajaan Majapahit dengan gelar Bhatara Parameswara.
    Selama memimpin, didampingi oleh suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratna Pangkaja

4. Arca Bhairawa. Manifestasi Dewa Siwa dalam bentuk yang menakutkan dan sekaligus Buddha,
    dalam aliran sinkrestisme Tantrayana. Digambarkan dengan ekspresi wajah penuh amarah,
    memegang pisau dan mangkuk dari tengkorak manusia, serta berdiri di atas mayat seorang
    pria  dan tumpukan tengkorak di dasarnya. Terdapat relief tokoh suci Buddha Aksobhya
    terukir di mahkotanya.

5.

6. Relief Sinar (Surya). Surya Majapahit yang dikelilingi Dewata Nawasanga menyimbolkan seluruh Kerajaan Majapahit terlindungi oleh delapan dewa penjaga

7. Rekonstruksi Kuda Nil Purba

8.

9. Lukisan wajah dari berbagai wilayah- wilayah di Indonesia