Senin, 26 Januari 2026

Wisata Curug Purworejo

 1. Tiket masuk Curug Muncar

2
3.
4.
5.

6.

__

1. Tiket masuk Wisata Curug Gunung Putri

2.
3.

4.

5. Tebing curug
6.

7.

8.
9. Hutan Pinus

10.
11.































Kamis, 08 Januari 2026

Sejarah Vietnam

Sebelum Burma merdeka dari Inggris pada 1948, Indonesia dan Vietnam lebih dahulu menyatakan kemerdekaannya, yakni tahun 1945.

Indonesia harus menghadapi invasi Belanda saat revolusi kemerdekaan, Vietnam berhadapan dengan Prancis yang berambisi terus menancapkan pengaruh di negara Indochina tersebut.

Sebelum merdeka sebagai negara republik, Vietnam merupakan jajahan Prancis. Selama hampir 1 abad, kekuasaan Prancis bercokol di Vietnam. Kolonisasi ini diawali oleh sejumlah episode serbuan militer sejak pertengahan abad 19 hingga tahun 1883.

Prancis sebenarnya telah menanam pengaruh di Indochina sejak tahun 1600-an, tapi hanya untuk kepentingan misionaris, dagang atau campur tangan dipertikaian kerajaan lokal.

Keseriusan Prancis mencaplok Vietnam baru terlihat pada 1957, ketika Napoleon III memutuskan untuk menyerbu kota Da Nang (Tourane) dan kemudian Saigon. Kerajaan Dinasti Nguyen akhirnya terpaksa sepakat menerima perjanjian pada 1862 serta menyerahkan wilayahnya yang ditaklukkan Prancis.

Aneksasi terus berlanjut hingga pada 1867, Raja Tu Duc (kaisar keempat Dinasti Nguyen) harus merelakan Vietnam Selatan kepada Prancis. Koloni baru ini lantas disebut Cochinchina.

Invasi Prancis mencapai puncaknya saat Raja Tu Duc menyerah dan tak lama kemudian meninggal pada 19 Juli 1883. Tahun itu, seluruh Vietnam Utara (Tonkin) dan Vietnam Tengah (Annam) jatuh ke tangan Prancis.

Empat tahun berselang, Kamboja dan Laos pun menyusul. Namun, butuh waktu satu dekade sebelum pemerintahan kolonial Prancis di Indochina berjalan penuh pada 1897, yakni saat Paul Doumer menjabat gubernur jenderal.

Meski muncul sejumlah pemberontakan, terutama pada paruh awal abad 20, kekuasaan Prancis di Vietnam tidak tergoyahkan setidaknya hingga Perang Dunia II.

Prancis mulai kedodoran saat bala tentara Jepang merangsek ke kawasan Asia Tenggara. Pasukan Dai Nippon dengan mudah memasuki Vietnam karena penguasa kolonial Prancis mengizinkannya. Puluhan ribu tentara Jepang segera menyebar di Vietnam sejak Agustus 1940, sementara otoritas Prancis di Indochina memilih berdamai.

Momentum melemahnya pemerintahan kolonial Prancis selama Perang Dunia II dimanfaatkan oleh aktivis pergerakan di Vietnam untuk mempersiapkan kemerdekaan. Salah satu pentolan komunis Vietnam, Ho Chi Minh yang sempat bersembunyi di China dan Rusia kembali dari pelarian. Bersama kawan- kawannya di Partai Komunis Indochina, Ho Chi Minh mendirikan Viet Minh pada 1941.

Viet Minh (Liga Revolusioner untuk kemerdekaan Vietnam) segera meroket pengaruhnya. Mereka juga berhasil menghimpun ribuan milisi yang aktif bergerilya di Vietnam sejak 1943.

Peluang kebangkitan Viet Minh terbuka pada Maret 1945, ketika tentara Jepang secara mendadak melumpuhkan seluruh garnisun militer Prancis di Vietnam. Empat bulan berselang, petinggi Viet Minh segera menyadari bahwa kekuatan Jepang di Asia Pasifik sudah lumpuh.

Memasuki bulan Agustus 1945, revolusi kemerdekaan Vietnam meletup. Viet Minh secara terbuka menyatakan perang melawan Jepang per tanggal 10 Agustus.

Gerilyawan Viet Minh cepat bergerak sehingga berhasil merebut Hanoi pada 19 Agustus 1945. Tak butuh waktu lama, tepatnya tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh memproklamasikan Republik Demokratik Vietnam (DRV).

Negara baru ini berpusat di Hanoi dengan Ho Chi Minh sebagai presiden dan belakangan disebut sebagai Vietnam Utara. Deklarasi DRV tercatat dihadiri 500-an ribu massa yang menyambut pidato kemerdekaan Vietnam oleh Ho Chi Minh.

Deklarasi DRV dan proklamasi kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945 faktanya tidak diakui oleh Prancis. Pemerintah kolonial Prancis juga berani lebih agresif saat pasukan gurkha dikerahkan oleh Inggris untuk melucuti senjata tentara Jepang di Vietnam.

Bentrok senjata antara milisi Viet Minh dengan tentara Prancis pun tak terhindarkan. Perundingan sempat berkali- kali digelar, tetapi kedua kubu tetap berseteru.

Tidak ada titik temu karena Viet Minh menghendaki penyatuan Vietnam di bawah DRV, sedangkan Prancis bersikeras Chochincina (Vietnam Selatan) menjadi negara tersendiri. Prancis yang kembali merebut sebagian Vietnam, Laos dan Kamboja juga meminta DRV berada di bawah Uni Prancis.

Situasi semakin mendidih ketika Viet Minh resmi mengobarkan perang melawan Prancis. Deklarasi perang pada 19 Desember 1946 oleh kedua pihak lantas mengawali bentrok senjata panjang yang dikenal sebagai Perang Indochina 1.

Puncak ketegangan terjadi di tahun 1949. Tahun itu, Prancis membentuk negara boneka bernama Vietnam (States of Vietnam) dengan ibu kota di Saigon. Prancis menunjuk kaisar terakhir Dinasti Nguyen, Bao Dai untuk menjadi kepala negara tersebut.

Memasuki dekade 1950-an situasi semakin pelik karena dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat datang untuk menyokong Prancis. Dukungan dari China dan Uni Soviet mengalir buat Viet Minh. Soviet dan China resmi mengakui kemerdekaan DRV pada Januari 1950.

Perang Indochina 1 yang tidak kunjung berakhir mendorong Menlu Uni Soviet Vyacheslav Molotov menggulirkan wacana perdamaian di Vietnam.

Titik terang mulai terlihat setelah tentara Prancis tumbang dalam perang besar melawan pasukan Viet Minh di Dien Bhien Phu yang berlangsung pada Maret- Mei 1954. Kemenangan Viet Minh dalam perang Dien Bhien Phu membuka jalan bagi lahirnya kesepakatan dalam Konferensi Jenewa.

Tepatnya pada 20- 21 Juli 1954. Konferensi Jenewa melahirkan beberapa keputusan.
Adapun yang paling pokok diantaranya sebagai berikut:

1. Pemisahan Vietnam menjadi dua bagian, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, berdasarkan garis lintang utara 17 derajat. Selain itu, memberikan kemerdekaan kepada Kamboja dan Laos.

2. Mengadakan pemilu pada Juli 1956 untuk unifikasi Vietnam.

3. Memerintahkan militer kedua kubu kembali ke tempat asal masing- masing.

Keputusan Konferensi Jenewa tersebut memicu kemunculan negara Vietnam Selatan atau Republic of Vietnam (RVN). Cikal bakal republik ini adalah States of Vietnam yang berdiri pada 1949.

Referendum pada 1955 berujung pada penggulingan Bao Dai oleh eks perdana menteri Ngo Dinh Diem.

Namun, pemerintah Vietnam Selatan justru tidak mengakui kesepakatan dalam Konferensi Jenewa sehingga menolak agenda pemilu pada Juli 1956. Penolakan itu membuat konflik Vietnam Selatan vs Vietnam Utara menjadi tidak terelakkan dan pada akhirnya membangkitkan Perang Indochina II (Konrad G. Buhler: 71).

Perang Indochina II (Perang Vietnam) yang melibatkan Cina- Soviet dan AS itu berlangsung lama. Kemenangan kubu komunis (Vietnam Utara) pada 1975 dalam perang tersebut sekaligus menutup riwayat negara Vietnam Selatan.



tirto.id/sejarah-vietnam-selatan-riwayat-kemunculan-hingga-keruntuhan

Selasa, 16 Desember 2025

Kuasa Ramalan. Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785- 1855. Jilid 3

Judul Asli:
The Power of Prophecy;
Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785- 1855.

Penerjemah, Parakitri T. Simbolon
Hak Terjemahan bahasa Indonesia pada KPG

Peter Carey. 2012.
242 hlm


- Silsilah keluarga kesultanan Yogyakarta
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Danurejan
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Prawirodirjan

- Istri, keluarga dan anak- anak Pangeran Diponegoro
- Patih (perdana menteri) Yogyakarta dan Surakarta, 1755- 1879
- Pejabat tinggi dalam pemerintahan Yogyakarta, 1755- 1825

- Daftar pesanggrahan, pondok berburu dan tempat peristirahatan raja (Kelangenan- Dalem) di Yogyakarta yang dibangun oleh empat sultan pertama, 1755- 1822

- Daftar pesantren, pusat pengkajian hukum Islam (pathok negari) dan daerah bebas pajak untuk para ulama dan penjaga makam kerajaan (perdikan, pamutihan, juru kuncen) di Yogyakarta pra- 1832

- Daftar kiai, haji dan pemuka agama yang berhubungan dengan Diponegoro
- Daftar pangeran dan priayi Keraton Yogyakarta yang menunjukkan lahan pemilikan dan pensiun masing- masing, 1808- 1820, serta kesetiaan selama Perang Jawa

- Pejabat tinggi Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC), Pemerintah peralihan Inggris dan Pemerintah Hindia Belanda, 1780 - 1858
- Harga beras di Yogyakarta (1804- 1826) dan seluruh Jawa (1817- 1825)

- Daftar senjata pusaka Diponegoro
- Daftar pengikut Diponegoro di Manado, Juni 1830- Juni 1833
- Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

- Penanggalan Jawa dan Masehi 1785- 1855
- Penerimaan dari cukai gerbang jalan, candu dan pajak lain di Yogyakarta 1808- 1825
- Perbandingan nilai mata uang kertas dan logam yang beredar di Jawa pada 1811

- Pondok pesantren, pathok negari dan daerah perdikan kaum santri dan juru kunci pemakaman kerabat keraton Yogya sebelum 1832

* Makam Diponegoro di Makassar (1855- sekarang)
Wafat pada pagi buta, Senin 8 Januari 1855, Pangeran dikuburkan di Kampung Melayu, Makassar, sesuai kehendaknya, dekat kuburan putranya, Raden Mas Sarkumo (1834- Maret 1849).

Pada 1885, saat Raden Ayu Retnoningsih meninggal, jasad Pangeran dan putra keduanya konon dipindahkan dari halaman rumah Retnoningsih ke pemakaman umum Kampung Melayu.

Karena Pangeran dikuburkan bersama dengan keris pusakanya, Kanjeng Kiai Bondoyudo, sebenarnya dengan mudah bisa dicek dengan pendeteksi logam apakah jasad Pangeran ada di pemakaman itu.


* Gubernur- Jenderal, 1780- 1855

- Willem Arnold Alting > 1780- 1796
- Pieter Gerardus van Overstraten > 1796- 1801
- Johannes Siberg > 1801- 1805

- Albert Henricus Wiese > 1805- 1808
- Herman Willem Daendels > 1808- 1811
- Jan Willem Janssens > Mei - September 1811

- Gilbert Elliot Lord Minto > Agustus- Oktober 1811
- Thomas Stamford Raffles > 1811- 1816
- John Fendall > Maret - Agustus 1816

- Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen > 1816- 1826
- Leonard Pierre Joseph burggraaf du Bus de Gisignies > 1826- 1830

- Johannes van den Bosch > 1830- 1834
- Jean Chretien Baud > 1834- 1836
- Dominique Jacques de Eerens > 1836- 1840
meninggal semasa bertugas

- Pieter Merkus > 1841- 1844
meninggal semasa bertugas
- Jan Jacob Rochussen > 1845- 1851

- Albertus Jacobus Duymaer van Twist > 1851- 1856

Lord Minto adalah Gubernur- Jenderal India (1807- 1813).
Raja Willem I (bertakhta 1813- 1840).
Sistem tanam paksa (1830- 1870).
Perang Padri di Sumatra Barat (1821- 1837)


* Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

Surat aslinya ditulis pada kertas gubernemen dan ditemukan oleh seorang sarjana Belanda dan dosen dalam Bahasa Melayu dan Jawa di Akmil Breda, J. J. de Hollander (1817- 1886), di antara tumpukan surat- menyurat para bupati Jawa, komandan poa tentara dan pejabat Belanda yang berkaitan dengan Perang Jawa (1825- 1830) dalam arsip Akademi Militer Kerajaan di Breda.

De Hollander menerbitkannya dalam aksara Jawa dengan terjemahan Belandanya dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 25: 192- 6. Ia mempertahankan ejaan asli dan memasukkan banyak sekali koreksi dalam catatan kakinya yang tidak disertakan sekarang.


* Surat kepada Kolonel J. B. Clerens (1835)
Ditulis oleh Diponegoro dari Makassar pada 14 Desember 1835 kepada Mayor- Jenderal Jan Baptist Cleerens (1785- 1850). Perwira asal Nederland Selatan (pasca- 1830, Belgia) itulah (ketika itu kolonel) yang berunding dengan dia di Remokamal dan Kecawang, Bagelen utara (sekarang Banyumas), serta di Menoreh, Kedu selatan, Februari 1830 dan membujuk dia menemui Jenderal H. M. de Kock di Magelang pada 8 Maret 1830 tempat ia kemudian ditangkap, 28 Maret 1830.

Surat yang mungkin didiktekan oleh Diponegoro kepada juru- tulisnya, ditulis pada kertas gubernemen Belanda dengan tinta hitam dengan menggunakan mata pena dari lidi aren.

Berbeda dengan suratnya kepada para wali Hamengkubuwono V dan kebanyakan surat- suratnya yang ditulis di Makassar, surat tersebut memakai aksara Jawa, bukan aksara pegon. Sampul sutra kuning mencantumkan alamat dengan tulisan tangan yang berbeda karena memakai mata pena dari bulu burung.

Sampul maupun surat aslinya tersimpan di Arsip Nasional, Jakarta.

Selasa, 25 November 2025

Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Tim Hannigan

Judul asli
Raffles and the British Invasion of Java
2012

Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
419 halaman

Tanah Harapan
Helaan Napas Pertama di Timur
Kemenangan Gemilang
Seribu Pertanyaan Kecil

Pusat Kegelapan
Tanah Kemenangan Baru
Membuat Sejarah

Kerbau dan Harimau
Pemberontakan dan Mangga
Ratu Adil

Tim Hannigan ialah penulis dan jurnalis spesialis Indonesia dan anak benua India. Buku pertamanya, Murder in the Hindu Kush (The History Press, 2011), adalah biografi memikat penjelajah Inggris abad ke- 19 George Hayward. Buku itu menjadi salah satu nominasi peraih Boardman Tasker Prize 2011 di Inggris.

Buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa atau Raffles and the British Invasion of Java merupakan buku keduanya, dan meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, untuk kategori nonfiksi sejarah.

Peta pulau Jawa 1811- 1816
Peta Jawa Tengah 1811 - 1816

Di Jawa, keris, belati seremonial, merupakan yang paling kuat di antara berbagai benda keramat yg dapat dimiliki raja atau orang biasa.

Orang- orang yg menempa keris itu bukanlah pandai besi biasa, mereka juga dukun, yang mengetahui mantra dan jampi rahasia yang akan membuat besi tipis dan diukir itu dipenuhi dengan energi tak terlihat.

Terkadang, mereka menempa logam panas dengan tangan kosong. Ketika keris diturunkan dari generasi ke generasi, kekuatannya bertambah dan ada upacara pembersihan dan sesajen tahunan yang rumit yang harus dilakukan untuk membuatnya tetap aman.

Keris pusaka sungguhan bukan sekedar benda mati, keris itu dianggap bernyawa, memiliki nama sendiri dan jika tidak dirawat dengan benar, bisa menjadi tidak stabil dan berbahaya.

Dimasukkan ke dalam sarung yang dipakai dengan benar sesuai aturan Jawa, keris juga merupakan simbol jelas dan sandi rahasia untuk potensi kejantanan- begitu besar sehingga keris seorang laki- laki sebenarnya bisa menggantikannya di samping mempelai perempuan dalam pelaminan seremonial pada hari pernikahannya seandainya mempelai laki- laki berhalangan.

Tanpa kerisnya, seorang laki- laki Jawa secara spiritual menjadi tak jantan. Terakhir, keris juga merupakan senjata praktis dan alat utama pembunuhan dan eksekusi.

Dinasti Jawa kuno yang pertama kali terlihat jelas di catatan sejarah adalah Sailendra, Para Raja Gunung. Dinasti Sailendra beragama Buddha dan memerintah di suatu tempat di Kedu di sebelah barat Gunung Merapi sejak abad ke-8.

Pada waktu yang sama, dinasti lain, Sanjaya, berdiri di dekat tempat yang kemudian menjadi Yogyakarta, yang selalu mengandung kekuasaan. Para raja Sanjaya bukan pemeluk Buddha melainkan Hindu Siwa, dan merekalah yang membangun candi di Prambanan.

Tentu pernah terjadi perang antara kedua kerajaan itu, dan pada suatu masa, Sanjaya tampaknya menjadi bawahan Sailendra. Kemudian terjadi pemberontakan dan juga ada pernikahan antar kerajaan.

Tidak mengherankan jika Mackenzie tidak menemukan unsur Hindu di candi Sewu- tak seperti komplek Loro Jonggrang di dekatnya hampir dua kilometer ke arah selatan, karena Candi Seribu didedikasikan untuk agama Buddha, agama para besan kerajaan.

Kedua kerajaan dan kepercayaan itu kemudian tampak melebur dan jatuh di Jawa, tidak pernah lagi ada garis pembagian yang jelas antara Buddhisme dan Hinduisme. Pada akhir milenium pertama Masehi, pusat kekuasaan bergeser ke timur keluar Jawa Tengah, ke cekungan Sungai Brantas dekat Surabaya.

Kerajaan- kerajaan naik dengan singkat ke permukaan seperti gelembung mendidih di lava dalam kawah gunung api, seringkali bertahan hanya beberapa generasi sebelum pecah, dan kekuasaannya melompat untuk bangkit di tempat lain- Kahuripan, Janggala, Kediri, Singosari, dan akhirnya pada abad ke- 14, gelembung terbesar, Majapahit.

Ratusan halaman The History of Java berisi kumpulan menarik sejarah, antropologi dan desas- desus, satu wacana mengenai kesusasteraan Jawa, daftar candi, sejumput propaganda anti Belanda, dan seruan pembenaran diri yang frustasi.

Buku itu juga boleh dikata merupakan karya paling signifikan yang muncul dari ledakan penerbitan kecil sesudah penaklukan Jawa, dan untuk pertama kalinya menyajikan sejumlah gagasan mengenai sejarah Indonesia yang akan terus menyebar luas- dan terkadang merusak- sepanjang era kolonial dan sesudahnya.

Jelas, dengan segala urusan lain yg dia lakukan, Raffles sendiri tidak punya waktu untuk membersihkan candi dari tumbuhan rambat, dan dalam banyak hal, The History of Java hanya praktik besar plagiarisme yang diizinkan.

Meski buku itu berisi banyak klaim bahwa Belanda tidak berminat dengan sejarah dan budaya Jawa sebelum Inggris tiba, Raffles banyak menggunakan catatan dan naskah yang dia temukan di perpustakaan Buitenzorg; terjemahan yang disebut di catatan kaki hanyalah terjemahan dari terjemahan, dan dia terkadang menggunakan keahlian orang Belanda berpengalaman ketika berburu rincian budaya yang kurang jelas.

Namun yang lebih penting, Raffles menggunakan sepasukan pengganti Leyden untuk pekerjaan lapangan.

Buku The History of Java membuat dunia mengetahui banyak tempat lain juga, tumpukan batu pahat lain di lereng- lereng bukit: Candi Sukuh, Candi Prambanan, Candi Dieng dan Singosari, monumen- monumen epik yang dilupakan semua orang- kecuali tentunya orang- orang yg tinggal di sekitarnya sejak candi- candi itu didirikan.

Penyusunan daftar candi di Jawa akhirnya merupakan penaklukan Inggris yang paling ramah dan mengagumkan di Indonesia.

Borobudur. Para raja Sailendra membangunnya selama sekitar tujuh puluh tahun, dimulai sekitar tahun 780 M. Candi itu dirancang tanpa rencana awal, setiap generasi baru raja, arsitek dan tukang batu membangun melanjutkan apa yang dilakukan sebelumnya, sebelum akhirnya mencapai puncak terakhir.

Untuk apa bangunan itu sesungguhnya masih belum sepenuhnya jelas- tidak seperti candi Prambanan, Borobudur bukan benar- benar candi karena tidak ada ruang suci untuk tempat dewa dan berdoa.

Lebih mungkin, Borobudur merupakan tempat tujuan wisata pendidikan yang megah, para pengunjung mengelilingi tingkat- tingkatnya sesuai urutan dan mendaki semakin tinggi menuju pencerahan.

Senin, 29 September 2025

La Galigo II

Harun Hadiwijono, Dr. 1977. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Harvey, Barbara Sillars, (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/ TII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Holt, Claire. 1939. Dance Quest in Celebes. Paris: Les Archives Internationales de la Dance.

Karepesina; Ja'cuba, at.al.. (Pengantar: Abdullah Dr. Taufik). 1988. Mitos, Kewibawaan dan Perilaku Budaya. Yayasan Ilmu- Ilmu Sosial.
Kern; R.A. I La Galigo. 1989. Yogyakarta- Jakarta: Gajah Mada University Press & KITLV, 1989.
Koolholf, Sirtjo dan Roger Tol. 1995. I La Galigo (Menurut Naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa). Jakarta: KITLV dan Djambatan.

Lathief, Halilintar. 1987. Tari- tarian Daerah Bugis. Yogyakarta: Institut Press.
Lathief; Major Inf. A. 1957. Masalah Keamanan. Makassar: Ko. Pemuda Pembangunan Lompobattang.
Mattalioe, M. Bahar. 1994. Pemberontakan Meniti Jalur Kanan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mone, Abdul Rahim. 1958. Pelantikan Pimpinan Bissu. Majalah Kebudayaan Sulawesi No. 2/ Oktober 1958.
Mone; Abdul Rahim. 1975. Pesta Palili di Segeri. Ujung Pandang: Kantor Cabang II L.S.A.
Muhni; Djuretna A. Imam. 1994. Moral dan Religi. Kanisius, Yogyakarta.

Nofal; Ir. Abdul Razaq. 1975. Alam Jin dan Malaikat. Bulan Bintang.
Noorduyn. 1972. Islamisasi Makassar. Jakarta: Bhratara.
Pelras, Christian. 1996. The Bugis (The Peoples of South- East Asia and the Pasific), Amerika Serikat: Blackwell Publishers.

Pritchard; E.E.Evans. 1987. Teori- teori Tentang Agama Primitif. (Terjemahan: Chen Hock Tong). Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Roham; Drs. H. Abujaman. 1991. Agama Wahyu dan Kepercayaan Budaya. Media Da'wah.
Saparina, Sadli. 1976. Persepsi Sosial Mengenai Prilaku Menyimpang. Jakarta: Bulan Bintang.

Subagya, Rahmat. 1976. Kepercayaan: Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan. Yogyakarta: Kanisius.
Sukardjo, K. 1993. Agama- Agama yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya. Bandung: Angkasa.
Sulu, Phill M. 1997. Permesta, Jejak- jejak Pengembaraan. Jakarta: Sinar Harapan.

Tule LIC, Drs. Philipus dan Wilhelmus Djulei LIC. 1994. Agama- agama Kerabat Dalam Semesta. Nusa Indah Flores, NTT.
Verkuyl, Dr. J. 1958. Tari dan Dansa. Jakarta: Badan Penerbit Kristen.
Wouden; F.A.E. Van. 1985. Klen Mitos dan Kekuasaan. PT. Graffiti Press.

Sudah sejak lama kita mengetahui kehebatan Sawerigading dalam perjalanannya melanglang buana. Bahkan bukan saja dunia ini yang diinjakinya karena tokoh superman ini tak segan berjalan jauh- jauh sampai di luar angkasa, seperti yang dapat kita lihat pada episode Mappaliqna Sawerigading Saliweng Langiq, 'Terdamparnya Sawerigading di Luar Angkasa' (Fauziah 1998).

Diceritakan bahwa Batara Lattuq, maharaja Luwuq, melahirkan Batara Guru (tidak dikenal permaisurinya). Setelah Batara Guru mengambik alih kekuasaan di kerajaan Luwuq, maka Batara Lattuq menghilang (diperkirakan kembali ke kayangan). Batara Guru dikaruniai tiga orang anak:
1. Lagaligo (sulung) ahli di bidang sejarah dan sastra pada umumnya.

2. Sawerigading (anak kedua) menjadi orang sakti, ahli perang dan perantau.
3. Batendriajeng (wanita, anak bungsu) ahli dan menguasai soal- soal adat setempat.

Epik raksasa ini bergerak ketika Patotoqe (Sang Penentu Nasib) memperoleh laporan bahwa Dunia Tengah ternyata kosong melompong. Patotoqe lalu bertindak menjalankan perannya yang sejati, dengan terlebih dahulu mengumpulkan segenap dewa di Puncak Langit dan Dunia Bawah Tanah.

Peran terpentinh dari Patotoqe sang Dewa Tertinggi, bukanlah sekedar sebagai Sang Penentu Nasib. Ia harus menyebarkan kehidupan di dunia, menjaga dan merayakannya, sehingga dunia yang tadinya kosong, menjadi meriah dan bercahaya.

Jika tak ada kehidupan di dunia, maka takkan ada manusia di sana dan tanpa manusia maka takkan ada Dewa Maha Tinggi yang menentukan nasib (yang ada hanya sekedar penghuni langit). Konsep inti di sini adalah kehidupan, kemanusiaan. Adapun penyembahan manusia kepada Dewata yang Maha Tinggi, hanyalah akibat samping dari penciptaan kehidupan dan kemanusiaan.
Menurut Sureq Galigo, padi baru diperkenalkan sekitar setahun kemudian dihitung dari awal kedatangan Batara Guru yaitu ketika salah seorang isterinya bernama We Saung Riuq melahirkan seorang putri yang diberi nama We Oddang Riuq.

Hanya tujuh hari usianya ia lalu meninggal. Maka dicarilah hutan yang lebat, gunung yang tinggi dan hulu sungai untuk dibuatkan makamnya. Hanya tiga malam setelah anak itu dimakamkan, Batara Guru lalu pergi mencari makam anaknya itu. Tetapi yang ditemuinya bukan makam, melainkan hamparan tanaman.

Karena heran ia langsung pergi menghadap Patotoqe (ayahnya) untuk menanyakan apa gerangan yang ia jumpai. Jawaban yang ia peroleh: "La na ritu anaq riaseng Sangiang Serri, Anaqmu ritu mancaji ase", artinya "Itulah (Paduka) anakda yang disebut Sangiang Serri, anakmu itulah yang menjelma menjadi padi".

Minggu, 28 September 2025

La Galigo. Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia

Editor: Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar.

Diterbitkan atas kerja sama
Pusat Studi La Galigo
Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora
Pusat Kegiatan Penelitian
Universitas Hasanuddin

dengan
Pemerintah Kabupaten Barru

Cetakan Pertama, Juni 2003


The 'La Galigo' A Bugis Encyclopedia and its Growth (Sirtjo Koolhof).
Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim).
Ibuku Magali- Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim).

Pengembaraan La Galigo ke Washington DC (Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura) (Roger Tol).
Seduced by La Galigo (A Filmmaker Journey) (Rhoda Grauer).

* Pengembaraan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara
La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli).
Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang).

Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara (Ingatan Masa Lampau dan Tafsir Masa Kini) (Susanto Zuhdi).
La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau): Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu'jizah dan Dewaki Kramadibrata).

Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan (Cornelis Salombe).
Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abd. Latief).

Sawerigading dalam La Galigo (Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina) (Abdul Rahman Al Ahmady).

*
La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan "Penemuan" Manusia (Nirwana Ahmad Arsuka).
La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka).
Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras).

La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian).
Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading Sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah- Daerah di Sulawesi (James Danandjaja).

Nature and Culture (Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo) (Darmawan Mas'ud dan Gufran D. Dirawan).
Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo (Widya Nayati).

Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre).
Perspektif Gender dalam Naskah Galigo (Nurmaningsih).
Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo Bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim).

La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight).
Berlayar ke Tompoq Tikkaq: Sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner).
Solusi Konflik dalam La Galigo (Mahmud Tang).
Nilai- nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

*
Sawerigading dalam Identifikasi dan Analisi (Mattulada).
Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo (A. Anton Pangerang).
"Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi": Arkeologi Bersejarah dan Pusat- Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell).

The Archeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck).
Kepercayaan dan Upacara dari Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic).
Bissu in La Galigo (Sharyn Graham).
Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Lafief).


* Daftar Pustaka
Abdullah, Hamid. 1985. Manusia Bugis Makasar. Jakarta: Inti Idayu.
Abrams, M.H. 1976. The Mirror and The Lamp Romantic Theory and Critical Tradition. Oxford University.
Arung Pancana Toa, 2000. La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa. Jilid II, Transkripsi dan Terjemahan Muhammad Salim, dkk. Lephas Makasar.

Ambo Enre, Fachruddin. 1999. Ritumpanna Welenrengnge: Telaah Filologis sebuah Episode Sastra Bugis Klasik. Efeo: Jakarta.
Coulmas, Florian.1989. The Writing System of the World. New York: Basic Blackwell.
Eliade, Mircea, (ed). 1983. "Bugis Religion" dalam "The Encyclopedia of Religion. New York: Mc Millan.

Kern. R.A. 1939. Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigosyclus Behoorende. Handscripten der Leidedsche Universiteitsbibliotheek. Leiden: Universiteitsbibliotheek.
___. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun. Yogyakarta: Gajahmada Press.

I La Galigo, Jilid I tahun 1995. Transliterasi dan terjemahan olah Muh. Salim dan Fachruddin A.E. KITLV dan Jambatan.
Kern. R.A. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun MD. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Koolhof, Sirtjo. 1995. Pengantar/ Pendahuluan dalam I La Galigo, Jilid I. Jakarta: Djambatan.
Mills, Roger F. 1975. Proto South Sulawesi and Proto Austronesian Phonology. Disertasi: University of Michigan.
Noordfuyn. 1992. "Variation in the Bugis and Makassarese Scripts" Paper for International Workshop of Indonesian Studies, Leiden.

Rahman, Nurhayati 1998. (disertasi). Pelayaran Sawerigading ke Tana Cina: Kajian Filologi dan Semiotik La Galigo. Jakarta: Universitas Indonesia.
Abdoussalam, Harith & Drs. R. 1971. Magie Dalam Agama Primitive & Hindu (Beberapa catatan Bibliography). Yogyakarta: Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Yogyakarta.

Adaus, Abdul Hafied. 1974. Seni Tari Klasik Bissu. Pangkep: Kantor Kebudayaan Kabupaten Pangkep.
Ali; Andi Muh. 1980. Arti dan Jenis Arajang. Watampone: Kantor P dan K Kabupaten Bone.
Badaruddin, Makmun; at.al.1980. Bissu dan Peralatannya. Ujung Pandang: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan.

Burhanuddin, BH., 1976. Zaman Hindu di Sulawesi (600- 1500 M), Kendari: Yayasan Karya Teknika.
Fauzi bin Haji Awang, Ustadz Mohd. 1971. Ugama- ugama Dunia. Kelantan: Malaysia: Pustaka Aman Press. (cet.2).
Fowler; James W. 1995. Teori perkembangan Kepercayaan. Kanisius, Yogyakarta.

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama (terjemahan Francisco Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius.
Gonggong, Anhar (1992). Abdul Qahar Muzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak.
Hafidy; H.M. As'ad El. 1982. Aliran- aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia. (Cetakan kedua).

Jumat, 26 September 2025