Sabtu, 22 Agustus 2026

Buku The Hundred Years War On Palestine

A History of Settler Colonialism and Resistance, 1917- 2017, in 2020
by Metropolitan Books.

Sejarah Perlawanan dan Kolonialisme Pemukim (1917- 2017)


Selama beberapa dekade Amer... Ser.. bersikap tidak konsisten, kadang berpura- pura mengakui keberadaan bangsa Palestina, kadang berusaha menghapus mereka dari peta Timur Tengah.

Terlepas dari sikapnya yang berubah- ubah, Amer... Ser... sebagai kekuatan imperial terbesar saat ini, bersama dengan pendahulunya, Ingg..., tidak pernah berhenti memberikan dukungan penuh kepada gerakan Zionis dan negara Isra.... Namun mereka berusaha melakukan hal yang mustahil: yakni memaksakan kolonialisme di Palestina pada era pascakolonial.

Sejak dulu, konfrontasi antara penjajah pemukim dan masyarakat pribumi hanya pernah berakhir dengan tiga cara: dengan pemusnahan atau penaklukan penuh penduduk asli, seperti di Amer... Utara; dengan kekalahan dan pengusiran penjajah, seperti di Aljazair ( yang sgy jarang terjadi); atau dengan pengakhiran supremasi kolonial melalui kompromi dan rekonsiliasi, seperti di Afrika Selatan, Zimbabwe dan Irlandia.

Pada kenyataannya, baik gerakan Zionis maupun negara Isra... selalu didukung oleh kekuatan besar: tentara Ingg... sebelum 1939; dukungan AS dan Soviet pada tahun 1947- 1948; Prancis dan Ingg... pada thun 1950- an dan 1960- an; dan sejak tahun 1970- an hingga kini, Isra... bukan hanya menerima dukungan tanpa batas dr Amer... Serik..., tetapi juga memiliki kekuatan militer yang jauh melampaui bangsa Palestina, bahkan melebihi kekuatan militer seluruh negara Arab digabung.

Setelah Perang Dunia I, penggeseran masyarakat pribumi Palestina dimulai dengan imigrasi besar- besaran pemukim Yahudi Eropa yang didukung oleh otoritas Mandat Ingg... yang baru dibentuk.

Pemerintah Ingg... membantu mereka membangun struktur otonom; negara bayangan Zionis. Pada pertengahan 1930-an, meskipun bangsa Yahudi secara keseluruhan masih merupakan minoritas, sektor otonom ini telah menjadi lebih besar dibandingkan sektor ekonomi yang dipegang oleh bangsa Arab.

Jumlah penduduk asli semakin berkurang akibat penindasan brutal terhadap Pemberontakan Arab tahun 1936- 1939 melawan pemerintahan Ingg..., dimana 14 hingga 17 persen populasi laki- laki dewasa tewas, terluka, dipenjara atau diasingkan.

Ingg... mengerahkan seratus ribu tentara serta kekuatan udara untuk menaklukkan perlawanan Palestina, sementara gelombang besar imigrasi Yahudi akibat rezim Nazi di Jerman meningkatkan populasi Yahudi di Palestina dari hanya 18 persen pada tahun 1932 menjadi lebih dari 31 persen pada tahun 1939. Ini memberi mereka kekuatan demografis dan militer yang diperlukan untuk pembersihan etnis Palestina tahun 1948.

Pengusiran lebih dari separuh penduduk Arab dari negeri itu- pertama oleh milisi Zionis dan kemudian oleh tentara Isr...- merupakan usaha pencapaian tujuan militer dan politik Zionisme.

Rekayasa sosial radikal semacam ini, dengan mengorbankan penduduk asli, adalah ciri umum dari gerakan kolonialisme pemukim.

Di Palestina, ini merupakan prasyarat mutlak untuk mengubah sebagian besar wilayah yang semula Arab menjadi negara yang mayoritas Yahudi.

Perang kolonial yang dilancarkan terhadap penduduk asli oleh berbagai pihak, untuk memaksa mereka menyerahkan tanah air mereka kepada bangsa lain yang datang dari luar.

Konflik tersebut sering digambarkan semata sebagai benturan nasional yang tragis namun sederhana, antara dua bangsa yang memiliki hak atas tanah yang sama. Konflik itu dijelaskan sebagai akibat dari kebencian fanatik dan mengakar bangsa Arab dan Muslim terhadap bangsa Yahudi, semata karena menegaskan hak mutlak atas tanah air abadi yang dianugerahkan Tuhan kepada mereka.

Tidak ada alasan untuk memahami apa yang terjadi di Palestina selama lebih dari satu abad ini selain sebagai konflik yang bersifat kolonial sekaligus nasional.

Sebagaimana lazimnya, para penjajah Eropa, baik di benua Amerika, Afrika, Asia, Australasia (maupun di Irlandia), selalu menggambarkan penduduk asli yang mereka berusaha gantikan atau dominasi dengan istilah- istilah yang merendahkan.

Mereka juga selalu mengeklaim bahwa kehidupan penduduk asli akan menjadi lebih baik berkat pemerintahan mereka; sifat " mencerdaskan" dan "progresif" proyek kolonial mereka dijadikan pembenaran atas kekejaman apa pun yang mereka lakukan terhadap penduduk asli.

Sebagai contoh adalah retorika para administrator Prancis di Afrika Utara atau para wakil raja Inggris di India.

Konflik yang timbul akibat proyek kolonial klasik bangsa Eropa abad ke- 19 di tanah non- Eropa ini, yang sejak tahun 1917 didukung oleh kekuatan imperialis Barat terbesar pada masanya, jarang digambarkan dengan lugas.

Mereka yang menganalisis bukan hanya upaya pemukiman Isr... di Yerusalem, Tepi Barat dan Dataran Tinggo Golan yang diduduki, tetapi juga seluruh proyek Zionis dari perspektif asal- usul dan sifat kolonialisme pemukimnya, sering kali dicap buruk.

Banyak yang tidak dapat menerima kontradiksi nyata bahwa meskipun Zionisme tidak dapat disangkal telah berhasil menciptakan entitas nasional yang berkembang di Isr..., akar gerakannya tetap merupakan proyek kolonialisme pemukiman (sebagaimana yang terjadi di wilayah- wilayah yang kemudian menjadi Amer... Ser..., Kanada, Australia dan Selandia Baru).

Mereka juga tidak dapat menerima kenyataan bahwa keberhasilan itu tidak akan mungkin tercapai tanpa dukungan kekuatan imperialis besar, seperti Brita... dan Amer... Ser.... Zionisme adalah sekaligus gerakan nasional dan gerakan kolonialisme pemukim.

Orang- orang Palestina beranggapan bahwa nasionalisme mereka murni dan berakar dari sejarah, sembari menolak anggapan yang sama dari bangsa Yahudi Isr...

Sebagian besar orang Palestina merupakan keturunan dari mereka yang telah hidup di tanah yang mereka anggap sebagai tanah airnya selama waktu yang sangat lama, berabad- abad, bahkan mungkin bermilenium- milenium.

Sebaliknya, sebagian besar orang Yahudi Isr... datang dari Eropa dan negara- negara Arab sebagai bagian dari proses kolonial yang disetujui dan dimediasi oleh kekuatan- kekuatan besar.

Tak seorang pun kini menyangkal entitas- entitas nasional yang telah sepenuhnya berkembang di negara- negara pemukim seperti Amer... Ser..., Kanada, Selandia Baru dan Australia yang meskipun semuanya berakar dari perang- perang kolonial yang memusnahkan penduduk pribumi.

Rabu, 19 Agustus 2026

Kalacakra dan Caraka Walik

Yamaraja - Jaramaya,
Yamarani - Niramaya,
Yasilapa - Palasiya,
Yamiroda - Daromiya,

Yamidosa - Sadomiya,
Yadayuda - Dayudaya,
Yasiyaca - Cayasiya,
Yasihama - Mahasiya


* Caraka Walik atau caraka sungsang,

"Nga ta ba ga ma"

"Nya ya ja da pa"

"La wa sa ta da"

 "Ka ra ca na ha"

Filosofi ilmu Kalacakra= kekuatan gaib yang merubah keburukan menjadi kebaikan.
Doa kepada Yang Maha Kuasa untuk mengubah kondisi buruk menjadi baik selama hidup dalam kekuasaan (Sang Kala).

Upaya membalik keadaan atau menundukkan.

Perisai pagaran gaib, melindungi dari gangguan makhluk halus dan memberikan perlindungan dari keburukan dalam kehidupan.

Banyak digunakan dalam ruwatan tradisi Jawa, membaca mantranya untuk melindungi dari ilmu gaib, mengusir makhluk halus dan mengubah keburukan menjadi kebaikan.

Rapalan mantra Kalacakra dengan makna yang dibalik menunjukkan transformasi dari kejahatan menjadi kebaikan.

Kamis, 09 Juli 2026

Buku Pararaton, Biografi Para Raja Singhasari- Majapahit

Buku Pararaton, Biografi Para Raja Singhasari- Majapahit
2023, Heri Purwanto
Cetakan I: Juli 2023

Pararaton adalah karya sastra berbentuk prosa (gañcaran) yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan, yaitu peralihan bahasa Jawa Kuno menuju Jawa Baru.

Berasal dari kata dasar ratu, yang dalam bahasa Jawa bermakna "raja atau pemimpin rakyat".

Pararaton dapat dimaknai sabagai "kisah para raja", khususnya raja- raja Dinasti Rājasa (Rājasawangśa) yang berkuasa di Kerajaan Tumapĕl (Singhasāri) dan Majapahit (Wilwatikta).

Nāgarakrtāgama adalah karya sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin, yang selesai disusun Mpu Prapañca pada 30 September 1365, era pemerintahan Srī Hayam Wuruk.
Naskah ini memiliki judul asli Deśawarnana.
Sarjana yang pertama kali meneliti dan menerjemahkan Pararaton, serta menerbitkannya dalam bentuk buku ialah Jan Laurens Andreas Brandes (lahir di Rotterdam, 13 Januari 1857).

Bataviaasch Genootschap (cikal bakal Museum Nasional).

Pada tahun 1913, N.J Krom menerbitkan teks- teks prasasti hasil penelitian J.L.A Brandes dalam buku Oud- Javaansche Oorkonden (OJO), serta pada tahun 1920 ia menerbitkan ulang buku Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapĕl en van Majapahit dengan sejumlah perbaikan.

Pararaton ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi). Peristiwa ini berselang tiga tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Śaka 1400 (1478 Masehi).
Dapat diperkirakan bahwa Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486.

Belum ada informasi siapakah pujangga yang pertama kali menyusun Pararaton. Sebenarnya ini tidaklah aneh karena pada umumnya naskah sastra berbahasa Jawa Pertengahan bersifat anonim.

Śrī Sañjaya disebut juga Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya. Dari prasasti Canggal diperoleh informasi bahwa kerajaan yang didirikan Sañjaya bernama Mĕdang, tetapi lazim disebut Mataram Kuno oleh para sejarawan.

Prasasti Mantyasih I menyebut nama leluhur Mĕdang sesudah Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya ialah Śrī Mahārāja Rakai Panangkaran.

Sañjaya merupakan anggota Dinasti Śailendra yang sebelum meninggal berwasiat kepada Rakai Panangkaran agar berpindah agama dari Śiwa menjadi Buddha. Dengan demikian, di Jawa Tengah kala itu tidak ada dua dinasti, melainkan satu dinasti yang kemudian terbagi dua karena perbedaan agama.

Cikal- bakal Dinasti Śailendra bernama Dapunta Selendra adalah penganut agama Śiwa yang memiliki keturunan bernama Sanna. Setelah Sanna meninggal, kerajaan terpecah- belah dan berhasil disatukan kembali oleh keponakannya yang bernama Sañjaya.

Kemudian setelah Sañjaya meninggal, penggantinya yang bernama Dyah Śangkhara, bergelar Rakai Panangkaran Śri Sanggrāmadhanañjaya, berpindah agama menjadi pengikut Buddha. Namun, masih ada keturunan Sañjaya lainnya yang tetap setia pd agama Śiwa.


Para Raja Jawa menurut sumber tradisional.
1. Kerajaan Mědang di Jawa Tengah
- Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya
- Rakai Panangkaran
- Rakai Panunggalan- Panaraban

- Rakai Warak Dyah Manara
- Dyah Gula
- Rakai Garung
- Rakai Pikatan Dyah Saladū

- Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla
- Dyah Tagwas
- Rake Panumwangan Dyah Dewendra

- Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra
- Rakai Watuhumalang Dyah Jĕbang
- Rakai Watukura Dyah Balitung

- Śrī Daksottama Bāhubajra
- Rakai Layang Dyah Tulodong
- Rakai Sumba Dyah Wawa

2. Kerajaan Mĕdang di Jawa Timur
- Pu Sindok Śrī Īśāna Wikramadharmottungga
- Śrī Īśanatunggawijaya

- Śrī Makutawangśawardhana
- Śrī Dharmawangśa Tĕguh

3. Kerajaan Wwatan Mas- Kahuripan- Daha
- Śrī Dharmawangśa Airlangga

4. Kerajaan Pangjalu
- Śrī Jitendrakara
- Śrī Bāmeśwara
- Śrī Mapañji Jayabhaya

- Śrī Sarweśwara
- Śrī Aryeśwara
- Śrī Kroñcāryadipa Gandra

- Śrī Kāmeśwara
- Śrī Krtajaya Srngga

5. Kerajaan Tumapěl
- Śrī Ranggah Rājasa
- Sang Anūsapati
- Sang Lineng Kubwan Agĕng

- Narārya Gunging Bhaya
- Narārya Tohjaya
- Narārya Smining Rāt Śrī Wisnuwardhana
- Narārya Mūrdhaja Śrī Krtanagara

6. Kerajaan Kadiri
- Śrī Jayakatyĕng

7. Kerajaan Majapahit
- Dyah Wijaya Śrī Krtarājasa Jayawardhana
- Śrī Jayanagara Śrī Sundarapāndyadewa
- Dyah Śrī Gītārjā Śrī Tribhuwanottunggadewī

- Dyah Hayam Wuruk Śrī Rājasanāgara
- Śrī Wikramawardhana dan Kusumawardhanī
- Aji Ratnapangkaja dan Dewī Suhitā
- Dyah Krtawijaya Śrī Wijayaparakramawardhana

- Dyah Wijayakumāra Śrī Rājasawardhana Sang Sināgara
- Dyah Sūryawikrama Bhrā Hyang Pūrwawiśesa
- Dyah Suraprabhāwa Śrī Singhawikramawardhana

8. Kerajaan Kĕling dan Daha
- Girīndrawardhana Dyah Wijayakusuma Śrī Singhawardhana
- Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya.

* Perkiraan lokasi kota- kota besar di Jawa pada era Majapahit
* Lampiran silsilah para raja dinasti Rajasa

Senin, 26 Januari 2026

Wisata Curug Purworejo

 1. Tiket masuk Curug Muncar

2
3.
4.
5.

6.

__

1. Tiket masuk Wisata Curug Gunung Putri

2.
3.

4.

5. Tebing curug
6.

7.

8.
9. Hutan Pinus

10.
11.































Kamis, 08 Januari 2026

Sejarah Vietnam

Sebelum Burma merdeka dari Inggris pada 1948, Indonesia dan Vietnam lebih dahulu menyatakan kemerdekaannya, yakni tahun 1945.

Indonesia harus menghadapi invasi Belanda saat revolusi kemerdekaan, Vietnam berhadapan dengan Prancis yang berambisi terus menancapkan pengaruh di negara Indochina tersebut.

Sebelum merdeka sebagai negara republik, Vietnam merupakan jajahan Prancis. Selama hampir 1 abad, kekuasaan Prancis bercokol di Vietnam. Kolonisasi ini diawali oleh sejumlah episode serbuan militer sejak pertengahan abad 19 hingga tahun 1883.

Prancis sebenarnya telah menanam pengaruh di Indochina sejak tahun 1600-an, tapi hanya untuk kepentingan misionaris, dagang atau campur tangan dipertikaian kerajaan lokal.

Keseriusan Prancis mencaplok Vietnam baru terlihat pada 1957, ketika Napoleon III memutuskan untuk menyerbu kota Da Nang (Tourane) dan kemudian Saigon. Kerajaan Dinasti Nguyen akhirnya terpaksa sepakat menerima perjanjian pada 1862 serta menyerahkan wilayahnya yang ditaklukkan Prancis.

Aneksasi terus berlanjut hingga pada 1867, Raja Tu Duc (kaisar keempat Dinasti Nguyen) harus merelakan Vietnam Selatan kepada Prancis. Koloni baru ini lantas disebut Cochinchina.

Invasi Prancis mencapai puncaknya saat Raja Tu Duc menyerah dan tak lama kemudian meninggal pada 19 Juli 1883. Tahun itu, seluruh Vietnam Utara (Tonkin) dan Vietnam Tengah (Annam) jatuh ke tangan Prancis.

Empat tahun berselang, Kamboja dan Laos pun menyusul. Namun, butuh waktu satu dekade sebelum pemerintahan kolonial Prancis di Indochina berjalan penuh pada 1897, yakni saat Paul Doumer menjabat gubernur jenderal.

Meski muncul sejumlah pemberontakan, terutama pada paruh awal abad 20, kekuasaan Prancis di Vietnam tidak tergoyahkan setidaknya hingga Perang Dunia II.

Prancis mulai kedodoran saat bala tentara Jepang merangsek ke kawasan Asia Tenggara. Pasukan Dai Nippon dengan mudah memasuki Vietnam karena penguasa kolonial Prancis mengizinkannya. Puluhan ribu tentara Jepang segera menyebar di Vietnam sejak Agustus 1940, sementara otoritas Prancis di Indochina memilih berdamai.

Momentum melemahnya pemerintahan kolonial Prancis selama Perang Dunia II dimanfaatkan oleh aktivis pergerakan di Vietnam untuk mempersiapkan kemerdekaan. Salah satu pentolan komunis Vietnam, Ho Chi Minh yang sempat bersembunyi di China dan Rusia kembali dari pelarian. Bersama kawan- kawannya di Partai Komunis Indochina, Ho Chi Minh mendirikan Viet Minh pada 1941.

Viet Minh (Liga Revolusioner untuk kemerdekaan Vietnam) segera meroket pengaruhnya. Mereka juga berhasil menghimpun ribuan milisi yang aktif bergerilya di Vietnam sejak 1943.

Peluang kebangkitan Viet Minh terbuka pada Maret 1945, ketika tentara Jepang secara mendadak melumpuhkan seluruh garnisun militer Prancis di Vietnam. Empat bulan berselang, petinggi Viet Minh segera menyadari bahwa kekuatan Jepang di Asia Pasifik sudah lumpuh.

Memasuki bulan Agustus 1945, revolusi kemerdekaan Vietnam meletup. Viet Minh secara terbuka menyatakan perang melawan Jepang per tanggal 10 Agustus.

Gerilyawan Viet Minh cepat bergerak sehingga berhasil merebut Hanoi pada 19 Agustus 1945. Tak butuh waktu lama, tepatnya tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh memproklamasikan Republik Demokratik Vietnam (DRV).

Negara baru ini berpusat di Hanoi dengan Ho Chi Minh sebagai presiden dan belakangan disebut sebagai Vietnam Utara. Deklarasi DRV tercatat dihadiri 500-an ribu massa yang menyambut pidato kemerdekaan Vietnam oleh Ho Chi Minh.

Deklarasi DRV dan proklamasi kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945 faktanya tidak diakui oleh Prancis. Pemerintah kolonial Prancis juga berani lebih agresif saat pasukan gurkha dikerahkan oleh Inggris untuk melucuti senjata tentara Jepang di Vietnam.

Bentrok senjata antara milisi Viet Minh dengan tentara Prancis pun tak terhindarkan. Perundingan sempat berkali- kali digelar, tetapi kedua kubu tetap berseteru.

Tidak ada titik temu karena Viet Minh menghendaki penyatuan Vietnam di bawah DRV, sedangkan Prancis bersikeras Chochincina (Vietnam Selatan) menjadi negara tersendiri. Prancis yang kembali merebut sebagian Vietnam, Laos dan Kamboja juga meminta DRV berada di bawah Uni Prancis.

Situasi semakin mendidih ketika Viet Minh resmi mengobarkan perang melawan Prancis. Deklarasi perang pada 19 Desember 1946 oleh kedua pihak lantas mengawali bentrok senjata panjang yang dikenal sebagai Perang Indochina 1.

Puncak ketegangan terjadi di tahun 1949. Tahun itu, Prancis membentuk negara boneka bernama Vietnam (States of Vietnam) dengan ibu kota di Saigon. Prancis menunjuk kaisar terakhir Dinasti Nguyen, Bao Dai untuk menjadi kepala negara tersebut.

Memasuki dekade 1950-an situasi semakin pelik karena dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat datang untuk menyokong Prancis. Dukungan dari China dan Uni Soviet mengalir buat Viet Minh. Soviet dan China resmi mengakui kemerdekaan DRV pada Januari 1950.

Perang Indochina 1 yang tidak kunjung berakhir mendorong Menlu Uni Soviet Vyacheslav Molotov menggulirkan wacana perdamaian di Vietnam.

Titik terang mulai terlihat setelah tentara Prancis tumbang dalam perang besar melawan pasukan Viet Minh di Dien Bhien Phu yang berlangsung pada Maret- Mei 1954. Kemenangan Viet Minh dalam perang Dien Bhien Phu membuka jalan bagi lahirnya kesepakatan dalam Konferensi Jenewa.

Tepatnya pada 20- 21 Juli 1954. Konferensi Jenewa melahirkan beberapa keputusan.
Adapun yang paling pokok diantaranya sebagai berikut:

1. Pemisahan Vietnam menjadi dua bagian, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, berdasarkan garis lintang utara 17 derajat. Selain itu, memberikan kemerdekaan kepada Kamboja dan Laos.

2. Mengadakan pemilu pada Juli 1956 untuk unifikasi Vietnam.

3. Memerintahkan militer kedua kubu kembali ke tempat asal masing- masing.

Keputusan Konferensi Jenewa tersebut memicu kemunculan negara Vietnam Selatan atau Republic of Vietnam (RVN). Cikal bakal republik ini adalah States of Vietnam yang berdiri pada 1949.

Referendum pada 1955 berujung pada penggulingan Bao Dai oleh eks perdana menteri Ngo Dinh Diem.

Namun, pemerintah Vietnam Selatan justru tidak mengakui kesepakatan dalam Konferensi Jenewa sehingga menolak agenda pemilu pada Juli 1956. Penolakan itu membuat konflik Vietnam Selatan vs Vietnam Utara menjadi tidak terelakkan dan pada akhirnya membangkitkan Perang Indochina II (Konrad G. Buhler: 71).

Perang Indochina II (Perang Vietnam) yang melibatkan Cina- Soviet dan AS itu berlangsung lama. Kemenangan kubu komunis (Vietnam Utara) pada 1975 dalam perang tersebut sekaligus menutup riwayat negara Vietnam Selatan.



tirto.id/sejarah-vietnam-selatan-riwayat-kemunculan-hingga-keruntuhan

Selasa, 16 Desember 2025

Kuasa Ramalan. Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785- 1855. Jilid 3

Judul Asli:
The Power of Prophecy;
Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785- 1855.

Penerjemah, Parakitri T. Simbolon
Hak Terjemahan bahasa Indonesia pada KPG

Peter Carey. 2012.
242 hlm


- Silsilah keluarga kesultanan Yogyakarta
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Danurejan
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Prawirodirjan

- Istri, keluarga dan anak- anak Pangeran Diponegoro
- Patih (perdana menteri) Yogyakarta dan Surakarta, 1755- 1879
- Pejabat tinggi dalam pemerintahan Yogyakarta, 1755- 1825

- Daftar pesanggrahan, pondok berburu dan tempat peristirahatan raja (Kelangenan- Dalem) di Yogyakarta yang dibangun oleh empat sultan pertama, 1755- 1822

- Daftar pesantren, pusat pengkajian hukum Islam (pathok negari) dan daerah bebas pajak untuk para ulama dan penjaga makam kerajaan (perdikan, pamutihan, juru kuncen) di Yogyakarta pra- 1832

- Daftar kiai, haji dan pemuka agama yang berhubungan dengan Diponegoro
- Daftar pangeran dan priayi Keraton Yogyakarta yang menunjukkan lahan pemilikan dan pensiun masing- masing, 1808- 1820, serta kesetiaan selama Perang Jawa

- Pejabat tinggi Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC), Pemerintah peralihan Inggris dan Pemerintah Hindia Belanda, 1780 - 1858
- Harga beras di Yogyakarta (1804- 1826) dan seluruh Jawa (1817- 1825)

- Daftar senjata pusaka Diponegoro
- Daftar pengikut Diponegoro di Manado, Juni 1830- Juni 1833
- Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

- Penanggalan Jawa dan Masehi 1785- 1855
- Penerimaan dari cukai gerbang jalan, candu dan pajak lain di Yogyakarta 1808- 1825
- Perbandingan nilai mata uang kertas dan logam yang beredar di Jawa pada 1811

- Pondok pesantren, pathok negari dan daerah perdikan kaum santri dan juru kunci pemakaman kerabat keraton Yogya sebelum 1832

* Makam Diponegoro di Makassar (1855- sekarang)
Wafat pada pagi buta, Senin 8 Januari 1855, Pangeran dikuburkan di Kampung Melayu, Makassar, sesuai kehendaknya, dekat kuburan putranya, Raden Mas Sarkumo (1834- Maret 1849).

Pada 1885, saat Raden Ayu Retnoningsih meninggal, jasad Pangeran dan putra keduanya konon dipindahkan dari halaman rumah Retnoningsih ke pemakaman umum Kampung Melayu.

Karena Pangeran dikuburkan bersama dengan keris pusakanya, Kanjeng Kiai Bondoyudo, sebenarnya dengan mudah bisa dicek dengan pendeteksi logam apakah jasad Pangeran ada di pemakaman itu.


* Gubernur- Jenderal, 1780- 1855

- Willem Arnold Alting > 1780- 1796
- Pieter Gerardus van Overstraten > 1796- 1801
- Johannes Siberg > 1801- 1805

- Albert Henricus Wiese > 1805- 1808
- Herman Willem Daendels > 1808- 1811
- Jan Willem Janssens > Mei - September 1811

- Gilbert Elliot Lord Minto > Agustus- Oktober 1811
- Thomas Stamford Raffles > 1811- 1816
- John Fendall > Maret - Agustus 1816

- Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen > 1816- 1826
- Leonard Pierre Joseph burggraaf du Bus de Gisignies > 1826- 1830

- Johannes van den Bosch > 1830- 1834
- Jean Chretien Baud > 1834- 1836
- Dominique Jacques de Eerens > 1836- 1840
meninggal semasa bertugas

- Pieter Merkus > 1841- 1844
meninggal semasa bertugas
- Jan Jacob Rochussen > 1845- 1851

- Albertus Jacobus Duymaer van Twist > 1851- 1856

Lord Minto adalah Gubernur- Jenderal India (1807- 1813).
Raja Willem I (bertakhta 1813- 1840).
Sistem tanam paksa (1830- 1870).
Perang Padri di Sumatra Barat (1821- 1837)


* Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

Surat aslinya ditulis pada kertas gubernemen dan ditemukan oleh seorang sarjana Belanda dan dosen dalam Bahasa Melayu dan Jawa di Akmil Breda, J. J. de Hollander (1817- 1886), di antara tumpukan surat- menyurat para bupati Jawa, komandan poa tentara dan pejabat Belanda yang berkaitan dengan Perang Jawa (1825- 1830) dalam arsip Akademi Militer Kerajaan di Breda.

De Hollander menerbitkannya dalam aksara Jawa dengan terjemahan Belandanya dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 25: 192- 6. Ia mempertahankan ejaan asli dan memasukkan banyak sekali koreksi dalam catatan kakinya yang tidak disertakan sekarang.


* Surat kepada Kolonel J. B. Clerens (1835)
Ditulis oleh Diponegoro dari Makassar pada 14 Desember 1835 kepada Mayor- Jenderal Jan Baptist Cleerens (1785- 1850). Perwira asal Nederland Selatan (pasca- 1830, Belgia) itulah (ketika itu kolonel) yang berunding dengan dia di Remokamal dan Kecawang, Bagelen utara (sekarang Banyumas), serta di Menoreh, Kedu selatan, Februari 1830 dan membujuk dia menemui Jenderal H. M. de Kock di Magelang pada 8 Maret 1830 tempat ia kemudian ditangkap, 28 Maret 1830.

Surat yang mungkin didiktekan oleh Diponegoro kepada juru- tulisnya, ditulis pada kertas gubernemen Belanda dengan tinta hitam dengan menggunakan mata pena dari lidi aren.

Berbeda dengan suratnya kepada para wali Hamengkubuwono V dan kebanyakan surat- suratnya yang ditulis di Makassar, surat tersebut memakai aksara Jawa, bukan aksara pegon. Sampul sutra kuning mencantumkan alamat dengan tulisan tangan yang berbeda karena memakai mata pena dari bulu burung.

Sampul maupun surat aslinya tersimpan di Arsip Nasional, Jakarta.

Selasa, 25 November 2025

Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Tim Hannigan

Judul asli
Raffles and the British Invasion of Java
2012

Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
419 halaman

Tanah Harapan
Helaan Napas Pertama di Timur
Kemenangan Gemilang
Seribu Pertanyaan Kecil

Pusat Kegelapan
Tanah Kemenangan Baru
Membuat Sejarah

Kerbau dan Harimau
Pemberontakan dan Mangga
Ratu Adil

Tim Hannigan ialah penulis dan jurnalis spesialis Indonesia dan anak benua India. Buku pertamanya, Murder in the Hindu Kush (The History Press, 2011), adalah biografi memikat penjelajah Inggris abad ke- 19 George Hayward. Buku itu menjadi salah satu nominasi peraih Boardman Tasker Prize 2011 di Inggris.

Buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa atau Raffles and the British Invasion of Java merupakan buku keduanya, dan meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, untuk kategori nonfiksi sejarah.

Peta pulau Jawa 1811- 1816
Peta Jawa Tengah 1811 - 1816

Di Jawa, keris, belati seremonial, merupakan yang paling kuat di antara berbagai benda keramat yg dapat dimiliki raja atau orang biasa.

Orang- orang yg menempa keris itu bukanlah pandai besi biasa, mereka juga dukun, yang mengetahui mantra dan jampi rahasia yang akan membuat besi tipis dan diukir itu dipenuhi dengan energi tak terlihat.

Terkadang, mereka menempa logam panas dengan tangan kosong. Ketika keris diturunkan dari generasi ke generasi, kekuatannya bertambah dan ada upacara pembersihan dan sesajen tahunan yang rumit yang harus dilakukan untuk membuatnya tetap aman.

Keris pusaka sungguhan bukan sekedar benda mati, keris itu dianggap bernyawa, memiliki nama sendiri dan jika tidak dirawat dengan benar, bisa menjadi tidak stabil dan berbahaya.

Dimasukkan ke dalam sarung yang dipakai dengan benar sesuai aturan Jawa, keris juga merupakan simbol jelas dan sandi rahasia untuk potensi kejantanan- begitu besar sehingga keris seorang laki- laki sebenarnya bisa menggantikannya di samping mempelai perempuan dalam pelaminan seremonial pada hari pernikahannya seandainya mempelai laki- laki berhalangan.

Tanpa kerisnya, seorang laki- laki Jawa secara spiritual menjadi tak jantan. Terakhir, keris juga merupakan senjata praktis dan alat utama pembunuhan dan eksekusi.

Dinasti Jawa kuno yang pertama kali terlihat jelas di catatan sejarah adalah Sailendra, Para Raja Gunung. Dinasti Sailendra beragama Buddha dan memerintah di suatu tempat di Kedu di sebelah barat Gunung Merapi sejak abad ke-8.

Pada waktu yang sama, dinasti lain, Sanjaya, berdiri di dekat tempat yang kemudian menjadi Yogyakarta, yang selalu mengandung kekuasaan. Para raja Sanjaya bukan pemeluk Buddha melainkan Hindu Siwa, dan merekalah yang membangun candi di Prambanan.

Tentu pernah terjadi perang antara kedua kerajaan itu, dan pada suatu masa, Sanjaya tampaknya menjadi bawahan Sailendra. Kemudian terjadi pemberontakan dan juga ada pernikahan antar kerajaan.

Tidak mengherankan jika Mackenzie tidak menemukan unsur Hindu di candi Sewu- tak seperti komplek Loro Jonggrang di dekatnya hampir dua kilometer ke arah selatan, karena Candi Seribu didedikasikan untuk agama Buddha, agama para besan kerajaan.

Kedua kerajaan dan kepercayaan itu kemudian tampak melebur dan jatuh di Jawa, tidak pernah lagi ada garis pembagian yang jelas antara Buddhisme dan Hinduisme. Pada akhir milenium pertama Masehi, pusat kekuasaan bergeser ke timur keluar Jawa Tengah, ke cekungan Sungai Brantas dekat Surabaya.

Kerajaan- kerajaan naik dengan singkat ke permukaan seperti gelembung mendidih di lava dalam kawah gunung api, seringkali bertahan hanya beberapa generasi sebelum pecah, dan kekuasaannya melompat untuk bangkit di tempat lain- Kahuripan, Janggala, Kediri, Singosari, dan akhirnya pada abad ke- 14, gelembung terbesar, Majapahit.

Ratusan halaman The History of Java berisi kumpulan menarik sejarah, antropologi dan desas- desus, satu wacana mengenai kesusasteraan Jawa, daftar candi, sejumput propaganda anti Belanda, dan seruan pembenaran diri yang frustasi.

Buku itu juga boleh dikata merupakan karya paling signifikan yang muncul dari ledakan penerbitan kecil sesudah penaklukan Jawa, dan untuk pertama kalinya menyajikan sejumlah gagasan mengenai sejarah Indonesia yang akan terus menyebar luas- dan terkadang merusak- sepanjang era kolonial dan sesudahnya.

Jelas, dengan segala urusan lain yg dia lakukan, Raffles sendiri tidak punya waktu untuk membersihkan candi dari tumbuhan rambat, dan dalam banyak hal, The History of Java hanya praktik besar plagiarisme yang diizinkan.

Meski buku itu berisi banyak klaim bahwa Belanda tidak berminat dengan sejarah dan budaya Jawa sebelum Inggris tiba, Raffles banyak menggunakan catatan dan naskah yang dia temukan di perpustakaan Buitenzorg; terjemahan yang disebut di catatan kaki hanyalah terjemahan dari terjemahan, dan dia terkadang menggunakan keahlian orang Belanda berpengalaman ketika berburu rincian budaya yang kurang jelas.

Namun yang lebih penting, Raffles menggunakan sepasukan pengganti Leyden untuk pekerjaan lapangan.

Buku The History of Java membuat dunia mengetahui banyak tempat lain juga, tumpukan batu pahat lain di lereng- lereng bukit: Candi Sukuh, Candi Prambanan, Candi Dieng dan Singosari, monumen- monumen epik yang dilupakan semua orang- kecuali tentunya orang- orang yg tinggal di sekitarnya sejak candi- candi itu didirikan.

Penyusunan daftar candi di Jawa akhirnya merupakan penaklukan Inggris yang paling ramah dan mengagumkan di Indonesia.

Borobudur. Para raja Sailendra membangunnya selama sekitar tujuh puluh tahun, dimulai sekitar tahun 780 M. Candi itu dirancang tanpa rencana awal, setiap generasi baru raja, arsitek dan tukang batu membangun melanjutkan apa yang dilakukan sebelumnya, sebelum akhirnya mencapai puncak terakhir.

Untuk apa bangunan itu sesungguhnya masih belum sepenuhnya jelas- tidak seperti candi Prambanan, Borobudur bukan benar- benar candi karena tidak ada ruang suci untuk tempat dewa dan berdoa.

Lebih mungkin, Borobudur merupakan tempat tujuan wisata pendidikan yang megah, para pengunjung mengelilingi tingkat- tingkatnya sesuai urutan dan mendaki semakin tinggi menuju pencerahan.