2023, Heri Purwanto
Cetakan I: Juli 2023
Pararaton adalah karya sastra berbentuk prosa (gañcaran) yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan, yaitu peralihan bahasa Jawa Kuno menuju Jawa Baru.
Berasal dari kata dasar ratu, yang dalam bahasa Jawa bermakna "raja atau pemimpin rakyat".
Pararaton dapat dimaknai sabagai "kisah para raja", khususnya raja- raja Dinasti Rājasa (Rājasawangśa) yang berkuasa di Kerajaan Tumapĕl (Singhasāri) dan Majapahit (Wilwatikta).
Nāgarakrtāgama adalah karya sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin, yang selesai disusun Mpu Prapañca pada 30 September 1365, era pemerintahan Srī Hayam Wuruk.
Naskah ini memiliki judul asli Deśawarnana.
Sarjana yang pertama kali meneliti dan menerjemahkan Pararaton, serta menerbitkannya dalam bentuk buku ialah Jan Laurens Andreas Brandes (lahir di Rotterdam, 13 Januari 1857).
Bataviaasch Genootschap (cikal bakal Museum Nasional).
Pada tahun 1913, N.J Krom menerbitkan teks- teks prasasti hasil penelitian J.L.A Brandes dalam buku Oud- Javaansche Oorkonden (OJO), serta pada tahun 1920 ia menerbitkan ulang buku Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapĕl en van Majapahit dengan sejumlah perbaikan.
Pararaton ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi). Peristiwa ini berselang tiga tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Śaka 1400 (1478 Masehi).
Dapat diperkirakan bahwa Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486.
Belum ada informasi siapakah pujangga yang pertama kali menyusun Pararaton. Sebenarnya ini tidaklah aneh karena pada umumnya naskah sastra berbahasa Jawa Pertengahan bersifat anonim.
Śrī Sañjaya disebut juga Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya. Dari prasasti Canggal diperoleh informasi bahwa kerajaan yang didirikan Sañjaya bernama Mĕdang, tetapi lazim disebut Mataram Kuno oleh para sejarawan.
Prasasti Mantyasih I menyebut nama leluhur Mĕdang sesudah Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya ialah Śrī Mahārāja Rakai Panangkaran.
Sañjaya merupakan anggota Dinasti Śailendra yang sebelum meninggal berwasiat kepada Rakai Panangkaran agar berpindah agama dari Śiwa menjadi Buddha. Dengan demikian, di Jawa Tengah kala itu tidak ada dua dinasti, melainkan satu dinasti yang kemudian terbagi dua karena perbedaan agama.
Cikal- bakal Dinasti Śailendra bernama Dapunta Selendra adalah penganut agama Śiwa yang memiliki keturunan bernama Sanna. Setelah Sanna meninggal, kerajaan terpecah- belah dan berhasil disatukan kembali oleh keponakannya yang bernama Sañjaya.
Kemudian setelah Sañjaya meninggal, penggantinya yang bernama Dyah Śangkhara, bergelar Rakai Panangkaran Śri Sanggrāmadhanañjaya, berpindah agama menjadi pengikut Buddha. Namun, masih ada keturunan Sañjaya lainnya yang tetap setia pd agama Śiwa.
Para Raja Jawa menurut sumber tradisional.
1. Kerajaan Mědang di Jawa Tengah
- Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya
- Rakai Panangkaran
- Rakai Panunggalan- Panaraban
- Rakai Warak Dyah Manara
- Dyah Gula
- Rakai Garung
- Rakai Pikatan Dyah Saladū
- Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla
- Dyah Tagwas
- Rake Panumwangan Dyah Dewendra
- Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra
- Rakai Watuhumalang Dyah Jĕbang
- Rakai Watukura Dyah Balitung
- Śrī Daksottama Bāhubajra
- Rakai Layang Dyah Tulodong
- Rakai Sumba Dyah Wawa
2. Kerajaan Mĕdang di Jawa Timur
- Pu Sindok Śrī Īśāna Wikramadharmottungga
- Śrī Īśanatunggawijaya
- Śrī Makutawangśawardhana
- Śrī Dharmawangśa Tĕguh
3. Kerajaan Wwatan Mas- Kahuripan- Daha
- Śrī Dharmawangśa Airlangga
4. Kerajaan Pangjalu
- Śrī Jitendrakara
- Śrī Bāmeśwara
- Śrī Mapañji Jayabhaya
- Śrī Sarweśwara
- Śrī Aryeśwara
- Śrī Kroñcāryadipa Gandra
- Śrī Kāmeśwara
- Śrī Krtajaya Srngga
5. Kerajaan Tumapěl
- Śrī Ranggah Rājasa
- Sang Anūsapati
- Sang Lineng Kubwan Agĕng
- Narārya Gunging Bhaya
- Narārya Tohjaya
- Narārya Smining Rāt Śrī Wisnuwardhana
- Narārya Mūrdhaja Śrī Krtanagara
6. Kerajaan Kadiri
- Śrī Jayakatyĕng
7. Kerajaan Majapahit
- Dyah Wijaya Śrī Krtarājasa Jayawardhana
- Śrī Jayanagara Śrī Sundarapāndyadewa
- Dyah Śrī Gītārjā Śrī Tribhuwanottunggadewī
- Dyah Hayam Wuruk Śrī Rājasanāgara
- Śrī Wikramawardhana dan Kusumawardhanī
- Aji Ratnapangkaja dan Dewī Suhitā
- Dyah Krtawijaya Śrī Wijayaparakramawardhana
- Dyah Wijayakumāra Śrī Rājasawardhana Sang Sināgara
- Dyah Sūryawikrama Bhrā Hyang Pūrwawiśesa
- Dyah Suraprabhāwa Śrī Singhawikramawardhana
8. Kerajaan Kĕling dan Daha
- Girīndrawardhana Dyah Wijayakusuma Śrī Singhawardhana
- Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya.
* Perkiraan lokasi kota- kota besar di Jawa pada era Majapahit
* Lampiran silsilah para raja dinasti Rajasa