Kamis, 09 Juli 2026

Buku Pararaton, Biografi Para Raja Singhasari- Majapahit

Buku Pararaton, Biografi Para Raja Singhasari- Majapahit
2023, Heri Purwanto
Cetakan I: Juli 2023

Pararaton adalah karya sastra berbentuk prosa (gañcaran) yang ditulis dalam bahasa Jawa Pertengahan, yaitu peralihan bahasa Jawa Kuno menuju Jawa Baru.

Berasal dari kata dasar ratu, yang dalam bahasa Jawa bermakna "raja atau pemimpin rakyat".

Pararaton dapat dimaknai sabagai "kisah para raja", khususnya raja- raja Dinasti Rājasa (Rājasawangśa) yang berkuasa di Kerajaan Tumapĕl (Singhasāri) dan Majapahit (Wilwatikta).

Nāgarakrtāgama adalah karya sastra Jawa Kuno berbentuk kakawin, yang selesai disusun Mpu Prapañca pada 30 September 1365, era pemerintahan Srī Hayam Wuruk.
Naskah ini memiliki judul asli Deśawarnana.
Sarjana yang pertama kali meneliti dan menerjemahkan Pararaton, serta menerbitkannya dalam bentuk buku ialah Jan Laurens Andreas Brandes (lahir di Rotterdam, 13 Januari 1857).

Bataviaasch Genootschap (cikal bakal Museum Nasional).

Pada tahun 1913, N.J Krom menerbitkan teks- teks prasasti hasil penelitian J.L.A Brandes dalam buku Oud- Javaansche Oorkonden (OJO), serta pada tahun 1920 ia menerbitkan ulang buku Pararaton (Ken Arok) of het Boek der Koningen van Tumapĕl en van Majapahit dengan sejumlah perbaikan.

Pararaton ditutup dengan peristiwa gunung meletus pada wuku Watugunung tahun Śaka 1403 (1481 Masehi). Peristiwa ini berselang tiga tahun setelah kematian seorang raja di istana Majapahit pada Śaka 1400 (1478 Masehi).
Dapat diperkirakan bahwa Pararaton disusun sesudah tahun 1481 dan sebelum tahun 1486.

Belum ada informasi siapakah pujangga yang pertama kali menyusun Pararaton. Sebenarnya ini tidaklah aneh karena pada umumnya naskah sastra berbahasa Jawa Pertengahan bersifat anonim.

Śrī Sañjaya disebut juga Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya. Dari prasasti Canggal diperoleh informasi bahwa kerajaan yang didirikan Sañjaya bernama Mĕdang, tetapi lazim disebut Mataram Kuno oleh para sejarawan.

Prasasti Mantyasih I menyebut nama leluhur Mĕdang sesudah Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya ialah Śrī Mahārāja Rakai Panangkaran.

Sañjaya merupakan anggota Dinasti Śailendra yang sebelum meninggal berwasiat kepada Rakai Panangkaran agar berpindah agama dari Śiwa menjadi Buddha. Dengan demikian, di Jawa Tengah kala itu tidak ada dua dinasti, melainkan satu dinasti yang kemudian terbagi dua karena perbedaan agama.

Cikal- bakal Dinasti Śailendra bernama Dapunta Selendra adalah penganut agama Śiwa yang memiliki keturunan bernama Sanna. Setelah Sanna meninggal, kerajaan terpecah- belah dan berhasil disatukan kembali oleh keponakannya yang bernama Sañjaya.

Kemudian setelah Sañjaya meninggal, penggantinya yang bernama Dyah Śangkhara, bergelar Rakai Panangkaran Śri Sanggrāmadhanañjaya, berpindah agama menjadi pengikut Buddha. Namun, masih ada keturunan Sañjaya lainnya yang tetap setia pd agama Śiwa.


Para Raja Jawa menurut sumber tradisional.
1. Kerajaan Mědang di Jawa Tengah
- Rakai Matarām Sang Ratu Sañjaya
- Rakai Panangkaran
- Rakai Panunggalan- Panaraban

- Rakai Warak Dyah Manara
- Dyah Gula
- Rakai Garung
- Rakai Pikatan Dyah Saladū

- Rakai Kayuwangi Dyah Lokapāla
- Dyah Tagwas
- Rake Panumwangan Dyah Dewendra

- Rakai Gurunwangi Dyah Bhadra
- Rakai Watuhumalang Dyah Jĕbang
- Rakai Watukura Dyah Balitung

- Śrī Daksottama Bāhubajra
- Rakai Layang Dyah Tulodong
- Rakai Sumba Dyah Wawa

2. Kerajaan Mĕdang di Jawa Timur
- Pu Sindok Śrī Īśāna Wikramadharmottungga
- Śrī Īśanatunggawijaya

- Śrī Makutawangśawardhana
- Śrī Dharmawangśa Tĕguh

3. Kerajaan Wwatan Mas- Kahuripan- Daha
- Śrī Dharmawangśa Airlangga

4. Kerajaan Pangjalu
- Śrī Jitendrakara
- Śrī Bāmeśwara
- Śrī Mapañji Jayabhaya

- Śrī Sarweśwara
- Śrī Aryeśwara
- Śrī Kroñcāryadipa Gandra

- Śrī Kāmeśwara
- Śrī Krtajaya Srngga

5. Kerajaan Tumapěl
- Śrī Ranggah Rājasa
- Sang Anūsapati
- Sang Lineng Kubwan Agĕng

- Narārya Gunging Bhaya
- Narārya Tohjaya
- Narārya Smining Rāt Śrī Wisnuwardhana
- Narārya Mūrdhaja Śrī Krtanagara

6. Kerajaan Kadiri
- Śrī Jayakatyĕng

7. Kerajaan Majapahit
- Dyah Wijaya Śrī Krtarājasa Jayawardhana
- Śrī Jayanagara Śrī Sundarapāndyadewa
- Dyah Śrī Gītārjā Śrī Tribhuwanottunggadewī

- Dyah Hayam Wuruk Śrī Rājasanāgara
- Śrī Wikramawardhana dan Kusumawardhanī
- Aji Ratnapangkaja dan Dewī Suhitā
- Dyah Krtawijaya Śrī Wijayaparakramawardhana

- Dyah Wijayakumāra Śrī Rājasawardhana Sang Sināgara
- Dyah Sūryawikrama Bhrā Hyang Pūrwawiśesa
- Dyah Suraprabhāwa Śrī Singhawikramawardhana

8. Kerajaan Kĕling dan Daha
- Girīndrawardhana Dyah Wijayakusuma Śrī Singhawardhana
- Girīndrawardhana Dyah Ranawijaya.

* Perkiraan lokasi kota- kota besar di Jawa pada era Majapahit
* Lampiran silsilah para raja dinasti Rajasa

Senin, 26 Januari 2026

Wisata Curug Purworejo

 1. Tiket masuk Curug Muncar

2
3.
4.
5.

6.

__

1. Tiket masuk Wisata Curug Gunung Putri

2.
3.

4.

5. Tebing curug
6.

7.

8.
9. Hutan Pinus

10.
11.































Kamis, 08 Januari 2026

Sejarah Vietnam

Sebelum Burma merdeka dari Inggris pada 1948, Indonesia dan Vietnam lebih dahulu menyatakan kemerdekaannya, yakni tahun 1945.

Indonesia harus menghadapi invasi Belanda saat revolusi kemerdekaan, Vietnam berhadapan dengan Prancis yang berambisi terus menancapkan pengaruh di negara Indochina tersebut.

Sebelum merdeka sebagai negara republik, Vietnam merupakan jajahan Prancis. Selama hampir 1 abad, kekuasaan Prancis bercokol di Vietnam. Kolonisasi ini diawali oleh sejumlah episode serbuan militer sejak pertengahan abad 19 hingga tahun 1883.

Prancis sebenarnya telah menanam pengaruh di Indochina sejak tahun 1600-an, tapi hanya untuk kepentingan misionaris, dagang atau campur tangan dipertikaian kerajaan lokal.

Keseriusan Prancis mencaplok Vietnam baru terlihat pada 1957, ketika Napoleon III memutuskan untuk menyerbu kota Da Nang (Tourane) dan kemudian Saigon. Kerajaan Dinasti Nguyen akhirnya terpaksa sepakat menerima perjanjian pada 1862 serta menyerahkan wilayahnya yang ditaklukkan Prancis.

Aneksasi terus berlanjut hingga pada 1867, Raja Tu Duc (kaisar keempat Dinasti Nguyen) harus merelakan Vietnam Selatan kepada Prancis. Koloni baru ini lantas disebut Cochinchina.

Invasi Prancis mencapai puncaknya saat Raja Tu Duc menyerah dan tak lama kemudian meninggal pada 19 Juli 1883. Tahun itu, seluruh Vietnam Utara (Tonkin) dan Vietnam Tengah (Annam) jatuh ke tangan Prancis.

Empat tahun berselang, Kamboja dan Laos pun menyusul. Namun, butuh waktu satu dekade sebelum pemerintahan kolonial Prancis di Indochina berjalan penuh pada 1897, yakni saat Paul Doumer menjabat gubernur jenderal.

Meski muncul sejumlah pemberontakan, terutama pada paruh awal abad 20, kekuasaan Prancis di Vietnam tidak tergoyahkan setidaknya hingga Perang Dunia II.

Prancis mulai kedodoran saat bala tentara Jepang merangsek ke kawasan Asia Tenggara. Pasukan Dai Nippon dengan mudah memasuki Vietnam karena penguasa kolonial Prancis mengizinkannya. Puluhan ribu tentara Jepang segera menyebar di Vietnam sejak Agustus 1940, sementara otoritas Prancis di Indochina memilih berdamai.

Momentum melemahnya pemerintahan kolonial Prancis selama Perang Dunia II dimanfaatkan oleh aktivis pergerakan di Vietnam untuk mempersiapkan kemerdekaan. Salah satu pentolan komunis Vietnam, Ho Chi Minh yang sempat bersembunyi di China dan Rusia kembali dari pelarian. Bersama kawan- kawannya di Partai Komunis Indochina, Ho Chi Minh mendirikan Viet Minh pada 1941.

Viet Minh (Liga Revolusioner untuk kemerdekaan Vietnam) segera meroket pengaruhnya. Mereka juga berhasil menghimpun ribuan milisi yang aktif bergerilya di Vietnam sejak 1943.

Peluang kebangkitan Viet Minh terbuka pada Maret 1945, ketika tentara Jepang secara mendadak melumpuhkan seluruh garnisun militer Prancis di Vietnam. Empat bulan berselang, petinggi Viet Minh segera menyadari bahwa kekuatan Jepang di Asia Pasifik sudah lumpuh.

Memasuki bulan Agustus 1945, revolusi kemerdekaan Vietnam meletup. Viet Minh secara terbuka menyatakan perang melawan Jepang per tanggal 10 Agustus.

Gerilyawan Viet Minh cepat bergerak sehingga berhasil merebut Hanoi pada 19 Agustus 1945. Tak butuh waktu lama, tepatnya tanggal 2 September 1945, Ho Chi Minh memproklamasikan Republik Demokratik Vietnam (DRV).

Negara baru ini berpusat di Hanoi dengan Ho Chi Minh sebagai presiden dan belakangan disebut sebagai Vietnam Utara. Deklarasi DRV tercatat dihadiri 500-an ribu massa yang menyambut pidato kemerdekaan Vietnam oleh Ho Chi Minh.

Deklarasi DRV dan proklamasi kemerdekaan Vietnam pada 2 September 1945 faktanya tidak diakui oleh Prancis. Pemerintah kolonial Prancis juga berani lebih agresif saat pasukan gurkha dikerahkan oleh Inggris untuk melucuti senjata tentara Jepang di Vietnam.

Bentrok senjata antara milisi Viet Minh dengan tentara Prancis pun tak terhindarkan. Perundingan sempat berkali- kali digelar, tetapi kedua kubu tetap berseteru.

Tidak ada titik temu karena Viet Minh menghendaki penyatuan Vietnam di bawah DRV, sedangkan Prancis bersikeras Chochincina (Vietnam Selatan) menjadi negara tersendiri. Prancis yang kembali merebut sebagian Vietnam, Laos dan Kamboja juga meminta DRV berada di bawah Uni Prancis.

Situasi semakin mendidih ketika Viet Minh resmi mengobarkan perang melawan Prancis. Deklarasi perang pada 19 Desember 1946 oleh kedua pihak lantas mengawali bentrok senjata panjang yang dikenal sebagai Perang Indochina 1.

Puncak ketegangan terjadi di tahun 1949. Tahun itu, Prancis membentuk negara boneka bernama Vietnam (States of Vietnam) dengan ibu kota di Saigon. Prancis menunjuk kaisar terakhir Dinasti Nguyen, Bao Dai untuk menjadi kepala negara tersebut.

Memasuki dekade 1950-an situasi semakin pelik karena dukungan militer dan politik dari Amerika Serikat datang untuk menyokong Prancis. Dukungan dari China dan Uni Soviet mengalir buat Viet Minh. Soviet dan China resmi mengakui kemerdekaan DRV pada Januari 1950.

Perang Indochina 1 yang tidak kunjung berakhir mendorong Menlu Uni Soviet Vyacheslav Molotov menggulirkan wacana perdamaian di Vietnam.

Titik terang mulai terlihat setelah tentara Prancis tumbang dalam perang besar melawan pasukan Viet Minh di Dien Bhien Phu yang berlangsung pada Maret- Mei 1954. Kemenangan Viet Minh dalam perang Dien Bhien Phu membuka jalan bagi lahirnya kesepakatan dalam Konferensi Jenewa.

Tepatnya pada 20- 21 Juli 1954. Konferensi Jenewa melahirkan beberapa keputusan.
Adapun yang paling pokok diantaranya sebagai berikut:

1. Pemisahan Vietnam menjadi dua bagian, Vietnam Utara dan Vietnam Selatan, berdasarkan garis lintang utara 17 derajat. Selain itu, memberikan kemerdekaan kepada Kamboja dan Laos.

2. Mengadakan pemilu pada Juli 1956 untuk unifikasi Vietnam.

3. Memerintahkan militer kedua kubu kembali ke tempat asal masing- masing.

Keputusan Konferensi Jenewa tersebut memicu kemunculan negara Vietnam Selatan atau Republic of Vietnam (RVN). Cikal bakal republik ini adalah States of Vietnam yang berdiri pada 1949.

Referendum pada 1955 berujung pada penggulingan Bao Dai oleh eks perdana menteri Ngo Dinh Diem.

Namun, pemerintah Vietnam Selatan justru tidak mengakui kesepakatan dalam Konferensi Jenewa sehingga menolak agenda pemilu pada Juli 1956. Penolakan itu membuat konflik Vietnam Selatan vs Vietnam Utara menjadi tidak terelakkan dan pada akhirnya membangkitkan Perang Indochina II (Konrad G. Buhler: 71).

Perang Indochina II (Perang Vietnam) yang melibatkan Cina- Soviet dan AS itu berlangsung lama. Kemenangan kubu komunis (Vietnam Utara) pada 1975 dalam perang tersebut sekaligus menutup riwayat negara Vietnam Selatan.



tirto.id/sejarah-vietnam-selatan-riwayat-kemunculan-hingga-keruntuhan