Minggu, 03 September 2023

Keraton Kartasura

Keraton yang didirikan oleh Amangkurat II pada 1680.
Berdirinya Keraton Kartasura bermula dari konflik yang terjadi antara Amangkurat II dengan Trunojoyo (bangsawan dari Madura).

Sebelumnya, Amangkurat II bekerja sama dengan Trunojoyo untuk menggulingkan pemerintahan Amangkurat I, ayah dari Amangkurat II dan menguasai Mataram.

Pada akhirnya, Plered berhasil dikuasai oleh Trunojoyo pada 2 Juli 1677.
Setelah saling bekerja sama, Amangkurat II kemudian justru berbalik melawan Trunojoyo dan melindungi ayahnya, Amangkurat I.

Amangkurat II dan Amangkurat I memutuskan kabur ke Tegal.
Di dalam pelariannya tersebut, Amangkurat I meninggal dunia pada 13 Juli 1677.
Pada akhirnya, Amangkurat II menjadi pemimpin Mataram pada 13 Juli 1677.

Untuk memadamkan pemberontakan Trunojoyo, Amangkurat II meminta bantuan kepada VOC (Kongsi Dagang Hindia Belanda)

Pada akhirnya dengan bantuan VOC, Amangkurat II berhasil menghentikan pemberontakan Trunojoyo pada 26 Desember 1679, Amangkurat II membunuh Trunojoyo pada 2 Januari 1680.

Setelah Trunojoyo wafat, Amangkurat II memerintah pasukannya untuk membangun keraton baru di daerah Kartasura (Keraton Kartasura).

Setelah keraton selesai dibangun, pada 11 September 1680, Amangkurat II secara resmi menempati keraton Kartasura dan memindahkan pusat pemerintahannya disana.

Keraton Kartasura mulai mengalami keruntuhan setelah peristiwa Geger Pecinan terjadi pada 1743.
Geger pecinan merupakan sebuah pemberontakan etnis Tionghoa di Batavia terhadap Belanda.

Saat Geger Pecinan terjadi, Kesultanan Mataram Islam sudah tidak lagi dipimpin oleh Amangkurat II, melainkan Pakubuwono II (anak dari Amangkurat IV).

Pada awalnya, Pakubowono II berpihak kepada kaum Tionghoa karena hubungannya dengan Belanda sedang tidak baik.
Namun setelah gagal menaklukkan Semarang pada awal tahun 1742, Pakubuwono II memutuskan untuk bersekutu kembali dengan Belanda, membuat etnis Tionghoa dan masyarakat Mataram merasa kecewa dan marah.

Mereka kemudian mengangkat Mas Garendi atau Sunan Kuning (cucu Amangkurat III) secara sepihak, sebagai Sultan Mataram menggantikan Pakubuwono II.

Mas Garendi yang bergelar Amangkurat V kemudian menyerbu Keraton Kartasura dan berhasil menguasainya pada 30 Juni 1742.
Pakubuwono II bersama dengan keluarganya terpaksa kabur ke Ponorogo.

Setelah Amangkurat V lengser dan pemberontakan mereda, Pakubuwono II kembali ke Kartasura pada November 1742.

Pemberontakan Amangkurat V menyebabkan istana dan Keraton Kartasura mengalami kerusakan, alhasil, Pakubuwono II memindahkan istananya ke desa Sala (Keraton Surakarta), dibangun pada 1744 dan mulai ditempati pada 1746.



kompas.com/stori/read/2023/05/31/080000279/sejarah-berdirinya-keraton-kartasura

Tidak ada komentar:

Posting Komentar