Selasa, 16 Desember 2025

Kuasa Ramalan. Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785- 1855. Jilid 3

Judul Asli:
The Power of Prophecy;
Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785- 1855.

Penerjemah, Parakitri T. Simbolon
Hak Terjemahan bahasa Indonesia pada KPG

Peter Carey. 2012.
242 hlm


- Silsilah keluarga kesultanan Yogyakarta
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Danurejan
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Prawirodirjan

- Istri, keluarga dan anak- anak Pangeran Diponegoro
- Patih (perdana menteri) Yogyakarta dan Surakarta, 1755- 1879
- Pejabat tinggi dalam pemerintahan Yogyakarta, 1755- 1825

- Daftar pesanggrahan, pondok berburu dan tempat peristirahatan raja (Kelangenan- Dalem) di Yogyakarta yang dibangun oleh empat sultan pertama, 1755- 1822

- Daftar pesantren, pusat pengkajian hukum Islam (pathok negari) dan daerah bebas pajak untuk para ulama dan penjaga makam kerajaan (perdikan, pamutihan, juru kuncen) di Yogyakarta pra- 1832

- Daftar kiai, haji dan pemuka agama yang berhubungan dengan Diponegoro
- Daftar pangeran dan priayi Keraton Yogyakarta yang menunjukkan lahan pemilikan dan pensiun masing- masing, 1808- 1820, serta kesetiaan selama Perang Jawa

- Pejabat tinggi Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC), Pemerintah peralihan Inggris dan Pemerintah Hindia Belanda, 1780 - 1858
- Harga beras di Yogyakarta (1804- 1826) dan seluruh Jawa (1817- 1825)

- Daftar senjata pusaka Diponegoro
- Daftar pengikut Diponegoro di Manado, Juni 1830- Juni 1833
- Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

- Penanggalan Jawa dan Masehi 1785- 1855
- Penerimaan dari cukai gerbang jalan, candu dan pajak lain di Yogyakarta 1808- 1825
- Perbandingan nilai mata uang kertas dan logam yang beredar di Jawa pada 1811

- Pondok pesantren, pathok negari dan daerah perdikan kaum santri dan juru kunci pemakaman kerabat keraton Yogya sebelum 1832

* Makam Diponegoro di Makassar (1855- sekarang)
Wafat pada pagi buta, Senin 8 Januari 1855, Pangeran dikuburkan di Kampung Melayu, Makassar, sesuai kehendaknya, dekat kuburan putranya, Raden Mas Sarkumo (1834- Maret 1849).

Pada 1885, saat Raden Ayu Retnoningsih meninggal, jasad Pangeran dan putra keduanya konon dipindahkan dari halaman rumah Retnoningsih ke pemakaman umum Kampung Melayu.

Karena Pangeran dikuburkan bersama dengan keris pusakanya, Kanjeng Kiai Bondoyudo, sebenarnya dengan mudah bisa dicek dengan pendeteksi logam apakah jasad Pangeran ada di pemakaman itu.


* Gubernur- Jenderal, 1780- 1855

- Willem Arnold Alting > 1780- 1796
- Pieter Gerardus van Overstraten > 1796- 1801
- Johannes Siberg > 1801- 1805

- Albert Henricus Wiese > 1805- 1808
- Herman Willem Daendels > 1808- 1811
- Jan Willem Janssens > Mei - September 1811

- Gilbert Elliot Lord Minto > Agustus- Oktober 1811
- Thomas Stamford Raffles > 1811- 1816
- John Fendall > Maret - Agustus 1816

- Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen > 1816- 1826
- Leonard Pierre Joseph burggraaf du Bus de Gisignies > 1826- 1830

- Johannes van den Bosch > 1830- 1834
- Jean Chretien Baud > 1834- 1836
- Dominique Jacques de Eerens > 1836- 1840
meninggal semasa bertugas

- Pieter Merkus > 1841- 1844
meninggal semasa bertugas
- Jan Jacob Rochussen > 1845- 1851

- Albertus Jacobus Duymaer van Twist > 1851- 1856

Lord Minto adalah Gubernur- Jenderal India (1807- 1813).
Raja Willem I (bertakhta 1813- 1840).
Sistem tanam paksa (1830- 1870).
Perang Padri di Sumatra Barat (1821- 1837)


* Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

Surat aslinya ditulis pada kertas gubernemen dan ditemukan oleh seorang sarjana Belanda dan dosen dalam Bahasa Melayu dan Jawa di Akmil Breda, J. J. de Hollander (1817- 1886), di antara tumpukan surat- menyurat para bupati Jawa, komandan poa tentara dan pejabat Belanda yang berkaitan dengan Perang Jawa (1825- 1830) dalam arsip Akademi Militer Kerajaan di Breda.

De Hollander menerbitkannya dalam aksara Jawa dengan terjemahan Belandanya dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 25: 192- 6. Ia mempertahankan ejaan asli dan memasukkan banyak sekali koreksi dalam catatan kakinya yang tidak disertakan sekarang.


* Surat kepada Kolonel J. B. Clerens (1835)
Ditulis oleh Diponegoro dari Makassar pada 14 Desember 1835 kepada Mayor- Jenderal Jan Baptist Cleerens (1785- 1850). Perwira asal Nederland Selatan (pasca- 1830, Belgia) itulah (ketika itu kolonel) yang berunding dengan dia di Remokamal dan Kecawang, Bagelen utara (sekarang Banyumas), serta di Menoreh, Kedu selatan, Februari 1830 dan membujuk dia menemui Jenderal H. M. de Kock di Magelang pada 8 Maret 1830 tempat ia kemudian ditangkap, 28 Maret 1830.

Surat yang mungkin didiktekan oleh Diponegoro kepada juru- tulisnya, ditulis pada kertas gubernemen Belanda dengan tinta hitam dengan menggunakan mata pena dari lidi aren.

Berbeda dengan suratnya kepada para wali Hamengkubuwono V dan kebanyakan surat- suratnya yang ditulis di Makassar, surat tersebut memakai aksara Jawa, bukan aksara pegon. Sampul sutra kuning mencantumkan alamat dengan tulisan tangan yang berbeda karena memakai mata pena dari bulu burung.

Sampul maupun surat aslinya tersimpan di Arsip Nasional, Jakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar