Selasa, 25 November 2025

Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Tim Hannigan

Judul asli
Raffles and the British Invasion of Java
2012

Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
419 halaman

Tanah Harapan
Helaan Napas Pertama di Timur
Kemenangan Gemilang
Seribu Pertanyaan Kecil

Pusat Kegelapan
Tanah Kemenangan Baru
Membuat Sejarah

Kerbau dan Harimau
Pemberontakan dan Mangga
Ratu Adil

Tim Hannigan ialah penulis dan jurnalis spesialis Indonesia dan anak benua India. Buku pertamanya, Murder in the Hindu Kush (The History Press, 2011), adalah biografi memikat penjelajah Inggris abad ke- 19 George Hayward. Buku itu menjadi salah satu nominasi peraih Boardman Tasker Prize 2011 di Inggris.

Buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa atau Raffles and the British Invasion of Java merupakan buku keduanya, dan meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, untuk kategori nonfiksi sejarah.

Peta pulau Jawa 1811- 1816
Peta Jawa Tengah 1811 - 1816

Di Jawa, keris, belati seremonial, merupakan yang paling kuat di antara berbagai benda keramat yg dapat dimiliki raja atau orang biasa.

Orang- orang yg menempa keris itu bukanlah pandai besi biasa, mereka juga dukun, yang mengetahui mantra dan jampi rahasia yang akan membuat besi tipis dan diukir itu dipenuhi dengan energi tak terlihat.

Terkadang, mereka menempa logam panas dengan tangan kosong. Ketika keris diturunkan dari generasi ke generasi, kekuatannya bertambah dan ada upacara pembersihan dan sesajen tahunan yang rumit yang harus dilakukan untuk membuatnya tetap aman.

Keris pusaka sungguhan bukan sekedar benda mati, keris itu dianggap bernyawa, memiliki nama sendiri dan jika tidak dirawat dengan benar, bisa menjadi tidak stabil dan berbahaya.

Dimasukkan ke dalam sarung yang dipakai dengan benar sesuai aturan Jawa, keris juga merupakan simbol jelas dan sandi rahasia untuk potensi kejantanan- begitu besar sehingga keris seorang laki- laki sebenarnya bisa menggantikannya di samping mempelai perempuan dalam pelaminan seremonial pada hari pernikahannya seandainya mempelai laki- laki berhalangan.

Tanpa kerisnya, seorang laki- laki Jawa secara spiritual menjadi tak jantan. Terakhir, keris juga merupakan senjata praktis dan alat utama pembunuhan dan eksekusi.

Dinasti Jawa kuno yang pertama kali terlihat jelas di catatan sejarah adalah Sailendra, Para Raja Gunung. Dinasti Sailendra beragama Buddha dan memerintah di suatu tempat di Kedu di sebelah barat Gunung Merapi sejak abad ke-8.

Pada waktu yang sama, dinasti lain, Sanjaya, berdiri di dekat tempat yang kemudian menjadi Yogyakarta, yang selalu mengandung kekuasaan. Para raja Sanjaya bukan pemeluk Buddha melainkan Hindu Siwa, dan merekalah yang membangun candi di Prambanan.

Tentu pernah terjadi perang antara kedua kerajaan itu, dan pada suatu masa, Sanjaya tampaknya menjadi bawahan Sailendra. Kemudian terjadi pemberontakan dan juga ada pernikahan antar kerajaan.

Tidak mengherankan jika Mackenzie tidak menemukan unsur Hindu di candi Sewu- tak seperti komplek Loro Jonggrang di dekatnya hampir dua kilometer ke arah selatan, karena Candi Seribu didedikasikan untuk agama Buddha, agama para besan kerajaan.

Kedua kerajaan dan kepercayaan itu kemudian tampak melebur dan jatuh di Jawa, tidak pernah lagi ada garis pembagian yang jelas antara Buddhisme dan Hinduisme. Pada akhir milenium pertama Masehi, pusat kekuasaan bergeser ke timur keluar Jawa Tengah, ke cekungan Sungai Brantas dekat Surabaya.

Kerajaan- kerajaan naik dengan singkat ke permukaan seperti gelembung mendidih di lava dalam kawah gunung api, seringkali bertahan hanya beberapa generasi sebelum pecah, dan kekuasaannya melompat untuk bangkit di tempat lain- Kahuripan, Janggala, Kediri, Singosari, dan akhirnya pada abad ke- 14, gelembung terbesar, Majapahit.

Ratusan halaman The History of Java berisi kumpulan menarik sejarah, antropologi dan desas- desus, satu wacana mengenai kesusasteraan Jawa, daftar candi, sejumput propaganda anti Belanda, dan seruan pembenaran diri yang frustasi.

Buku itu juga boleh dikata merupakan karya paling signifikan yang muncul dari ledakan penerbitan kecil sesudah penaklukan Jawa, dan untuk pertama kalinya menyajikan sejumlah gagasan mengenai sejarah Indonesia yang akan terus menyebar luas- dan terkadang merusak- sepanjang era kolonial dan sesudahnya.

Jelas, dengan segala urusan lain yg dia lakukan, Raffles sendiri tidak punya waktu untuk membersihkan candi dari tumbuhan rambat, dan dalam banyak hal, The History of Java hanya praktik besar plagiarisme yang diizinkan.

Meski buku itu berisi banyak klaim bahwa Belanda tidak berminat dengan sejarah dan budaya Jawa sebelum Inggris tiba, Raffles banyak menggunakan catatan dan naskah yang dia temukan di perpustakaan Buitenzorg; terjemahan yang disebut di catatan kaki hanyalah terjemahan dari terjemahan, dan dia terkadang menggunakan keahlian orang Belanda berpengalaman ketika berburu rincian budaya yang kurang jelas.

Namun yang lebih penting, Raffles menggunakan sepasukan pengganti Leyden untuk pekerjaan lapangan.

Buku The History of Java membuat dunia mengetahui banyak tempat lain juga, tumpukan batu pahat lain di lereng- lereng bukit: Candi Sukuh, Candi Prambanan, Candi Dieng dan Singosari, monumen- monumen epik yang dilupakan semua orang- kecuali tentunya orang- orang yg tinggal di sekitarnya sejak candi- candi itu didirikan.

Penyusunan daftar candi di Jawa akhirnya merupakan penaklukan Inggris yang paling ramah dan mengagumkan di Indonesia.

Borobudur. Para raja Sailendra membangunnya selama sekitar tujuh puluh tahun, dimulai sekitar tahun 780 M. Candi itu dirancang tanpa rencana awal, setiap generasi baru raja, arsitek dan tukang batu membangun melanjutkan apa yang dilakukan sebelumnya, sebelum akhirnya mencapai puncak terakhir.

Untuk apa bangunan itu sesungguhnya masih belum sepenuhnya jelas- tidak seperti candi Prambanan, Borobudur bukan benar- benar candi karena tidak ada ruang suci untuk tempat dewa dan berdoa.

Lebih mungkin, Borobudur merupakan tempat tujuan wisata pendidikan yang megah, para pengunjung mengelilingi tingkat- tingkatnya sesuai urutan dan mendaki semakin tinggi menuju pencerahan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar