Satu abad kemudian, orang- orang Islam telah menyeberangi barisan pegunungan di antara Prancis dan Spanyol dan menaklukkan wilayah- wilayah yang membentang dari India utara hingga Prancis selatan.
Dari tahun 750 dan seterusnya, wilayah Dinasti 'Abbasiyah dibentuk oleh pemerintahan dan kebudayaan Persia- Islam dan semakin bertambah dengan dukungan militer dari budak- budak Turki yang menjadi tentara.
Pada abad kesepuluh dan kesebelas, perpecahan politik yang menimpa Dinasti 'Abbasiyah yang hebat dengan pusatnya di Baghdad terus berlangsung.
Kondisi tersebut membantu munculnya kembali bangsa- bangsa Eropa di Mediterania timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol.
Tetangga dekat dunia Islam, Bizantium, berhasil melakukan penyerbuan ke utara Suriah pada akhir abad kesepuluh dan dalam waktu yang tidak lama menguasai kota- kota di negeri itu.
Selama abad- abad pertama kekuasaan kaum muslim, para peziarah Kristen dari Eropa biasanya bisa mengunjungi tempat- tempat suci agama mereka di Yerusalem dan Tanah Suci.
Mereka melakukan perjalanan lewat jalan darat melalui Balkan, Anatolia dan Suriah atau lewat jalur laut menuju Mesir atau Palestina.
Dengan demikian, berita tentang gaya hidul yang luar biasa dan tingginya kemajuan peradaban dunia Islam sampai ke Eropa.
Kabar tentang reputasi buruk seorang penguasa Islam tertentu- yakni khalifah keenam Dinasti Fatimiyah, al-Hakim- juga sampai ke Eropa.
Penyiksaan terhadap umat Kristen yang tinggal di wilayah kerajaannya, yang membentang hingga Suriah dan Palestina, mencapai puncaknya dengan penghancuran Gereja Makam Suci di Yerusalem pada 1009- 1010.
Tindakan- tindakan al-Hakim tersebut biasanya dianggap sebagai faktor pendorong meningkatnya keinginan kaum Kristen Eropa untuk melancarkan Perang Salib Pertama dan menyelamatkan apa yang mereka anggap sebagai tempat- tempat suci umat Kristen yang sedang berada dalam bahaya.
Pada paruh abad kesebelas, Suriah dan Palestina menjadi ajang pertarungan yang sengit antara bangsa Turki Saljuk yang menguasai dunia Islam timur dan Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Mesir.
Dinasti Fatimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah, menganut paham yang dicap haram oleh kaum muslim Sunni, terutama karena ideologi Fatimiyah- yang bertujuan dinamis dan ekspansionis- pada satu titik mengancam untuk menggulingkan Khalifah 'Abbasiyah yang bermazhab Sunni di Baghdad.
Turki Saljuk, yang belakangan memeluk agama Islam, menempatkan diri mereka sebagai pendukung Khalifah 'Abbasiyah dan Islam Sunni dan melancarkan perang berkepanjangan melawan Dinasti Fatimiyah.
Situasi politik di sekitar Anatolia (kini Turki) juga mengalami destabilisasi di masa ini, setelah Bizantium kehilangan wilayah penyangganya ke timur, yang dulunya berada di bawah kekuasaan Armenia, yang direbut oleh Turki Saljuk.
Pamor kekaisaran Bizantium mengalami pukulan hebat.
Mereka dikalahkan oleh bangsa Turki Saljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arslan dalam pertempuran di Manzikert (kadang dikenal juga sebagai Malazgird)
pada 1071.
Satu kelompok bangsa Turki di bawah pimpinan Sulayman bin Qutlumush, yang keturunan keluarga Saljuk, mendirikan negara kecil, pertama di Nicaea (Iznik) dan kemudian di Iconium (Konya), yang kemudian berkembang menjadi kesultanan Saljuk Rum (istilah kaum muslim untuk Bizantium).
Pada 1090, kaisar Bizantium Alexius Comnenus sekali lagi memohon kepada Eropa setelah ia mendengar tekanan Saljuk terhadap kaum Kristen Timur Dekat
Kepausan sendiri memiliki alasan sendiri yang mendorongnya untuk menyerang umat Islam.
Paus Urbanus II mengeluarkan maklumat penting pada 17 November 1095 di Clermont, dengan menyerukan umat Kristen agar berangkat membebaskan kota suci Yerusalem dari penindasan umat Islam.
Pada 1097, pasukan Kristen gabungan di bawah beberapa pimpinan berbagai kelompok kaum Eropa Barat telah tiba di Konstantinopel dan melakukan perjalanan darat menyeberangi Anatolia menuju Yerusalem.
Dimulailah rangkaian operasi militer yang dipelopori kaum Eropa barat melawan Islam Timur Dekat yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib.
Carole Hillenbrand, 1999, The Crusade; Islamic Perspectives, Edinburg: terbitan Edinburg University Press.
Serambi Ilmu Semesta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar