Novel "Edensor" karya Andrea Hirata
Novel Ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Hidup & nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, & sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan
Pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana & secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalamannya yang pendek mencerahka sepanjang hidup
Orang Melayu bekerja keras sepanjang hidup, membanting tulang-belulang, berkeringat darah, berlumur cobaan berat, siapa yang menyerah tak dapat tempat di hati mereka
Tabiat orang tak berhubungan dengan gelar yang disematkan kepadanya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih pada berapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri
"Murid-muridku berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol"
-Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu
Semakin lama semakin berkurang tantangannya. Pekerjaan itu tidak memberiku kelimpahan, tapi memberi keamanan finansial & kehidupan yang itu-itu saja, demikian gampang diramalkan kesudahannya
Aku terjamin secara sederhana, terlindung oleh sistem, stabil secara psikologis, mapan secara sosial, & semua itu membuatku bosan
Aku ingin mengarungi padang & gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, & menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!
Aku yang hidup sesuai dengan tuntunan Dasa Dharma Pramuka, taat pada perintah orangtua, selalu belajar dengan giat & tak lupa minum susu, jarang dapat melebihi nilai mereka
Aku sadar diri, dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apapun, tak secuil pun aku memenuhi kualifikasi
Bagi yang mudha yang punya Ghaya ... Rambathe Ratha Hayo! Singsingkanh lenganh bajuhh kalau kitah mau majuhh!!
Agen travel hanya cocok untuk para pensiunan. Perjalanannya tak dapat disebut sebagai penjelajahan. Kami tak mengharapkan perjalanan yang mudah. Kami ingin tantangan yang menggetarkan. Inilah esensi petualangan
-Ide-ide sinting memang selalu memiliki dua dimensi: dicemooh / diikuti orang-orang frustasi
-Karena kalian berani bermimpi. Mimpi-mimpi kalian menginspirasi
Aku selalu terobsesi pada tantangan tertinggi & cobaan sampai batas terendah aku dapat menoleransi daya tahanku
Mereka memberi makan para gelandangan, tanpa peduli gelandangan itu katolik, protestan, mormon, baptis, agnostik, atheis, budha, muslim, komunis, demokrat, republikan, homo, lesbian, transeks, hetero, atau penjahat
Jika ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah, tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak, membaca Al-quran, & berkelana - Ibunda guru Muslimah Hafsari
Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya
Ini adalah ekstase terbesar yang hanya mungkin dicapai mereka yang berani bermimpi, berani keluar dari cangkang siputnya, untuk menemukan jawaban pertanyaan atas dirinya.
Sabtu, 23 Desember 2017
Rabu, 13 Desember 2017
Mother
- Menemani saat khitan (kelas 5 SD)
- Mengajari doa iftitah sambil memasak air
- Melayani permintaan aneh-aneh saat makan
- Memberi uang Rp 500 berlembar-lembar untuk uang saku sekolah (kelas 4 SD)
- Mengajari mengenal huruf, mengeja, berhitung
- Ikut shalat tarawih di masjid sambil tidur
- Membantu menarik sepeda beroda tiga sambil menggunakan sepatu boot
- Numpang makan di kios pasar (kelas 6 SD)
-Terpaksa merantau meninggalkan kedua putranya yang masih kecil-kecil untuk menghidupi mereka, setelah ditinggal mati sang suami
-Berjuang untuk bisa hidup bersama putra pertamanya, karena akan diambil alih oleh saudara iparnya
Warga Banyuurip Dukuh Kembaran
Nala Gareng-Kis
Pak Dadi-Suyati
Suto
Tulas
Much. Ghorib-Suyatinah
Legirin-Sih
Kuter
Priyo Santosa-Sulis Sri Ambarnani(Anik)
Jum Bodong
Sutres
Naidok
Kentar
Wowar
Klungsu
Yuli-Parwoto
Medel
Murah Warni
Yanto-Suprih
Sukinah
Pariman
Sukiman
Zaenal
Agus Hermanto-Sri Wuri Handayani (Adam Kacu)
Jumadi-Satinem
Timbang
Wiyono-Gin
Dupung, Slamet luyung
Tumi
Sarilan
Ponidi
Sokinem (Tape-tape)
Terlan
Rapih
Diono - Parinem (Inem)
Pawit
Lelur
Genthong-Pawiro
Marno semir-Parni
Guthu
Mayusli-Ita Heni Astuti
Misino-Painah
Bambang Suryono
Batato (Martok
Ndari
Sugriwo-Painah
Slamet
Lusman
Jumiran-Asmarani
Tombir
Pardiyo-Prihatiningsih (Klarah)
Kacuk-Timek
Wardi
Minarni>Dian
Ari dele
Taruno
Sri
Karsih (Kinjenk Cewox)
Gimin
Njono
Hadi
Situm
Jaswan-Tri Astuti
Marwoto-Ngafiati Sunarsih (Bu Woto)
Lerep
Joko-Yanti
Tatok Sugiyono-Wahyutik < Jaminah
Nursinggih
Precil
Minuk-Kanthong
Semi
Ponirah-Kastono
Wasiyem
Dewi
Sarikem
Sukirno (Saring)-Sulistyanti
Wasito
Suyan
Sutar
Pak Dadi-Suyati
Suto
Tulas
Much. Ghorib-Suyatinah
Legirin-Sih
Kuter
Priyo Santosa-Sulis Sri Ambarnani(Anik)
Jum Bodong
Sutres
Naidok
Kentar
Wowar
Klungsu
Yuli-Parwoto
Medel
Murah Warni
Yanto-Suprih
Sukinah
Pariman
Sukiman
Zaenal
Agus Hermanto-Sri Wuri Handayani (Adam Kacu)
Jumadi-Satinem
Timbang
Wiyono-Gin
Dupung, Slamet luyung
Tumi
Sarilan
Ponidi
Sokinem (Tape-tape)
Terlan
Rapih
Diono - Parinem (Inem)
Pawit
Lelur
Genthong-Pawiro
Marno semir-Parni
Guthu
Mayusli-Ita Heni Astuti
Misino-Painah
Bambang Suryono
Batato (Martok
Ndari
Sugriwo-Painah
Slamet
Lusman
Jumiran-Asmarani
Tombir
Pardiyo-Prihatiningsih (Klarah)
Kacuk-Timek
Wardi
Minarni>Dian
Ari dele
Taruno
Sri
Karsih (Kinjenk Cewox)
Gimin
Njono
Hadi
Situm
Jaswan-Tri Astuti
Marwoto-Ngafiati Sunarsih (Bu Woto)
Lerep
Joko-Yanti
Tatok Sugiyono-Wahyutik < Jaminah
Nursinggih
Precil
Minuk-Kanthong
Semi
Ponirah-Kastono
Wasiyem
Dewi
Sarikem
Sukirno (Saring)-Sulistyanti
Wasito
Suyan
Sutar
Novel "Maryamah Karpov" - Andrea Hirata (II
Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Sebulan sudah aku di kampung, tanpa pekerjaan, berijazah universitas, maka profil demografiku dapat digambarkan seperti ini: pengangguran paling intelek di Pantai Timur Belitong. Sebab aku ini tak lebih dari jutaan orang muda berijazah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan
Betapa tak menyenangkan hidup menganggur. Berusia di atas dua puluh lima tahun, masih makan beras hasil jerih payah orangtua, masih berteduh di bawah atap rumah orangtua yang beranjak uzur, adalah bentuk penderitaan diam-diam
Aku telah mengambil hikmah dari beragam pengalaman pahit hidupku tapi nyaris tak ada hikmah apapun dari menganggur. Para penganggur bertempur setiap hari melawan rasa pesimis yang menggerogoti pelan-pelan waktu yang hampir habis, kesempatan yang kian tipis, saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, & harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang terlupakan
Mereka menyadari diri sebagai perantau & mendidik turunannya dengan mentalitas perantau: disiplin, efektif, keras
Hewan itu, demi Tuhan, kurang ajar betul. Jika diusir dengan sapu, masih sempat-sempatnya ia berkelat-kelit di antara kaki meja, tujuannya untuk mengumpulkan tenaga tekan & mencuri satu momen yang pas untuk menyemprotkan kotorannya di dalam rumah, lalu berkeok nyaring terbang melalui jendela seolah mengejek: terimalah itu! Tuan rumah pelit !
Tugasnya memasak aspal, memikul tongnya & mencurahkannya di jalan yang sedang dibuat. Ini pekerjaan kuli yang paling kuli. Karena pekerjaan ini tak memerlukan daya ingat, sekaligus daya pikir
Lelaki lemah lembut nan sering bermuran durja. Hobinya melamun sendiri. Berlama-lama duduk di lengan jembatan Linggang. Meski penampilannya gagah, kumisnya baplang & jambangnya panjang, lebar bahunya kukuh, dadanya bidang, tapi hatinya gemulai. Lelaki pendulang timah yang melankolik
Yang tak berjiwa perantau, kembali ke hutan & sungai, untuk berburu, berladang, berpindah-pindah demi mencari makan
-Kau tak pernah mengerti bahaya sebelum kaurasakan sendiri. Itulah watakmu!
-Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi
Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan & terbuang. Untuk mereka yang memilih hidup keras
Bergabunglah seribu pujangga melantunkan rima-rima cinta. bersatulah surya & awan-gemawan melukis megahnya angkasa. Bersekutulah angin empat musim mengarak halimun selat Malaka, tak satupun, tak satupun dapat menggambarkan indahnya perasaanku
-Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal yang baru!
Archimedes, Boi, ia dituduh gila, lalu dipenggal kepalanya oleh kopral balok satu Romawi,
Galileo dipaksa membaca tujuh mazmur pertobatan lantaran menentang bapak tua Aristoteles
Muhammad dilempai batu
Colombus terbirit-birit dipanah orang Indian
Mary Currie megap-megap kena radiasi
Faraday senewen keracunan merkuri
Gandhi ke penjara seperti ke jamban saja
Seseorang yang tak diinginkan tapi selalu datang, seseorang yang selalu ditampik tapi terus hadir, lambat laun menjadi seseorang yang diharapkan, dirindukan boleh jadi, begitulah tenaga dahsyat kebiasaan
-Seseorang yang menjadi sumber kekuatan terbesar adalah pula sumber kelemahan terbesar
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Sebulan sudah aku di kampung, tanpa pekerjaan, berijazah universitas, maka profil demografiku dapat digambarkan seperti ini: pengangguran paling intelek di Pantai Timur Belitong. Sebab aku ini tak lebih dari jutaan orang muda berijazah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan
Betapa tak menyenangkan hidup menganggur. Berusia di atas dua puluh lima tahun, masih makan beras hasil jerih payah orangtua, masih berteduh di bawah atap rumah orangtua yang beranjak uzur, adalah bentuk penderitaan diam-diam
Aku telah mengambil hikmah dari beragam pengalaman pahit hidupku tapi nyaris tak ada hikmah apapun dari menganggur. Para penganggur bertempur setiap hari melawan rasa pesimis yang menggerogoti pelan-pelan waktu yang hampir habis, kesempatan yang kian tipis, saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, & harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang terlupakan
Mereka menyadari diri sebagai perantau & mendidik turunannya dengan mentalitas perantau: disiplin, efektif, keras
Hewan itu, demi Tuhan, kurang ajar betul. Jika diusir dengan sapu, masih sempat-sempatnya ia berkelat-kelit di antara kaki meja, tujuannya untuk mengumpulkan tenaga tekan & mencuri satu momen yang pas untuk menyemprotkan kotorannya di dalam rumah, lalu berkeok nyaring terbang melalui jendela seolah mengejek: terimalah itu! Tuan rumah pelit !
Tugasnya memasak aspal, memikul tongnya & mencurahkannya di jalan yang sedang dibuat. Ini pekerjaan kuli yang paling kuli. Karena pekerjaan ini tak memerlukan daya ingat, sekaligus daya pikir
Lelaki lemah lembut nan sering bermuran durja. Hobinya melamun sendiri. Berlama-lama duduk di lengan jembatan Linggang. Meski penampilannya gagah, kumisnya baplang & jambangnya panjang, lebar bahunya kukuh, dadanya bidang, tapi hatinya gemulai. Lelaki pendulang timah yang melankolik
Yang tak berjiwa perantau, kembali ke hutan & sungai, untuk berburu, berladang, berpindah-pindah demi mencari makan
-Kau tak pernah mengerti bahaya sebelum kaurasakan sendiri. Itulah watakmu!
-Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi
Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan & terbuang. Untuk mereka yang memilih hidup keras
Bergabunglah seribu pujangga melantunkan rima-rima cinta. bersatulah surya & awan-gemawan melukis megahnya angkasa. Bersekutulah angin empat musim mengarak halimun selat Malaka, tak satupun, tak satupun dapat menggambarkan indahnya perasaanku
-Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal yang baru!
Archimedes, Boi, ia dituduh gila, lalu dipenggal kepalanya oleh kopral balok satu Romawi,
Galileo dipaksa membaca tujuh mazmur pertobatan lantaran menentang bapak tua Aristoteles
Muhammad dilempai batu
Colombus terbirit-birit dipanah orang Indian
Mary Currie megap-megap kena radiasi
Faraday senewen keracunan merkuri
Gandhi ke penjara seperti ke jamban saja
Seseorang yang tak diinginkan tapi selalu datang, seseorang yang selalu ditampik tapi terus hadir, lambat laun menjadi seseorang yang diharapkan, dirindukan boleh jadi, begitulah tenaga dahsyat kebiasaan
-Seseorang yang menjadi sumber kekuatan terbesar adalah pula sumber kelemahan terbesar
Novel "Maryamah Karpov" - Andrea Hirata (I
Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembarpun ijazah. Kata-kata itu asing & ganjil di telinganya. Bagi ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta
Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah
Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan. Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri
Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku
Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikkan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani
Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, memunguti kerang, mengais untuk makan
Aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?
Beberapa pria sangar menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar, yang tersenyum baik, bajunya bersih, rapi, gaya rambut belah samping, & lebih mirip guru Pendidikan Moral Pancasila di sebuah SD Inpres- tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia menawariku tiket dengan harga empat kali lipat lebih mahal
Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh
-Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan menjadi kawakan tiada banding
Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana
Para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapapun yang mendekat
-Pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan belok kiri
Rupanya segenggam cinta yang setia takkan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang cinta, takkan pernah cukup dibagi-bagi
Rautnya santun & agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orangtua
Tempat ini bak miniatur nirwana, eksotika tropikana, Tanah Air kata jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku
Susah jadi politisi, kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang
-Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupak. Itu pepatah Melayu Purba
Begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan & pemberontakan-pemberontakan, tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup serba susah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, tak mau dibantu siapapun
Ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka mengacau saja
-Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta !
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembarpun ijazah. Kata-kata itu asing & ganjil di telinganya. Bagi ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta
Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah
Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan. Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri
Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku
Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikkan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani
Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, memunguti kerang, mengais untuk makan
Aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?
Beberapa pria sangar menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar, yang tersenyum baik, bajunya bersih, rapi, gaya rambut belah samping, & lebih mirip guru Pendidikan Moral Pancasila di sebuah SD Inpres- tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia menawariku tiket dengan harga empat kali lipat lebih mahal
Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh
-Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan menjadi kawakan tiada banding
Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana
Para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapapun yang mendekat
-Pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan belok kiri
Rupanya segenggam cinta yang setia takkan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang cinta, takkan pernah cukup dibagi-bagi
Rautnya santun & agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orangtua
Tempat ini bak miniatur nirwana, eksotika tropikana, Tanah Air kata jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku
Susah jadi politisi, kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang
-Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupak. Itu pepatah Melayu Purba
Begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan & pemberontakan-pemberontakan, tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup serba susah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, tak mau dibantu siapapun
Ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka mengacau saja
-Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta !
KITAB EPOS "MAHABHARATA" - C. Rajagopalachari
Kitab Epos "Mahabharata" karya C. Rajagopalachari
Penerbit IRCiSoD
PERANG BHARATAYUDHA
* MAHASENAPATI KURAWA
1. Bhisma
Mati pada akhir hari ke-10
Seluruh badan tertembus panah -- Srikandi & Arjuna
2. Durna
Memimpin selama 5 hari
Ditebas kepalanya -- Dristadyumna
Dibunuh saat telah kehilangan hasrat hidup, membuang senjatanya & duduk bersemedi di atas kereta
3. Karna
Mati pada akhir hari ke-17
Dipanah, mengenai & melukai kepalanya -- Arjuna
Krishna yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur
karena terperosok
4. Raja Salya
Memimpin sampai hari terakhir peperangan
Ditombak oleh Yudhistira
5. Aswatama
Dristadyumna == Mahasenapati Pandawa
dibunuh saat tidur lelap oleh Aswatama
Perang terjadi di medan Kurusetra
* PANJI-PANJI PERANG
- Bhisma = panji-panji bergambar pohon palem & 5 bintang
- Aswatama = berlambang singa
- Durna = berlambang mangkuk pandita & busur panah warna kuning keemasan
- Duryudana = panji-panji ular kobra
- Abimanyu = panji-panji berlambang pohon karnikara keemasan
- Arjuna = panji-panji Hanoman
* NAMA-NAMA
- Yudhistira = Dharmaputra
- Bima = Bimasena
- Karna = Radheya
- Arjuna = Dananjaya, Palguna, Partha
- Krishna = Wasudewa, Madhawa, Madhusudana, Kesawa, Janardana, Pradyumna
* Formasi perang Bharatayudha
H-1 = Pandawa - Formasi jarum
H-3 = Pandawa - Formasi bulan sabit
Kurawa - Formasi burung garuda
H-6 = Pandawa - Formasi makara (ikan raksasa dengan kepala bertanduk)
Kurawa - Formasi krauncha (burung bangau)
H-7 = Pandawa - Formasi wajrawyuha (halilintar)
H-8 = Pandawa - Formasi trisuda (tombak bermata 3)
Kurawa - Formasi kura-kura (kurmawyuha)
Sumpah Karna:
Selama engkau memimpin bala tentara Kurawa, aku tidak akan angkat senjata. Jika engkau bisa membunuh Pandawa & membawa kemenangan bagi Kurawa, aku akan ikut senang. Aku akan meninggalkan istana & dunia ramai untuk bertapa. Tapi jika engkau tewas, aku -yang engkau katakan bukan anak sais kereta - akan memacu keretaku & bertempur melawan orang-orang yang engkau anggap lebih mumpuni dalam olah senjata daripada aku. Aku akan kalahkan mereka & membawa kemenangan untuk Duryudana
Sumpah Arjuna:
Sebelum matahari terbenam, aku akan bunuh Jayadrata (Raja Sindu) yang menyebabkan kematian putraku. Jika Durna & Kripa menghalangiku, akan kuunuh kedua mahaguru itu
Sumpah Arjuna II:
Para kesatria yang kuhormati, aku telah bersumpah untuk melindungi semua sahabatku yang ada dalam jarak sebidikan anak panahku. Aku tidak akan membiarkan sahabatku mati di tangan musuh.
Tentang kematian Mahaguru Durna
Tidak ada yang bisa mengalahkan Durna, jika kita menurut secara kaku pada tata krama perang. Kita hanya bisa mengalahkannya jika kita menanggalkan dharma. kita tidak punya pilihan lain. Ada satu hal yang bisa membuatnya berhenti berperang. Jika dia mendengar Aswatama tewas, dia akan kehilangan semangat hidup & membuang senjatanya. Harus ada orang yang mengatakan bahwa Aswatama tewas
*KEMATIAN-KEMATIAN TOKOH
- Abimanyu = Dikeroyok para kesatria Kurawa
- Gatotkaca = Ditombak Karna (senjata pemberian Batara Indra)
- Dursasana = Berkelahi dengan Bima
- Sengkuni = Terpanah tepat mengenai leher oleh Sadewa
- Burisrawa = Ditebas lehernya oleh Satyaki (saat sedang bersemedi di atas tumpukan anak panah)
- Krishna & bangsa-bangsanya kena kutuk dari sang Resi
- Destrarata, Gandari, Kunti = Pergi ke hutan & meninggal ditelan kobaran api di hutan
Raja Dasarata+Dewi Kaikeyi = Bharata
Raja Sentanu+Dewi Gangga = Dewabrata (Bhisma)
Raja Sentanu+Setyawati = Citranggada
Wicitrawirya+Ambika = Destrarata
Destrarata+Gandari = Kurawa
Wicitrawirya+Ambalika = Pandu
Pandu+Kunti = Yudhistira, Bima, Arjuna
Arjuna+Subadra = Abimanyu
Abimanyu+Uttari = Parikesit
Pandu+Madri = Nakula & Sadewa
Penerbit IRCiSoD
PERANG BHARATAYUDHA
* MAHASENAPATI KURAWA
1. Bhisma
Mati pada akhir hari ke-10
Seluruh badan tertembus panah -- Srikandi & Arjuna
2. Durna
Memimpin selama 5 hari
Ditebas kepalanya -- Dristadyumna
Dibunuh saat telah kehilangan hasrat hidup, membuang senjatanya & duduk bersemedi di atas kereta
3. Karna
Mati pada akhir hari ke-17
Dipanah, mengenai & melukai kepalanya -- Arjuna
Krishna yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur
karena terperosok
4. Raja Salya
Memimpin sampai hari terakhir peperangan
Ditombak oleh Yudhistira
5. Aswatama
Dristadyumna == Mahasenapati Pandawa
dibunuh saat tidur lelap oleh Aswatama
Perang terjadi di medan Kurusetra
* PANJI-PANJI PERANG
- Bhisma = panji-panji bergambar pohon palem & 5 bintang
- Aswatama = berlambang singa
- Durna = berlambang mangkuk pandita & busur panah warna kuning keemasan
- Duryudana = panji-panji ular kobra
- Abimanyu = panji-panji berlambang pohon karnikara keemasan
- Arjuna = panji-panji Hanoman
* NAMA-NAMA
- Yudhistira = Dharmaputra
- Bima = Bimasena
- Karna = Radheya
- Arjuna = Dananjaya, Palguna, Partha
- Krishna = Wasudewa, Madhawa, Madhusudana, Kesawa, Janardana, Pradyumna
* Formasi perang Bharatayudha
H-1 = Pandawa - Formasi jarum
H-3 = Pandawa - Formasi bulan sabit
Kurawa - Formasi burung garuda
H-6 = Pandawa - Formasi makara (ikan raksasa dengan kepala bertanduk)
Kurawa - Formasi krauncha (burung bangau)
H-7 = Pandawa - Formasi wajrawyuha (halilintar)
H-8 = Pandawa - Formasi trisuda (tombak bermata 3)
Kurawa - Formasi kura-kura (kurmawyuha)
Sumpah Karna:
Selama engkau memimpin bala tentara Kurawa, aku tidak akan angkat senjata. Jika engkau bisa membunuh Pandawa & membawa kemenangan bagi Kurawa, aku akan ikut senang. Aku akan meninggalkan istana & dunia ramai untuk bertapa. Tapi jika engkau tewas, aku -yang engkau katakan bukan anak sais kereta - akan memacu keretaku & bertempur melawan orang-orang yang engkau anggap lebih mumpuni dalam olah senjata daripada aku. Aku akan kalahkan mereka & membawa kemenangan untuk Duryudana
Sumpah Arjuna:
Sebelum matahari terbenam, aku akan bunuh Jayadrata (Raja Sindu) yang menyebabkan kematian putraku. Jika Durna & Kripa menghalangiku, akan kuunuh kedua mahaguru itu
Sumpah Arjuna II:
Para kesatria yang kuhormati, aku telah bersumpah untuk melindungi semua sahabatku yang ada dalam jarak sebidikan anak panahku. Aku tidak akan membiarkan sahabatku mati di tangan musuh.
Tentang kematian Mahaguru Durna
Tidak ada yang bisa mengalahkan Durna, jika kita menurut secara kaku pada tata krama perang. Kita hanya bisa mengalahkannya jika kita menanggalkan dharma. kita tidak punya pilihan lain. Ada satu hal yang bisa membuatnya berhenti berperang. Jika dia mendengar Aswatama tewas, dia akan kehilangan semangat hidup & membuang senjatanya. Harus ada orang yang mengatakan bahwa Aswatama tewas
*KEMATIAN-KEMATIAN TOKOH
- Abimanyu = Dikeroyok para kesatria Kurawa
- Gatotkaca = Ditombak Karna (senjata pemberian Batara Indra)
- Dursasana = Berkelahi dengan Bima
- Sengkuni = Terpanah tepat mengenai leher oleh Sadewa
- Burisrawa = Ditebas lehernya oleh Satyaki (saat sedang bersemedi di atas tumpukan anak panah)
- Krishna & bangsa-bangsanya kena kutuk dari sang Resi
- Destrarata, Gandari, Kunti = Pergi ke hutan & meninggal ditelan kobaran api di hutan
Raja Dasarata+Dewi Kaikeyi = Bharata
Raja Sentanu+Dewi Gangga = Dewabrata (Bhisma)
Raja Sentanu+Setyawati = Citranggada
Wicitrawirya+Ambika = Destrarata
Destrarata+Gandari = Kurawa
Wicitrawirya+Ambalika = Pandu
Pandu+Kunti = Yudhistira, Bima, Arjuna
Arjuna+Subadra = Abimanyu
Abimanyu+Uttari = Parikesit
Pandu+Madri = Nakula & Sadewa
Character
Berpendirian keras
Berani & Nekad
Otak licik & Penuh tipu muslihat
Pemberontak
Senang Berkelana
Senang mencoba hal baru
Selalu ingin berbeda
Pendiam
Pemalu
Pemurung
Minder
Cuek
_Des 2017
Berani & Nekad
Otak licik & Penuh tipu muslihat
Pemberontak
Senang Berkelana
Senang mencoba hal baru
Selalu ingin berbeda
Pendiam
Pemalu
Pemurung
Minder
Cuek
_Des 2017
Langganan:
Komentar (Atom)