Rabu, 13 Desember 2017

Novel "Maryamah Karpov" - Andrea Hirata (I

Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang

Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembarpun ijazah. Kata-kata itu asing & ganjil di telinganya. Bagi ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta

Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah

Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan. Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri

Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku

Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikkan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani

Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, memunguti kerang, mengais untuk makan

Aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?

Beberapa pria sangar menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar, yang tersenyum baik, bajunya bersih, rapi, gaya rambut belah samping, & lebih mirip guru Pendidikan Moral Pancasila di sebuah SD Inpres- tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia menawariku tiket dengan harga  empat kali lipat lebih mahal

Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh

-Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan menjadi kawakan tiada banding

Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana

Para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapapun yang mendekat

-Pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan belok kiri

Rupanya segenggam cinta yang setia takkan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang cinta, takkan pernah cukup dibagi-bagi

Rautnya santun & agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orangtua

Tempat ini bak miniatur nirwana, eksotika tropikana, Tanah Air kata jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku

Susah jadi politisi, kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang

-Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupak. Itu pepatah Melayu Purba

Begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan & pemberontakan-pemberontakan, tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup serba susah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, tak mau dibantu siapapun

Ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka mengacau saja

-Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar