Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang
Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembarpun ijazah. Kata-kata itu asing & ganjil di telinganya. Bagi ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta
Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah
Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan. Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri
Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku
Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikkan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani
Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, memunguti kerang, mengais untuk makan
Aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?
Beberapa pria sangar menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar, yang tersenyum baik, bajunya bersih, rapi, gaya rambut belah samping, & lebih mirip guru Pendidikan Moral Pancasila di sebuah SD Inpres- tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia menawariku tiket dengan harga empat kali lipat lebih mahal
Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh
-Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan menjadi kawakan tiada banding
Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana
Para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapapun yang mendekat
-Pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan belok kiri
Rupanya segenggam cinta yang setia takkan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang cinta, takkan pernah cukup dibagi-bagi
Rautnya santun & agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orangtua
Tempat ini bak miniatur nirwana, eksotika tropikana, Tanah Air kata jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku
Susah jadi politisi, kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang
-Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupak. Itu pepatah Melayu Purba
Begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan & pemberontakan-pemberontakan, tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup serba susah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, tak mau dibantu siapapun
Ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka mengacau saja
-Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta !
Tidak ada komentar:
Posting Komentar