Jumat, 17 Januari 2025

Trip to Malaysia Timur

- Kereta api dari Stasiun Kutoarjo (Purworejo), turun Stasiun Jatibarang (Indramayu).
7 Desember

- Mobil dari Stasiun Jatibarang ke Bandara Soekarno Hatta (Jakarta).
8 Desember

- Pesawat dari Bandara Soekarno Hatta tujuan Bandara Supadio (Pontianak- Kalimantan Barat).
8 Desember

- Mobil dari Bandara Supadio ke Kota Singkawang (Kalimantan Barat).
8 Desember
- Menginap 2 malam.

- Mobil dari Kota Singkawang ke Kuching (Sarawak- Malaysia Timur).
10 Desember
- Menginap sekitar 12 hari

- Bus dari Kuching ke Sibu (Sarawak- Malaysia Timur).
22 Desember
- Menginap 3 malam

- Bus (Eva bus) dari Sibu ke Kuching

- Bus (Damri bus) dari Kuching ke Terminal ALBN Kubu Raya (Kalimantan Barat).
28 Desember
Angkutan Antar Lintas Batas Negara (ALBN)

- Pesawat dari Bandara Supadio tujuan Bandara Soekarno Hatta.
29 Desember

- Kereta api dari Bandara Soekarno Hatta turun Stasiun Bekasi Timur.
29 Desember

- Bus dari Bekasi Timur ke Purworejo (Banyuurip).
29 Desember


Jumat, 03 Januari 2025

Trip to Bali

H-7 keberangkatan sudah persiapan beli tiket bus gunung harta tujuan Denpasar (Bali), namun menjelang h-2 rombongan membatalkan keberangkatan dengan alasan banyak kesibukan.



Karena yang bisa berangkat hanya 5 orang, dari yang awalnya 15 orang, jadi rencana perjalanan terpaksa harus dibatalkan.

Karena sayang banget harus membatalkan tiket, karena sebelumnya memang belum pernah ke Bali sama sekali, jadi digunakanlah kesempatan terbaik ini untuk berangkat sendiri (solo trip) dengan minim budget, tidak menginap di hotel, namun langsung pergi- pulang.

Hari minggu siang (11.00) berangkat dari Cengkawakrejo (Purworejo) menggunakan bus gunung harta berwarna merah dengan rute jurusan Kebumen- Purworejo- Yogyakarta- Klaten- Solo- Denpasar.

Bus berhenti di kantor gunung harta Yogyakarta (ring road timur), di terminal İr. Soekarno Klaten, terminal tirtonadi Solo.

Setiap penumpang diberikan snack oleh crew bus. Saat sore (17.00), bus berhenti di rumah makan di daerah Madiun. Setiap penumpang mendapatkan layanan makan gratis di rumah makan tersebut.

Bus berangkat, sering menggunakan jalan toll.
Tiba di Ketapang (Banyuwangi) menjelang subuh (03.00), untuk menyeberang selat, menggunakan kapal penyeberangan tujuan Gilimanuk (Bali).

Saat di kapal, setiap penumpang keluar bus menuju ke atas, tempat duduk di kapal dan mendapatkan mie instan gelas untuk dimakan sembari kapal menyeberang.
Mie instan gelas dibagikan crew bus kepada setiap penumpang.

Setelah kapal sampai di Gilimanuk (Bali) pagi hari (04.00 WITA), perjalanan dilanjutkan menuju kota Denpasar.

Selama perjalanan menuju ke kota Denpasar dibuat takjub dengan setiap rumah orang bali, di depan rumah selalu ada tempat sembahyangnya, semacam pura kecil. Bangunan puranya pun indah- indah bentukannya.
Belum lagi terdapat patung- patung/ monumen yang berada di persimpangan jalan menambah kesan sakral.

Area persawahan juga indah dipandang, pemandangan sawah yang bertingkat (terasering).

Tiba di kantor gunung harta jalan cokroaminoto denpasar sekitar pukul 09.30 WITA pagi.
Makan dulu lalu dilanjutkan naik bus trans metro dewata tujuan Sentral parkir Kuta Badung.

Jalan- jalan sebentar di area sekitar Sentral parkir merasakan bagaimana suasananya.
Setelah dirasa cukup, lalu naik bus trans lagi dari Sentral parkir tujuan kantor gunung harta jalan cokroaminoto denpasar. Saat itu jalanan macet parah saat balik menuju kantor gunung harta.

Sampai di kantor gunung harta waktunya mepet sekali, untungnya bus tujuan Solo- Klaten- Yogyakarta- Magelang belum berangkat.
Bus berangkat pukul 4 sore dari kantor gunung harta jalan cokroaminoto denpasar.


Berangkat dari denpasar, setiap penumpang mendapatkan snack.
Tiba di Gilimanuk (Bali) sekitar pukul 10 malam, menyeberang selat tujuan Ketapang (Banyuwangi) menggunakan kapal penyeberangan.

Sampai di Ketapang (Banyuwangi), bus dilanjutkan ke rumah makan di daerah Situbondo, tiba sekitar pukul 11 malam. Setiap penumpang mendapatkan layanan makan gratis dan roti.

Bus terus melaju menurunkan penumpang di Solo dan tiba ditujuan (Yogyakarta) sekitar pukul 09.20 WIB pagi.

Kamis, 05 Desember 2024

Raja Charlemagne (Charles The Great) dari Kerajaan Franka

The Frankish Kingdom is centered in Aachen Germany which is the kingdom of the Christians,
Ummayad Dynasty II in Cordoba, Andalusia, center of Islamic civilization in Europe.

Menurut sejarawan Philip K. Hitti, abad ke-9 memulai peredarannya dengan dua buah nama dari raja- raja yang paling berpengaruh dalam peristiwa- peristiwa dunia dari zaman itu, yaitu Karel Yang Agung di dunia Barat dan khalifah Harun Ar- Rasyid (766- 809 M) di dunia Timur.

Karel Yang Agung (Charles The Great) atau Charlemagne (bahasa Prancis) adalah raja Kerajaan Franka yang berpusat di Achen (Jerman), berkuasa 772- 814 M, sementara Harun Ar- Rasyid dikenal sebagai penguasa Dinasti Abbasiyah yang berpusat di Baghdad.

Harun Ar- Rasyid merupakan khalifah kelima Dinasti Abbasiyah, berkuasa 786 M.
Ia anak dari Khalifah Al Mahdi (Khalifah ketiga Dinasti Abbasiyah), dan keturunan keempat dari Abu Abbas As- Safah, pendiri Dinasti Abbasiyah.


Kemudian, selain dua kekuasaan besar tersebut, pada abad Pertengahan, tepatnya sekitar abad ke- 9 M, geopolitik dunia juga diwarnai oleh dua entitas politik lain, yaitu Kekaisaran Byzantium yang berpusat di Konstantinopel dan Dinasti Ummayah II di Andalusia.

Dari keempat kekuatan besar tersebut, Abbasiyah dan Umayyah II adalah merefresentasikan kekuasaan umat Islam, sedangkan Franka dan Byzantium adalah pusat kekuasaan politik kaum Nasrani.

Meski sesama penguasa umat Nasrani, Kerajaan Franka di bawah kekuasaan Charlemagne adalah sengketa dari Kekaisaran Byzantium.

Sementara di antara Dinasti Abbasiyah dengan Dinasti Umayyah juga tengah berseteru.
Akhirnya, Kerajaan Franka berkolaborasi dengan Dinasti Abbasiyah untuk berkonfrontasi dengan Kekaisaran Byzantium yang juga berkolaborasi dengan Dinasti Umayyah II.

Charlemagne, Raja Franka, mengandalkan Harun Ar- Rasyid untuk menggerogoti Kekaisaran Byzantium.
Sebagai balasannya, Charlemagne memerangi para penguasa dari Dinasti Umayyah II di Andalusia, yang menjadi seteru bagi Harun Ar- Rasyid.

Charlemagne memang memiliki ambisi untuk menguasai wilayah Semenanjung Iberia atau Andalusia yang dikuasai oleh Dinasti Ummayah II.

Raja Charlemagne dari Kerajaan Franka, pada musim semi tahun 777 M merencanakan penaklukkan ke selatan kekuasaannya, yaitu wilayah Andalusia (Spanyol) .
Charlemagne hendak "mengeliminasi" orang- orang Muslim yang bercokol di daerah bekas kekuasaan Katolik Romawi tersebut.

Sulaiman ibnu al- A'rabi, seorang Amir Abbasiyah di Barcelona dan Girona, bersama sekutunya yang bernama al- Husain ibnu Sa'ad ibnu Ubada wali kota Zaragoza sedang kewalahan menghadapi ambisi besar kenegaraan Abdurrahman Ad Dakhil, pendiri Dinasti Umayyah II.

Dalam konsolidasinya dengan Charlemagne, Sulaiman dan al- Husein mengusulkan adanya aliansi militer.
Sebagai balasannya mereka menjanjikan wilayah Andalusia Utara menjadi basis pertahanan tentara Kerajaan Franka.

Charlemagne bersedia mengadakan aliansi dengan Sulaiman ibnu Arabi dan Husain ibnu Sa'ad untuk menjegal ambisi Abdurrahman Ad- Dakhil menyatukan wilayah- wilayah di Spanyol dan membentuk sebuah pemerintahan yang merdeka dari Dinasti Abbasiyah.
 Alasan lain karena Dinasti Umayyah II merupakan kolaborator dari Kekaisaran Byzantium, musuh dari Kerajaan Franka.

Pada musim panas 778 M Charlemagne mengerahkan dan memimpin sendiri pasukannya melewati pegunungan Pyrenees.

Pada mulanya Husain ibnu Sa'ad meminta bantuan Charlemagne dengan tujuan agar ia terbebas dari kekuasaan Abdurrahman Ad- Dakhil.
Ia ingin menjadi penguasa tunggal di Zaragosa dan dapat memerintah atas nama atasannya di Baghdad, Dinasti Abbasiyah.

Husain ibnu Sa'ad berubah pikiran, setelah ia mengetahui bahwa setiap yang berkolaborasi dengan Charlemagne, kelak akan dimasukan dan berada di bawah dominion Kerajaan Franka.

Bekas kekuasaan Romawi pernah diserbu oleh bangsa- bangsa Germanik dari utara yang kemudian membagi- bagi wilayah eropa;
1. Kerajaan Goth Timur di Italia dan İllyria,
2. Kerajaan Bourgandia di Swiss dan daerah Rhone
3. Kerajaan Goth Timur di Spanyol
4. Kerajaan Vandal di Afrika Utara
5. Kerajaan Franka di Prancis, Belgia, Nederland dan Jerman Barat
6. Kerajaan Longobarda atau Lombardia di Italia Utara, dan Anglo Saxon menyerbu tanah Inggris.

John Lord memberikan penilaian bahwa keberangkatan Charlemagne tersebut adalah sebuah kesalahan.
Alexander membuat kesalahan dengan memaksakan kekuasaannya sampai ke India, Napoleon membuat kesalahan besar dalam menyerang Rusia. Bahkan Caesar meninggal tepat pada waktu kampanye militer.


-Philip K. Hitti, Dunia Arab Sejarah Ringkas (Bandung: Sumur, n.d.)
-S. Mahmudunnasir, Islam, Konsepsi Dan Sejarahnya (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2005)
-David Leverning Lewis, The Greatness of Al- Andalus: Islam Dan Pembentukan Eropa Pada 570- 1215. Terj. (Jakarta: Serambi, 2012)
-John Lord, Beacon Lights of History Volume V: The Midle Ages. (New York: Jame Clarke and CO., 1888)

Jumat, 16 Agustus 2024

Perang Salib bag 3

Dengan bertindak secara resmi sebagai pembantu Nuruddin, Saladin menguasai Dinasti Fatimiyah yang diakhirinya pada 1171.
Nuruddin telah meletakkan fondasi penyatuan kaum muslim dan menegaskan kembali legitimasi satu- satunya khalifah 'Abbasiyah yang bermazhab Sunni.

Pertikaian antara Saladin dan Nuruddin, yang tampak jelas terlihat saat itu, terhenti dengan wafatnya Nuruddin pada 1174.

Saladin selanjutnya menjadi pemimpin kaum muslim dalam Perang Salib.
Ia juga menjadi pemimpin Perang Salib yang paling terkenal.
Ia membuktikan bahwa dirinya pantas menjadi penerus Nuruddin.

Sepanjang 1174- 1178, upaya Saladin banyak dilakukan untuk menundukkan musuh- musuhnya dari kalangan kaum muslim sendiri dan menciptakan front bersama di Mesir dan Suriah melawan para Tentara Salib.

Kemenangan Saladin mencapai puncaknya ketika dia berhasil merebut kembali Yerusalem pada 2 Oktober 1187.

Saladin telah menciptakan sistem penguasa keluarga kolektif, yaitu dengan menempatkan kerabat- kerabatnya untuk mengawasi kota- kota dan wilayah- wilayah utama yang ditaklukkannya, sehingga tercipta konfederasi negara- negara yang bersifat longgar dengan dirinya sebagai pemimpin.
Sistem ini diikuti oleh para penerusnya, Ayyubiyah, yang merupakan dinasti keluarganya sendiri.

Dinasti Ayyubiyah dari suku Kurdi, anggota keluarga Saladin, mewarisi wilayah- wilayah di Mesir, Suriah dan Mesopotamia.
Tradisi- tradisi pemerintah mereka didasarkan pada tradisi pemerintah Turki Saljuk dan mereka juga mewarisi pemerintahan Fatimiyah di Mesir.

Pada 1228, Frederick II dari Sisilia tiba di Palestina untuk melancarkan Perang Salib.
Sultan Ayyubiyah al- Kamil, yang terancam oleh pertikaian internal keluarga, lebih memilih berunding daripada berperang dan membuat perjanjian dengan Frederick setahun kemudian, dengan menyerahkan Yerusalem, Bethlehem, Nazareth dan distrik- distrik lain ke tangan Tentara Salib.

Penyerahan Yerusalem membuat al- Kamil dikritik keras oleh berbagai kalangan kaum muslim.
Yerusalem diserang secara besar- besaran pada 1244 ketika pasukan Khawarazmi yang jauh di Asia Tengah, yang terusir oleh invasi Mongol dan bergerak ke arah Barat dengan kemarahan, memanfaatkan situasi lemah di Yerusalem.
Mereka menaklukkan dan merebutnya.
Sesudah itu, Yerusalem kembali dalam kekuasaan Islam.

Dengan tergulingnya Dinasti Ayyubiyah dan naiknya dinasti baru, yaitu Dinasti Mamluk yang militan dari Mesir, pada 1250, perlawanan Perang Salib dikobarkan kembali dan langkah- langkah yang diperlukan untuk mengusir para Tentara Salib selama- lamanya dari Timur Dekat dapat dilaksanakan secara bersamaan.

Serangan- serangan dari musuh baru, yaitu bangsa Mongol, dan kedatangan kaum Frank yang tanpa henti telah menjadi fokus utama untuk menyalurkan kekuatan dinasti baru tersebut.

Meskipun pasukan Mongol yang dipimpin Hülegü berangkat dengan tujuan- tujuan yang jelas, yaitu menghabisi Khalifah 'Abbasiyah, menghancurkan kaum Hasyasyin Alamut dan menuju ke Mesir, tujuan terakhir mereka tidak pernah tercapai.

Sekalipun ada perasaan cemas terhadap ancaman bangsa Mongol, sultan- sultan Mamluk lebih mengutamakan untuk mengusir para Tentara Salib, apalagi setelah mereka meraih kemenangan besar atas bangsa Mongol yang sebelumnya tak terkalahkan dalam pertempuran Sumur Daud ('Ayn Jalut) pada 1260.

Sultan Mamluk Baybars (w. 1277), raja yang sangat tegas dan keras, merupakan tokoh utama yang memulai proses pengusiran kaum Frank.
Setelah ia berhasil menyatukan Suriah dan Palestina, para Tentara Salib hanya bisa memberikan perlawanan kecil- kecilan.

Jatuhnya Acre pada 18 Mei 1291, suatu peristiwa yang dianggap menandakan berakhirnya kekuasaan kaum Frank di kawasan Mediterania timur dan dengan hengkangnya kaum Frank dari pelabuhan- pelabuhan yang masih mereka kuasai seperti Tirus, Sidon dan Beirut.

Sumber- sumber Islam menyebut kaum Kristen Eropa dengan istilah kaum Frank (al-ifranj).
Istilah bahasa Arab yang sepadan untuk para Tentara Salib (al- shalibiyyun, orang yang mengangkat senjata demi Salib) baru digunakan kemudian pada abad ke 19 dan ke 20.

Yang cukup menarik, etimologi kedua istilah tersebut, Crusader (dari bahasa Latin crux yang berarti kayu salib) dan shalibiyyun (dari bahasa Arab shalib yang berarti kayu salib) menegaskan pusat simbolisme Cross (kayu salib) yang mendasari operasi- operasi militer kaum Eropa yang kemudian dikenal dengan Crusade, yang berarti Perang Salib (dalam bahasa Arab modern disebut al- hurub al- shalibiyyah).

Demikian juga bagi kaum Kristen Eropa barat, suatu perang salib diyakini sebagai "usaha Yesus sendiri, yang dilegitimasi oleh mandatnya sendiri".


Carole Hillenbrand, 1999, The Crusade; Islamic Perspectives, Edinburg: terbitan Edinburg University Press.
Serambi Ilmu Semesta

Perang Salib bag 2

Pertemuan pertama bangsa Eropa dengan Islam teejadi akibat kebijakan- kebijakan ekspansi negara muslim baru, yang terbentuk setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW, pada 632 M.

Satu abad kemudian, orang- orang Islam telah menyeberangi barisan pegunungan di antara Prancis dan Spanyol dan menaklukkan wilayah- wilayah yang membentang dari India utara hingga Prancis selatan.

Dari tahun 750 dan seterusnya, wilayah Dinasti 'Abbasiyah dibentuk oleh pemerintahan dan kebudayaan Persia- Islam dan semakin bertambah dengan dukungan militer dari budak- budak Turki yang menjadi tentara.

Pada abad kesepuluh dan kesebelas, perpecahan politik yang menimpa Dinasti 'Abbasiyah yang hebat dengan pusatnya di Baghdad terus berlangsung.

Kondisi tersebut membantu munculnya kembali bangsa- bangsa Eropa di Mediterania timur dan menjadi awal kebangkitan kekuasaan Kristen di Spanyol.

Tetangga dekat dunia Islam, Bizantium, berhasil melakukan penyerbuan ke utara Suriah pada akhir abad kesepuluh dan dalam waktu yang tidak lama menguasai kota- kota di negeri itu.

Selama abad- abad pertama kekuasaan kaum muslim, para peziarah Kristen dari Eropa biasanya bisa mengunjungi tempat- tempat suci agama mereka di Yerusalem dan Tanah Suci.

Mereka melakukan perjalanan lewat jalan darat melalui Balkan, Anatolia dan Suriah atau lewat jalur laut menuju Mesir atau Palestina.

Dengan demikian, berita tentang gaya hidul yang luar biasa dan tingginya kemajuan peradaban dunia Islam sampai ke Eropa.

Kabar tentang reputasi buruk seorang penguasa Islam tertentu- yakni khalifah keenam Dinasti Fatimiyah, al-Hakim- juga sampai ke Eropa.

Penyiksaan terhadap umat Kristen yang tinggal di wilayah kerajaannya, yang membentang hingga Suriah dan Palestina, mencapai puncaknya dengan penghancuran Gereja Makam Suci di Yerusalem pada 1009- 1010.

Tindakan- tindakan al-Hakim tersebut biasanya dianggap sebagai faktor pendorong meningkatnya keinginan kaum Kristen Eropa untuk melancarkan Perang Salib Pertama dan menyelamatkan apa yang mereka anggap sebagai tempat- tempat suci umat Kristen yang sedang berada dalam bahaya.

Pada paruh abad kesebelas, Suriah dan Palestina menjadi ajang pertarungan yang sengit antara bangsa Turki Saljuk yang menguasai dunia Islam timur dan Dinasti Fatimiyah yang berpusat di Mesir.

Dinasti Fatimiyah yang menganut Syiah Ismailiyah, menganut paham yang dicap haram oleh kaum muslim Sunni, terutama karena ideologi Fatimiyah- yang bertujuan dinamis dan ekspansionis- pada satu titik mengancam untuk menggulingkan Khalifah 'Abbasiyah yang bermazhab Sunni di Baghdad.

Turki Saljuk, yang belakangan memeluk agama Islam, menempatkan diri mereka sebagai pendukung Khalifah 'Abbasiyah dan Islam Sunni dan melancarkan perang berkepanjangan melawan Dinasti Fatimiyah.

Situasi politik di sekitar Anatolia (kini Turki) juga mengalami destabilisasi di masa ini, setelah Bizantium kehilangan wilayah penyangganya ke timur, yang dulunya berada di bawah kekuasaan Armenia, yang direbut oleh Turki Saljuk.

Pamor kekaisaran Bizantium mengalami pukulan hebat.
Mereka dikalahkan oleh bangsa Turki Saljuk yang dipimpin oleh Sultan Alp Arslan dalam pertempuran di Manzikert (kadang dikenal juga sebagai Malazgird)
pada 1071.

Satu kelompok bangsa Turki di bawah pimpinan Sulayman bin Qutlumush, yang keturunan keluarga Saljuk, mendirikan negara kecil, pertama di Nicaea (Iznik) dan kemudian di Iconium (Konya), yang kemudian berkembang menjadi kesultanan Saljuk Rum (istilah kaum muslim untuk Bizantium).

Pada 1090, kaisar Bizantium Alexius Comnenus sekali lagi memohon kepada Eropa setelah ia mendengar tekanan Saljuk terhadap kaum Kristen Timur Dekat

Kepausan sendiri memiliki alasan sendiri yang mendorongnya untuk menyerang umat Islam.
Paus Urbanus II mengeluarkan maklumat penting pada 17 November 1095 di Clermont, dengan menyerukan umat Kristen agar berangkat membebaskan kota suci Yerusalem dari penindasan umat Islam.

Pada 1097, pasukan Kristen gabungan di bawah beberapa pimpinan berbagai kelompok kaum Eropa Barat telah tiba di Konstantinopel dan melakukan perjalanan darat menyeberangi Anatolia menuju Yerusalem.
Dimulailah rangkaian operasi militer yang dipelopori kaum Eropa barat melawan Islam Timur Dekat yang kemudian dikenal sebagai Perang Salib.


Carole Hillenbrand, 1999, The Crusade; Islamic Perspectives, Edinburg: terbitan Edinburg University Press.
Serambi Ilmu Semesta

Perang Salib bag 1

1096 - 1102 > Perang Salib Pertama
1099 15 Juli > Yerusalem jatuh ke tangan Tentara Salib.

1147 - 1149 > Perang Salib Kedua
1172 10 September > Saladin menghancurkan Khalifah Fatimiyah dan mengembalikan Mesir kepada Islam Sunni.

1187 2 Oktober > Saladin merebut kembali Yerusalem.

1189 - 1192 > Perang Salib ketiga
1202 - 1204 > Perang Salib keempat
1217 - 1229 > Perang Salib kelima

1258 19 Februari > Mongol menyerbu Baghdad dan menghancurkan khalifah 'Abbasiyah.

1260 3 September > Pertempuran 'Ayn Jalut- Mamluk mengalahkan pasukan Mongol yang telah kepayahan.
23 Oktober > Baybars menjadi Sultan Mesir.

_

* Dinasti Fatimiyah (Mesir dan Suriah)

* Dinasti Saljuk.
Saljuk Agung 1040- 1194 M (Irak dan Persia).
1040 M - Tughril
1063 M - Alp Arslan

Saljuk di Suriah

* Dinasti Zengi (Jazirah dan Suriah)
1127 M - Zengi
1146 M - Nuruddin

* Dinasti Ayyubiyah (Mesir, Suriah, Diyarbakr, Yaman)
Ayyubiyah di Mesir
1169 M - al- Malik al- Nashir I Shalahuddin (Saladin)

Ayyubiyah di Damaskus

* Dinasti Mamluk 1250- 1517 M (Mesir dan Suriah)
1250 M - Syajarat al- Durr

_

Perang Salib, demikian menurut sudut pandang Barat, merupakan serangkaian operasi militer- paling sedikit terdiri atas delapan babak- yang didoronh oleh keinginan kaum Kristen Eropa untuk menjadikan tempat- tempat suci umat Kristen dan terutama Yerusalem masuk ke dalam wilayah perlindungan mereka.

Bagi pihak Barat, Perang Salib dimulai tahun 1095, ketika Paus Urbanus II menyerukan maklumat perang sucinya yang terkenal, sampai abad kelima belas dan bahkan abad selanjutnya, meskipun banyak yang berpendapat bahwa penaklukan Acre pada 1291 merupakan akhir usaha keras Tentara Salib melawan negara- negara Islam di sepanjang kawasan Mediterania timur.

Tidak diragukan lagi bahwa tulisan kaum muslim belakangan ini telah mengabaikan peranan bangsa Turki dalam periode Perang Salib.

Penelitian tentang respons kaum muslim atas kedatangan Perang Salib harus dilakukan di dalam konteks yang lebih luas mengenai peran yang dimainkan oleh dunia Islam timur secara umum dan khususnya memperhitungkan peran kemiliteran dan ideologis bangsa Turki yang baru mengalami proses islamisasi dan bentangan warisan kekaisaran Saljuk di Suriah dan Palestina.

Meskipun di dalam pandangan kaum muslim Arab saat ini tidak diragukan lagi bahwa hampir semua para pejuang besar jihad yang akhirnya mengalahkan Tentara Salib- Zengi, Nur al-Din dan Baybars- berasal dari Turki, pengakuan ini belum diberikan secara memadai, barangkali karena kekuasaan pemerintahan Turki Ustmani selama berabad- abad yang menyusul berakhirnya Perang Salib.

Secara umum, bangsa Arab di kawasan Mediterania Timur memandang periode ini secara menjijikkan dan barangkali inilah penyebabnya kalau saat ini mereka mengabaikan prestasi bangsa Turki dalam konteks Abad Pertengahan.

Laporan kaum muslim mengenai masalah Perang Salib sama sekali tidak mudah dianalisis- konsep "Perang Salib" merupakan konsep Barat.

Konsep itu tidak memiliki gema khusus di telinga umat Islam.
Para sejarawan muslim sendiri tidak menaruh perhatian terhadap hal tersebut.
Bagi mereka, Perang Salib semata- mata adalah perang melawan musuh- dalam hal ini kaum Frank, untuk dibedakan dengan misalnya Fatimiyah.


Carole Hillenbrand, 1999, The Crusade; Islamic Perspectives, Edinburg: terbitan Edinburg University Press.
Serambi Ilmu Semesta

Sabtu, 10 Agustus 2024

Constantinople

●330 M - Kaisar Konstantin I the Great menjadikan kota CONSTANTINOPLE sebagai ibukota kedua ROMANS, kota Roma mengalami kemunduran.
Istilah BYZANTIUM baru muncul pada abad ke- 19; orang BYZANTINE selalu menyebut dirinya ROMANS.

●360 M - Hağia Sophia pertama dibangun pada masa Constantius II
●395 M - ROMANS terpecah antara (ROME) dan Timur (BYZANTINE)

●476 M - Romawi Barat ambruk
●524 M - Kaisar Justinian menempatkan BYZANTINE pada puncak kejayaannya.

●670- 77 - Pengepungan Konstantinopel pertama, dipimpin oleh Yazid b Mu'awiyah, era Khalifah Mu'awiyah (w.680)

_

●1054 - Perpisahan gereja antara Eastern Orthodox dan Western Catholic
● Populasi Konstantinopel sekitar 500 ribu penduduk

●1203- 04 - Konstantinopel dikepung dan direbut pasukan salib IV
●1394- 1402 - Pengepungan Konstantinopel oleh Sultan Bayezid I

●1453 - Konstantinopel (50 ribu penduduk) dibebaskan oleh Sultan Mehmed II, Hağia Sophia menjadi Masjid Ayasofya.
Tursun beğ sejarawan yang mendampingi Sultan Mehmed II selama pengepungan Konstantinopel.

●1454 6 Januari - Mehmed mengangkat George Scholarious menjadi Patriark Gennadius II

_

●1909 - Revolusi Turki Muda atas Sultan Abdulhamid II, İstanbul jatuh ke tangan Harekat Ordusu; er Turki Muda.
●1918 - Kalah Perang Dunia Pertama, İstanbul diduduki oleh Inggris, France dan Italy sebagai konsekuensi Penyerahan Moudros.

●1923 - Sekutu mundur dari İstanbul, Mustafa Kemal menjadi presiden pertama Republik Turki sesuai Perjanjian Lausanne (Swiss), 24 Juli 1923
●1924 - Kekhilafahan Turki Utsmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal (TBMM)

●1935 - Masjid Ayasofya dipaksa menjadi museum
●2020 - Recep Tayip Erdoğan mengembalikan sebagai masjid (24 Juli)


Kajian Ustadz Agung Waspodo, MPP
Masjid Raya Bintaro Jaya