Rabu, 15 November 2017

Novel "Cinta di Dalam Gelas" - Andrea Hirata

Novel "Cinta di Dalam Gelas" karya Andrea Hirata
Novel Kedua dwilogi Padang Bulan
Penerbit Bentang

Bagaimana aku, seorang anak Melayu udik dari keluarga Islam puritan, bisa jatuh cinta pada perempuan Tionghoa dari keluarga Konghucu sejati itu

Bahwa dulu aku terpelecat ke dalam pekerjaan ini sebagai bagian dari perjanjian tak tertulis & ujung gerutuan panjang ibuku, yang tak habis-habisnya serinya macam sinetron, yang pada pokonya, secara blak-blakkan, tak sudi menerimaku berada di kampung dalam keadaan menganggur, meski hanya sehari saja. Tak sudi

Lelaki muda sehat wal afiat, terang pikiran & punya ijazah, tidak bekerja? Sepatutnya disiram dengan kopi panas!

-klub catur legendaris Di Timoer Matahari
-Untuk menjadi modern, memang diperlukan persiapan yang tidak kecil
-Macam mana kopi Pak Cik ini ?, Pahit, Boi, pahit !


Sang empu dari Melidang telah meniupkan sukma raja berekor, yakni raja kanibal yang menguasai Belitong purba melalui ubun-ubun raja hitam itu. Menterinya diisi sang empu dengan nyawa Kwan Peng, Panglima Perang Ho Pho yang amat kejam, pion-pionnya disurupi sang empu nan sakti mandraguna dengan arwah-arwah gentayangan bajak Laut China Selatan

Saban pagi, serombongan besar pria dari kampung-kampung yang berjarak sampai 20 km, berbondong-bondong ke pasar demi segelas kopi. Lalu pulang untuk bekerja. Sore mereka kembali lagi ke pasar, & pulang lagi. Adakalanya malam nanti, pukul 9, setelah istri & anak-anak tidur, mereka ke pasar lagi. Semuanya demi segelas kopi

Karena begitu banyak bujang lapuk di kampung kami, dari dulu aku bermimpi untuk mendirikan organisasi persatuan bujang lapuk

Kopi bagi orang Melayu rupanya tak sekedar air gula berwarna hitam, tapi pelarian & kegembiraan. Adapun yang sama sekali tidak minum kopi adalah penyia-nyia hidup ini

Pekerja kantoran yang bekerja rutin & berirama hidup itu-itu saja. Mereka tak lain pria "do-re-mi", & mereka telah kawin dengan seseorang bernama bosan. Kelompok anti-perubahan ini melingkupi diri dengan selimut & tidur nyenyak di dalam zona yang nyaman, sungkan mengambil resiko. Tanpa mereka sadari, kenyamanan itu membuat waktu, detik demi detik menelikung mereka

Kalau aku susah, cukuplah kutangisi semalam. Semalam suntuk. Esoknya aku tak mau lagi menangis. Aku bangun & tegak kembali

Namun, kuterima saja semua kegilaan itu dengan membayangkan betapa mengerikannya akibat pengangguran yang berkepanjangan pada kejiwaan seseorang

Kejujuran memang pahit, namun aku tak mungkin membuat-buat alasan di depan Ibu. Hidupku sudah cukup sial & takkan kutambah kesialan itu dengan membohonginya

Perangai tanaman yang menuntut perhatian membentuk petani menjadi tekun. Kebijakan mereka adalah tak menabur-tak memelihara-tak memanen. Falsafah bertani membuat para petani menjadi pribadi-pribadi yang penuh perencanaan, penyabar & gemar menabung

Padi mendidik orang menjadi penyabar, timah mendidik orang menjadi pelamun & uang mendidik orang menjad serakah

Inilah akibat buruknya pendidikan, bicara sekehendak hati saja, tidak pakai akal

Tidak ada komentar:

Posting Komentar