Rabu, 27 Desember 2017

Sertifikat Training

Sertifikat Job Training Housekeeping


 Sertifikat Pelatihan dan PKL Cleaning Service

 

 

Sertifikat Pelatihan Pengendali Makanan (Malaysia)


Sertifikat Pelatihan Kerja Housekeeping Hotel


 

 Sertifikat Pelatihan Kesehatan & Keselamatan Kerja (Turkiye)



Surat Keterangan Bekerja

Bekerja di Minimarket (Bekasi)


 Bekerja di Pabrik Kayu


 

 

Bekerja di Hotel (Turkiye)



Minggu, 24 Desember 2017

Foto-foto Kenangan Kecil

1. Mbah Murah, Ted and Chandra



2. Wisnu, Chandra, and Ted.

Waktu liburan Idul Fitri bersama rombongan saudara di kawasan Malioboro Yogyakarta.

 
3. Ibu Kasminah, Ted and Chandra


4. Ted and Yoga di rumah Mbah Sukinah

5. Photo Studio

 
 
 6. Ted, Yoga, Eko, Tejo and Chandra di rumah Mbah Murah

7. Ted, Tejo, Chandra, Eko, Aditya, Yoga and Cikas di rumah Mbah Murah

8. Pras, Ted, Yoga, Whidia, adiknya Pras and Mas Pandu di Candi Borobudur

9. Ted, Yoga, Whidia, adiknya Pras and Pras di Candi Borobudur


10. Ted, Landung, Arianto, Sugeng and Yoga di depan Masjid Nurul Huda Desa Banyuurip


11. Ted, Landung, Yoga and Arianto di depan Masjid Nurul Huda Desa Banyuurip

12.Sugeng, Landung, Budi and Ted di Bayu Studio Sumbersari

13. Arianto, Banu, Ted, Landung (biru) and Budi (hitam) di Bayu Studio Sumbersari







Sabtu, 23 Desember 2017

Situs Parigi/ Punden Parigi II

Situs Parigi Di Banyuurip

Alamat situs parigi berada di desa Banyu Urip, Kecamatan Banyu Urip, Kabupaten Purworejo. Rute perjalanannya, dari Alun-alun kota Purworejo ke selatan menuju ke arah desa Banyu Urip, sampai di Pasar Ngori, kemudian ambil jalan ke arah kiri hingga Kantor Kepala Desa Banyu Urip, ambil jalur lurus hingga +/- 300 meter maka kita akan sampai di lokasi.
Deskripsinya, situs perigi berada di sebuah lokasi dengan ukuran kurang lebih 20 meter x 30 meter, kemudian pada sebelah kanan ada semacam aula dimana aula tersebut digunakan untuk tasyakuran para warga setempat untuk pesta panen. Bentuk bangunan situs perigi seperti gazebo atau lebih mirip joglo namun cukup terawat dengan ukuran kurang lebih 3 meter x 3 meter. Lantai situs perigi berwarna putih, di dalam terdapat 1 yoni dan 4 buah batu yaitu : batu duduk ( yang paling besar, konon batu ini adalah tempat duduk Raden Joyokusumo ), batu lutut, batu dakon, dan yang paling kecil adalah batu lumpang.

Sejarah situs parigi.

Juru kunci situs perigi bernama Pak Marto ( Sumarto ), rumahnya berada disekitar area situs.

Dikisahkan, Raja Majapahit yaitu Brawijaya 5, adalah sangat marah kepada Raden Joyokusumo karena tidak hadir dalam rapat khusus kerajaan, padahal semua putra bangsawan menghadiri rapat tersebut. Raden Joyokusumo adalah adik tiri dari seorang istri selir Raja Brawijaya. Saat semua mengikuti rapat kerajaan, Raden Joyokusumo dan adik nya, Galuh Wati, malahan asik bermain burung puyuh yang bernama Ki Kebrok, burung kesayangannya.

Akibat kemarahan Raja Brawijaya, Raden Joyokusumo dan Galuhwati diusir dan pergi dari kerajaan Majapahit. Dengan susah payah, akhirnya kakak dan adik sampai di suatu tempat. Akibat perjalanan yang sangat jauh, Galuh Wati diserang demam dan kehausan. Akhirnya, Raden Joyokusumo menancapkan sebilah keris pusaka miliknya ke tanah. Sebuah keajaiban, tanah bekas tancapan keris tersebut memunculkan air yang sangat deras. Dengan air tersebut, mereka minum dan mandi.

Kemudian, Raden Joyokusumo mendirikan sebuah bangunan yang digunakan untuk bertapa. Bangunan tersebut diberi nama Perigi yang artinya adalah mendatangi ( murugi, jawa ), karena setelah muncul mata air atau sumur, datanglah orang-orang dari luar kota yang ingin menetap di sana. Istilah Banyu Urip itu sendiri diambil dari kata banyu dan urip, yang bermakna air kehidupan karena saat Galuhwati hampir mati, air yang muncul dari tanah bekas tancapan keris adalah memberi kehidupan bagi mereka.
Banyak orang dari luar kota yang datang kesini untuk memperbaiki nasib. Mereka minta petunjuk pada juru kunci supaya diberi jalan alternatif, lalu mereka berdoa dan menyembelih korban. Setiap malam jum'at dan hari-hari tertentu, mereka harus tirakat sepanjang malam di aula. Jika mereka berhasil dalam usaha, mereka akan menggelar syukuran di aula tersebut

Di belakang bangunan situs, ada sebuah pohon besar yang berumur ratusan bahkan mungkin hingga ribuan tahun. Dibawah pohon tersebut dibangun gundukan tanah yang ditinggikan ( Siti Hinggil ) dan ditancap sebuah papan yang ditulis " Pengunjung Di Larang Naik ke Lokasi ini".

Situs Parigi/ Punden Parigi I

Cikal Bakal Desa Tertua Dengan Sejarah Punden Parigi.

Tersebutlah Desa Banyuurip, Kecamatan Banyuurip yang digadang-gadang sebagai desa tertua di Kabupaten Purworejo. Bahkan, konon desa itu lebih tua dan sudah ada jauh sebelum Kota Purworejo berdiri, yakni pada zaman pemerintahan Kerajaan Majapahit.

Singkatnya dalam kisah babad Banyuurip yang ditulis turun temurun, menceritakan, zaman dahulu kala ada seorang pangeran dari Kerajaan Majapahit pada masa pemerintahan Hayam Wuruk. Dari selir, raja tersebut memiliki seorang putera bernama Pangeran Joyokusumo dan seorang putri bernama Galuhwati.

Pada suatu hari raja mengadakan rapat besar. Kemudian raja mengutus Patih Gajah Mada untuk mencari Pangeran Joyokusumo, sebab hanya dia yang tidak menghadiri rapat. Setelah dicari, ternyata sang pangeran justru pergi mencari belalang untuk makan gemak atau burung puyuh kesayangannya. Akibatnya, Raja mengusir putranya tersebut.

Nyi Putri Galuhwati dan Pangeran Joyokusumo dalam perjalanannya diusir dari Majapahit karena Pangeran Joyokusumo tidak mau menghadap ayahnya dalam pertemuan kerajaan dan hanya bermain adu burung puyuh. Burung itu diberi nama si Kebrok. Karena kesaktiannya, maka burung tersebut sering diadu dengan burung lain. Konon si Kebrok dapat mengalahkan seekor harimau.

Siang malam kedua kakak beradik tersebut melintasi hutan belantara dan suatu ketika sampai di daerah ini. Karena kehausan, adiknya yaitu Galuhwati minta air. Seketika Pangeran Joyokusumo mencabut keris pusakanya yang bernama Kyai Dhalang (versi lain menyatakan bernama Panubiru) dan menancapkannya ke tanah sehingga keluar air. Air tersebut kemudian digunakan untuk minum dan mandi. Karena air itu menyegarkan kembali dan memberi kehidupan (urip) pada warga sekitarnya, maka daerah tersebut diberi nama Banyu Urip. Tempat pertapaan Pangeran Joyokusumo disebut Punden Perigi, yang berarti dimurugi (didatangi dari jauh yaitu Majapahit) menuju tempat itu.
Inilah singkat cerita desa tersebut di beri nama Banyuurip.

Disana terdapat sebuah cagar budaya yakni salah satu petilasan atau pepunden yang disebut sebagai Punden Parigi. Pepunden ini menyimpan kisah menarik tentang peradaban pertama di desa ini.
Pepunden ini berbentuk joglo dengan lantai keramik. Di dalamnya terdapat batu bekas duduk Pangeran Joyokusumo, batu dakon, batu lumpang dan sebuah yoni sebagai tempat menampung air untuk membasuh muka lengkap dengan ubo rampe berupa dupa dan bunga-bunga.

Punden Perigi atau punden batu merupakan bangunan joglo kecil yang berukuran 3,2 m x 3,2 m berlantai ubin putih yang digunakan sebagi tempat pertapaan seorang pangeran yang berasal dari Majapahit (menurut babad Banyu Urip). Di dalam bangunan tersebut terdapat batu bekas tempat duduk Pangeran Joyokusumo, batu lutut, batu dakon, batu lumpang dan sebuah yoni sebagai tempat menampung air untuk membasuh muka (yang oleh sementara orang dipercaya dapat mendatangkan berkah). Pada sebelah barat punden Perigi terdapat bangunan berukuran 8 m x 16 m yang sering digunakan untuk pertunjukan wayang kulit oleh penduduk setempat sehabis panen musim kemarau. Pertunjukan tersebut merupakan ungkapan syukur masyarakat setempat atas keselamatan dan hasil panen yang diperoleh.

Punden Parigi sendiri berarti ganda. Parigi yang pertama berarti sumur. Yang kedua jika di eja pa ri dan gi, pa yakni paran (tempat yang jauh) ri yakni ring/sing dan gi yakni purugi atau tempat yang dituju. Jadi parigi sendiri mengandung arti tempat jauh yang didatangi.

Masyarakat luar daerah hingga mancanegara masih sering berziarah ke petilasan tersebut. Dengan membawa beberapa harapan mulai dari naik pangkat, ingin mendapatkan jabatan dan lain sebagainya. Namun ada sebuah pantangan, bagi mereka yang mendatangi petilasan tidak boleh menginginkan balas dendam, cari nomor togel dan pesugihan.
”Masih terawat dan pengunjungnya banyak juga. Ada yang dari luar negeri. Mereka memohon kepada Yang Maha Kuasa melalui perantara yang ada disini,” ujar Sumarto, juru kunci punden.

Sumber :

Arie Wicaksono Fam.

Arie Wicaksono (Sutomo
05 Des 1979

Iis Sholihat (H Mat Basir
14 May 1988

Kanaya Azzahra Wicaksono
16 Aug 2011

Rayya Abbiya Wicaksono
15 Jun 2017

Marriage at 06 Jun 2010

Kp. Buaran
Desa/ Kelurahan: Jatinegara
Kecamatan: Cakung
Kab./ Kota: Jakarta Timur
Provinsi: DKI Jakarta

Wongso Soedarmo Clan

Wongso Soedarmo -
Murah Warni binti Taruno Wikromo
(06 Jul 1930 - Selasa Kliwon 4 Des 2007)

1. Endang Rusmiyati (wafat 14 Apr 1991) -- Sutomo (wafat)
2. Endang Ruswati (18 Mar 1961 - 03 Mar 2012) --
Soemarno (20 Apr 1952 - 17 Oct 2021)
3. Priyo Santosa (30 Jun 1963 - May 2019) -- Sulis Sri Ambarnani

4. Budi Prayitno (03 Mar 1966 - 01 Sep 2001) -- Kasminah (06 Jan 1971)
5. Ning Rahayu (07 Sep 1967) -- Budi Parno (13 Nov 1962)

_
Fifin Diana Listyowati (30 Aug 1976)
Arie Wicaksono (05 Des 1979)

Fica Diana Lestiawati (18 Oct 1983)
Hendro Adi Setiawan (30 Sept 1985)

Putri Aditia
Yoga Pratama (1996)

Teddy Rakasiwi (06 Mar 1995)
Chandra Sanjaya (07 May 1999)

Pandu Kusuma (1992)
Wisnu Alamsyah (20 Jul 2000)




Novel "Edensor" - Andrea Hirata

Novel "Edensor" karya Andrea Hirata
Novel Ketiga dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang


Hidup & nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, & sporadis, namun setiap elemennya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa tak ada hal sekecil apa pun terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan

Pengalaman yang sama dapat menimpa siapa saja, namun sejauh mana & secepat apa pengalaman yang sama tadi memberi pelajaran pada seseorang, hasilnya akan berbeda, relatif satu sama lain. Banyak orang yang panjang pengalamannya tapi tak kunjung belajar, namun tak jarang pengalamannya yang pendek mencerahka sepanjang hidup

Orang Melayu bekerja keras sepanjang hidup, membanting tulang-belulang, berkeringat darah, berlumur cobaan berat, siapa yang menyerah tak dapat tempat di hati mereka

Tabiat orang tak berhubungan dengan gelar yang disematkan kepadanya, bukan pula bagaimana ia menginginkan orang hormat kepadanya, tapi lebih pada berapa besar ia menaruh hormat kepada dirinya sendiri

"Murid-muridku berkelanalah, jelajahi Eropa, jamah Afrika, temukan mozaik nasibmu di pelosok-pelosok dunia. Tuntut ilmu sampai ke Sorbonne di Prancis, saksikan karya-karya besar Antoni Gaudi di Spanyol"

-Bermimpilah, karena Tuhan akan memeluk mimpi-mimpi itu

Semakin lama semakin berkurang tantangannya. Pekerjaan itu tidak memberiku kelimpahan, tapi memberi keamanan finansial & kehidupan yang itu-itu saja, demikian gampang diramalkan kesudahannya

Aku terjamin secara sederhana, terlindung oleh sistem, stabil secara psikologis, mapan secara sosial, & semua itu membuatku bosan

Aku ingin mengarungi padang & gurun-gurun, ingin melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, & menciut dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!

Aku yang hidup sesuai dengan tuntunan Dasa Dharma Pramuka, taat pada perintah orangtua, selalu belajar dengan giat & tak lupa minum susu, jarang dapat melebihi nilai mereka

Aku sadar diri, dari seluruh kemungkinan logis ketertarikan pria wanita secara fisik, materialistik, filosofik, idealisme, kultur, ekspektasi, kemistri, gengsi, atau apapun, tak secuil pun aku memenuhi kualifikasi

Bagi yang mudha yang punya Ghaya ... Rambathe Ratha Hayo! Singsingkanh lenganh bajuhh kalau kitah mau majuhh!!

Agen travel hanya cocok untuk para pensiunan. Perjalanannya tak dapat disebut sebagai penjelajahan. Kami tak mengharapkan perjalanan yang mudah. Kami ingin tantangan yang menggetarkan. Inilah esensi petualangan

-Ide-ide sinting memang selalu memiliki dua dimensi: dicemooh / diikuti orang-orang frustasi
-Karena kalian berani bermimpi. Mimpi-mimpi kalian menginspirasi

Aku selalu terobsesi pada tantangan tertinggi & cobaan sampai batas terendah aku dapat menoleransi daya tahanku

Mereka memberi makan para gelandangan, tanpa peduli gelandangan itu katolik, protestan, mormon, baptis, agnostik, atheis, budha, muslim, komunis, demokrat, republikan, homo, lesbian, transeks, hetero, atau penjahat

Jika ingin menjadi manusia yang berubah, jalanilah, tiga hal ini: sekolah, banyak-banyak, membaca Al-quran, & berkelana - Ibunda guru Muslimah Hafsari

Jika kita berupaya sekuat tenaga menemukan sesuatu, dan pada titik akhir upaya itu hasilnya masih nihil, maka sebenarnya kita telah menemukan apa yang kita cari dalam diri kita sendiri, yakni kenyataan, kenyataan yang harus dihadapi, sepahit apa pun keadaannya

Ini adalah ekstase terbesar yang hanya mungkin dicapai mereka yang berani bermimpi, berani keluar dari cangkang siputnya, untuk menemukan jawaban pertanyaan atas dirinya.

Rabu, 13 Desember 2017

Mother

  • Menemani saat khitan (kelas 5 SD)
  • Mengajari doa iftitah sambil memasak air
  • Melayani permintaan aneh-aneh saat makan
  • Memberi uang Rp 500 berlembar-lembar untuk uang saku sekolah (kelas 4 SD)

  • Mengajari mengenal huruf, mengeja, berhitung
  • Ikut shalat tarawih di masjid sambil tidur
  • Membantu menarik sepeda beroda tiga sambil menggunakan sepatu boot
  • Numpang makan di kios pasar (kelas 6 SD)

-Terpaksa merantau meninggalkan kedua putranya yang masih kecil-kecil untuk menghidupi mereka, setelah ditinggal mati sang suami
-Berjuang untuk bisa hidup bersama putra pertamanya, karena akan diambil alih oleh saudara iparnya

Warga Banyuurip Dukuh Kembaran

Nala Gareng-Kis
Pak Dadi-Suyati
Suto
Tulas
Much. Ghorib-Suyatinah
Legirin-Sih
Kuter
Priyo Santosa-Sulis Sri Ambarnani(Anik)
Jum Bodong
Sutres
Naidok
Kentar
Wowar
Klungsu
Yuli-Parwoto
Medel
Murah Warni
Yanto-Suprih
Sukinah
Pariman
Sukiman
Zaenal
Agus Hermanto-Sri Wuri Handayani (Adam Kacu)

Jumadi-Satinem
Timbang
Wiyono-Gin
Dupung, Slamet luyung
Tumi
Sarilan
Ponidi
Sokinem (Tape-tape)
Terlan
Rapih
Diono - Parinem (Inem)
Pawit
Lelur
Genthong-Pawiro
Marno semir-Parni
Guthu
Mayusli-Ita Heni Astuti
Misino-Painah
Bambang Suryono
Batato (Martok
Ndari
Sugriwo-Painah
Slamet
Lusman
Jumiran-Asmarani
Tombir
Pardiyo-Prihatiningsih (Klarah)
Kacuk-Timek
Wardi
Minarni>Dian
Ari dele
Taruno
Sri
Karsih (Kinjenk Cewox)

Gimin
Njono
Hadi
Situm
Jaswan-Tri Astuti
Marwoto-Ngafiati Sunarsih (Bu Woto)
Lerep
Joko-Yanti
Tatok Sugiyono-Wahyutik < Jaminah
Nursinggih
Precil
Minuk-Kanthong
Semi
Ponirah-Kastono
Wasiyem
Dewi
Sarikem
Sukirno (Saring)-Sulistyanti
Wasito
Suyan
Sutar

Novel "Maryamah Karpov" - Andrea Hirata (II

Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang

Sebulan sudah aku di kampung, tanpa pekerjaan, berijazah universitas, maka profil demografiku dapat digambarkan seperti ini: pengangguran paling intelek di Pantai Timur Belitong. Sebab aku ini tak lebih dari jutaan orang muda berijazah perguruan tinggi di negeri ini yang gugup ketar-ketir menghadapi masa depan

Betapa tak menyenangkan hidup menganggur. Berusia di atas dua puluh lima tahun, masih makan beras hasil jerih payah orangtua, masih berteduh di bawah atap rumah orangtua yang beranjak uzur, adalah bentuk penderitaan diam-diam

Aku telah mengambil hikmah dari beragam pengalaman pahit hidupku tapi nyaris tak ada hikmah apapun dari menganggur. Para penganggur bertempur setiap hari melawan rasa pesimis yang menggerogoti pelan-pelan waktu yang hampir habis, kesempatan yang kian tipis, saingan yang makin ganas, kepercayaan diri yang merosot, & harga diri yang longsor, pertempuran dalam perang yang terlupakan

Mereka menyadari diri sebagai perantau & mendidik turunannya dengan mentalitas perantau: disiplin, efektif, keras

Hewan itu, demi Tuhan, kurang ajar betul. Jika diusir dengan sapu, masih sempat-sempatnya ia berkelat-kelit di antara kaki meja, tujuannya untuk mengumpulkan tenaga tekan & mencuri satu momen yang pas untuk menyemprotkan kotorannya di dalam rumah, lalu berkeok nyaring terbang melalui jendela seolah mengejek: terimalah itu! Tuan rumah pelit !

Tugasnya memasak aspal, memikul tongnya & mencurahkannya di jalan yang sedang dibuat. Ini pekerjaan kuli yang paling kuli. Karena pekerjaan ini tak memerlukan daya ingat, sekaligus daya pikir

Lelaki lemah lembut nan sering bermuran durja. Hobinya melamun sendiri. Berlama-lama duduk di lengan jembatan Linggang. Meski penampilannya gagah, kumisnya baplang & jambangnya panjang, lebar bahunya kukuh, dadanya bidang, tapi hatinya gemulai. Lelaki pendulang timah yang melankolik

Yang tak berjiwa perantau, kembali ke hutan & sungai, untuk berburu, berladang, berpindah-pindah demi mencari makan

-Kau tak pernah mengerti bahaya sebelum kaurasakan sendiri. Itulah watakmu!
-Kesulitan akan gampang dipecahkan dengan mengubah cara pandang, Boi

Lanun adalah inspirasi bagi mereka yang terlahir untuk senang menantang dirinya sendiri, yang berjiwa pemberontak, yang terhinadinakan & terbuang. Untuk mereka yang memilih hidup keras

Bergabunglah seribu pujangga melantunkan rima-rima cinta. bersatulah surya & awan-gemawan melukis megahnya angkasa. Bersekutulah angin empat musim mengarak halimun selat Malaka, tak satupun, tak satupun dapat menggambarkan indahnya perasaanku

-Keajaiban akan muncul bagi orang yang berani mengambil resiko untuk mencoba hal-hal yang baru!

Archimedes, Boi, ia dituduh gila, lalu dipenggal kepalanya oleh kopral balok satu Romawi,
Galileo dipaksa membaca tujuh mazmur pertobatan lantaran menentang bapak tua Aristoteles
Muhammad dilempai batu
Colombus terbirit-birit dipanah orang Indian
Mary Currie megap-megap kena radiasi
Faraday senewen keracunan merkuri
Gandhi ke penjara seperti ke jamban saja

Seseorang yang tak diinginkan tapi selalu datang, seseorang yang selalu ditampik tapi terus hadir, lambat laun menjadi seseorang yang diharapkan, dirindukan boleh jadi, begitulah tenaga dahsyat kebiasaan

-Seseorang yang menjadi sumber kekuatan terbesar adalah pula sumber kelemahan terbesar

Novel "Maryamah Karpov" - Andrea Hirata (I

Novel "Maryamah Karpov" karya Andrea Hirata
Novel Keempat dari tetralogi Laskar Pelangi
Penerbit Bentang

Naik pangkat tak masuk dalam perbendaharaan kata Ayah yang tak punya selembarpun ijazah. Kata-kata itu asing & ganjil di telinganya. Bagi ayah, naik pangkat adalah kata-kata ajaib milik orang Jakarta

Mereka bersekutu secara tidak resmi dalam sebuah perkumpulan persaudaraan senasib bagi warga Republik tak berijazah

Sebab di negeri ini, mengharapkan pemerintah memberi kita kebahagiaan agak sedikit riskan. Pemerintah sibuk dengan kebahagiaannya sendiri

Aku telah mengalami banyak hal menyakitkan. Sejak kecil, setiap segi dalam hidupku mesti diperjuangkan seperti perang. Menyerah adalah pilihan yang menghinakan bagiku

Atas nama harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat nasib membuktikkan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak para pemberani

Menggerus pohon karet, menjerang kopra, menyarai madu, menangguk ikan, memunguti kerang, mengais untuk makan

Aku bertanya kepada Yang Mahatinggi: berapa banyakkah Ia telah menurunkan perempuan peraga pelampung yang berdaya kejut listrik voltase tinggi macam ini di muka bumi ini?

Beberapa pria sangar menyongsongku dengan sikap ingin merebut tas-tasku. Beringas, bermata liar, yang tersenyum baik, bajunya bersih, rapi, gaya rambut belah samping, & lebih mirip guru Pendidikan Moral Pancasila di sebuah SD Inpres- tapi aku tahu bahwa dia itu bajingan. Ia menawariku tiket dengan harga  empat kali lipat lebih mahal

Ia bersungut tak acuh dengan nada yang amat terlatih. Pria ini meramu bujukan, simpati, sikap bersahabat, desakan, ancaman, sedikit tak butuh

-Manusia yang dididik lingkungan keras untuk mengepulkan asap dapur akan menjadi kawakan tiada banding

Jakarta telah merabunkan nurani orang-orang kampung itu yang tahun lalu ketika baru tiba dari udik masih sangat lugu, Jakarta bisa saja membuat orang jadi durjana

Para penumpang yang lebih dulu masuk telah menjelma menjadi makhluk teritorial, mirip kawanan hyena di Padang Masa Mara. Mereka mengklaim areanya sendiri. Dengan seringai tak bersahabat, mereka menghalau siapapun yang mendekat

-Pimpinan Orkes Melayu Pasar Ikan belok kiri

Rupanya segenggam cinta yang setia takkan habis untuk seorang kekasih sepanjang hidup, tapi segantang cinta, takkan pernah cukup dibagi-bagi

Rautnya santun & agak pendiam, bicaranya pelan, penuh sikap hormat. Ini tipe gentleman yang selalu mendengar nasihat orangtua

Tempat ini bak miniatur nirwana, eksotika tropikana, Tanah Air kata jelata, tanah tumpah darah pekik para patriot, ibu pertiwi syair sajak pujangga, tanah akar ilalang bagiku

Susah jadi politisi, kalau kaya, disangka korupsi, kalau nyumbang, bangun-bangun sekolah, disangka money laundry, cuci-cuci uang

-Dalam semanggar kelapa, tak semuanya dapat menjadi cupak. Itu pepatah Melayu Purba

Begitu terinspirasi pada petualangan, perlawanan & pemberontakan-pemberontakan, tak senang serba kecukupan. Ia terobsesi pada hidup serba susah penuh perjuangan untuk mandiri. Ia ingin membangun hidupnya sendiri, tak mau dibantu siapapun

Ada jenis orangtua yang tak pernah menganggap anaknya sudah besar, bagi mereka, anaknya tak lain si ingusan dulu yang suka mengacau saja

-Tonton saja, Bujang, usahlah kaurisaukan, itu bahasa orang Jakarta !

KITAB EPOS "MAHABHARATA" - C. Rajagopalachari

Kitab Epos "Mahabharata" karya C. Rajagopalachari
Penerbit IRCiSoD

PERANG BHARATAYUDHA

* MAHASENAPATI KURAWA
   1. Bhisma
       Mati pada akhir hari ke-10
       Seluruh badan tertembus panah -- Srikandi & Arjuna
   2. Durna
       Memimpin selama 5 hari
       Ditebas kepalanya -- Dristadyumna
       Dibunuh saat telah kehilangan hasrat hidup, membuang senjatanya & duduk bersemedi di atas kereta
   3. Karna
       Mati pada akhir hari ke-17
       Dipanah, mengenai & melukai kepalanya -- Arjuna
       Krishna yang menyuruh Arjuna menghabisi Karna ketika ia berusaha mengangkat roda dari lumpur
       karena terperosok
   4. Raja Salya
       Memimpin sampai hari terakhir peperangan
       Ditombak oleh Yudhistira
   5. Aswatama

Dristadyumna == Mahasenapati Pandawa
dibunuh saat tidur lelap oleh Aswatama

Perang terjadi di medan Kurusetra

* PANJI-PANJI PERANG
   - Bhisma = panji-panji bergambar pohon palem & 5 bintang
   - Aswatama = berlambang singa
   - Durna = berlambang mangkuk pandita & busur panah warna kuning keemasan
   - Duryudana = panji-panji ular kobra
   - Abimanyu = panji-panji berlambang pohon karnikara keemasan
   - Arjuna = panji-panji Hanoman

* NAMA-NAMA
  - Yudhistira = Dharmaputra
  - Bima = Bimasena
  - Karna = Radheya
  - Arjuna = Dananjaya, Palguna, Partha
  - Krishna = Wasudewa, Madhawa, Madhusudana, Kesawa, Janardana, Pradyumna

* Formasi perang Bharatayudha
   H-1 = Pandawa - Formasi jarum
   H-3 = Pandawa - Formasi bulan sabit
             Kurawa - Formasi burung garuda
   H-6 = Pandawa - Formasi makara (ikan raksasa dengan kepala bertanduk)
             Kurawa - Formasi krauncha (burung bangau)
   H-7 = Pandawa - Formasi wajrawyuha (halilintar)
   H-8 = Pandawa - Formasi trisuda (tombak bermata 3)
             Kurawa - Formasi kura-kura (kurmawyuha)

Sumpah Karna:
Selama engkau memimpin bala tentara Kurawa, aku tidak akan angkat senjata. Jika engkau bisa membunuh Pandawa & membawa kemenangan bagi Kurawa, aku akan ikut senang. Aku akan meninggalkan istana & dunia ramai untuk bertapa. Tapi jika engkau tewas, aku -yang engkau katakan bukan anak sais kereta - akan memacu keretaku & bertempur melawan orang-orang yang engkau anggap lebih mumpuni dalam olah senjata daripada aku. Aku akan kalahkan mereka & membawa kemenangan untuk Duryudana

Sumpah Arjuna:
Sebelum matahari terbenam, aku akan bunuh Jayadrata (Raja Sindu) yang menyebabkan kematian putraku. Jika Durna & Kripa menghalangiku, akan kuunuh kedua mahaguru itu

Sumpah Arjuna II:
Para kesatria yang kuhormati, aku telah bersumpah untuk melindungi semua sahabatku yang ada dalam jarak sebidikan anak panahku. Aku tidak akan membiarkan sahabatku mati di tangan musuh.

Tentang kematian Mahaguru Durna
Tidak ada yang bisa mengalahkan Durna, jika kita menurut secara kaku pada tata krama perang. Kita hanya bisa mengalahkannya jika kita menanggalkan dharma. kita tidak punya pilihan lain. Ada satu hal yang bisa membuatnya berhenti berperang. Jika dia mendengar Aswatama tewas, dia akan kehilangan semangat hidup & membuang senjatanya. Harus ada orang  yang mengatakan bahwa Aswatama tewas

*KEMATIAN-KEMATIAN TOKOH
 - Abimanyu = Dikeroyok para kesatria Kurawa
 - Gatotkaca = Ditombak Karna (senjata pemberian Batara Indra)
 - Dursasana = Berkelahi dengan Bima
 - Sengkuni = Terpanah tepat mengenai leher oleh Sadewa
 - Burisrawa = Ditebas lehernya oleh Satyaki (saat sedang bersemedi di atas tumpukan anak panah)
 - Krishna & bangsa-bangsanya kena kutuk dari sang Resi
 - Destrarata, Gandari, Kunti = Pergi ke hutan & meninggal ditelan kobaran api di hutan

Raja Dasarata+Dewi Kaikeyi = Bharata
Raja Sentanu+Dewi Gangga = Dewabrata (Bhisma)
Raja Sentanu+Setyawati = Citranggada
Wicitrawirya+Ambika = Destrarata
Destrarata+Gandari = Kurawa

Wicitrawirya+Ambalika = Pandu
Pandu+Kunti = Yudhistira, Bima, Arjuna
Arjuna+Subadra = Abimanyu
Abimanyu+Uttari = Parikesit
Pandu+Madri = Nakula & Sadewa

Character

Berpendirian keras
Berani & Nekad
Otak licik & Penuh tipu muslihat
Pemberontak
Senang Berkelana
Senang mencoba hal baru
Selalu ingin berbeda

Pendiam
Pemalu
Pemurung
Minder
Cuek


_Des 2017