Rabu, 09 Juli 2025

Museum Gunungapi Merapi

Museum Gunungapi Merapi mulai dibangun pada tahun 2005 atas kerjasama antara kementrian ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral). Pemerintah Provinsi DIY dan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Museum Gunungapi Merapi diresmikan pada tanggal 1 Oktober 2009 oleh menteri ESDM, Purnomo Yusgiantoro.

Pada tanggal 1 Januari 2010 Museum Gunungapi Merapi resmi dibuka untuk umum.

Pengelolaan Museum Gunungapi Merapi berada dibawah Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.

Museum Gunungapi Merapi memiliki luas area 3,5 hektar dan luas bangunan 4.470 m2.

Museum Gunungapi Merapi beralamat di Dusun Banteng, Kalurahan Hargobinangun, Kapanewon Pakem, Kabupaten Sleman, Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.


 1. Tiket Masuk Museum



2. Papan informasi tentang Museum Gunungapi Merapi



3. Geopark Jogja



4. Gedung Museum Gunungapi Merapi



5. Denah Museum Gunungapi Merapi



6. Maket Gunungapi Merapi



7. Erupsi Gunung Merapi 2010



8. Erupsi Gunung Merapi 2010



9. Erupsi Gunung Merapi 2010



10.



11.



12.



13. Bom Vulkanik Gunung Galunggung



14. Evolusi Bumi



15. Foto Mikroskopik Sayatan Tipis Batuan



16.



17. Peringatan Dini Tradisional (Early Warning)



18. Peringatan Dini Instrumental


.

19.



20.



21. Pemantauan Gunungapi Merapi



__


1. Sumber Daya Gunungapi. Dekorasi Kehidupan



2. Morfologi Kubah Lava Puncak Gunung Merapi



3. Cara Penyelamatan Diri dari Ancaman Bahaya Gunungapi



4. Peta Kawasan Gempa Bumi Merusak Yogyakarta dan Jawa Tengah (Earthquake Hazard Zone)



5. Pengaruh Letusan Gunungapi Terhadap Perubahan Iklim (Climate Change due to Volcanic Eruption)



6.



7.



8. Labuhan Merapi



Mitos Merapi 'Nyai Gadung Melati'

Diantara sekian banyak tokoh mahluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama 'Nyai Gadung Melati' yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan di daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan

Nyai Gadung melati juga sering muncul di mimpi- mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk Nyai Gadung melati disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.

Situs Petilasan Syekh Jumadil Kubro dan Bunker Kaliadem

 Situs Petilasan Syekh Jumadil Kubro

1.


2.Norma dan Tata Tertib Berziarah


3. Peringatan dan Larangan Peziarah



4.



5.


6.


7.


8. Silsilah


9.


10.



Bunker Kaliadem

1.



2.



3.



4.



5.

Senin, 07 Juli 2025

KITLV

Koninklijk Instituut voor de Taal-, Land- en Volkenkunde atau Royal Netherlands Institute of Southeast Asian and Carribean Studies, Lembaga Studi Asia Tenggara dan Karibia Kerajaan Belanda.

Hampir semua buku tentang Indonesia ada di sana, seperti tentang sejarah, arkeologi, bahasa dan sastra. Buku- buku itu ditulis dalam berbagai bahasa.

KITLV tidak hanya mengumpulkan buku, tapi juga melakukan penelitian dan menerbitkan buku dan majalah mengenai hasil penelitian itu. Salah satu publikasi KITLV itu berupa jurnal ilmiah yang disebut Bijdragen Tot deTaal-, Land- en Volkenkunde, populer disebut BKI.

KITLV adalah penyelamat buku- buku tua san tulisan- tulisan lain tentang Indonesia. Sumber- sumber itu disimpan dalam bentuk mikrofilm atau mikrofiche dan digitalisasi.

Untuk mengakses bahan- bahan yang sudah didigitalisasi, orang tidak perlu lagi datang mengunjungi perpustakaan. Sejak lama keberadaan internet sangat membantu pencarian akses karya- karya ilmiah di KITLV. Tentu saja syarat utama harus menjadi anggota KITLV.

KITLV berdiri pada 4 Juni 1851. Kota kelahiran KITLV adalah Delft. Pada awalnya tujuan pendirian KITLV adalah memajukan ilmu bahasa, budaya dan sejarah Hindia Belanda dalam arti yang seluas- luasnya.

Pada 1865 anggaran dasar KITLV diubah, sehingga bidang yang ditangani KITLV diperluas sampai meliputi semua daerah jajahan Kerajaan Belanda. Tiga tahun kemudian (1868) KITLV berpindah dari Delft ke Den Haag.

Pada 1966 KITLV pindah ke Leiden, menempati salah satu ruangan di Universitas Leiden. Pada awal pendiriannya (1851), jumlah anggota KITLV hanya 100.

Di Indonesia sendiri jumlah anggota KITLV merupakan mayoritas. Kebanyakan dari mereka berprofesi sebagai arkeolog, sejarawan, antropolog, politikus, wartawan, ahli bahasa, sosiolog, dsb.

KITLV atau Lembaga Bahasa, Budaya dan Sejarah, membuka perwakilan di Indonesia pada 1969 dan berkedudukan di Jakarta. Dalam beraktivitas, KITLV bekerja sama dengan LIPI (Lembaga İlmu Pengetahuan Indonesia).

KITLV sering bekerja sama dengan beberapa penerbit swasta. Buku yang pernah diterbitkan antara lain Belanda di Irian Jaya (bekerja sama dengan Penerbit Garba Budaya, 2001), Kenang- kenangan Pangrehpraja Belanda 1920- 1942. (Penerbit Djambatan, 2002) dan Tarekat Mason Bebas dan Masyarakat di Hindia Belanda dan Indonesia 1764- 1962 (Pustaka Sinar Harapan, 2004).

Sejak 2014, KITLV tidak mengeluarkan majalah BKI versi cetak. Namun KITLV tetap memiliki kantor perwakilan di gedung erasmus huis Jakarta. Sekarang untuk mempermudah masyarakat, KITLV bisa diakses secara daring. Bukan hanya publikasi, foto- foto dan peta- peta lama Indonesia ada di sana.


kompasiana.com/ djuliantosusantio/ kitlv-di-belanda-memiliki-banyak-koleksi-buku-dan-foto-tentang-indonesia

Kamis, 03 Juli 2025

Gunung Merbabu

Jika memandang dari puncak Sarip yang berketinggian 3119 mdpl akan terlihat beberapa puncak, yakni, Kenteng songo, Watu tulis dan Gunung Kukusan.

Watu Gubung, sebuah batu besar yg berlobang yg konon adalah pusatnya makhluk gaib di Gunung Merbabu.
Bagi para pendaki batu tersebut sering digunakan sbg tempat perlindungan "shelter" pd saat cuaca buruk.

Puncak Kenteng Songo, dimana ditempat tersebut terdapat 9 Batu Kenteng. Batu Kenteng adalah batu berbentuk bulat yg tengahnya terdapat lobang dan mirip Lumpang "tempat menumbuk padi".

Puncak Sarip. Nama puncak yg diabadikan utk mengenang seorang pelarian yg bernama Sarip pd masa kolonial dan bersembunyi di puncak Timur Gunung Merbabu.

Memiliki 4 jalur pendakian resmi.
-Jalur utara melewati Desa Thekelan dan Cuntel.
-Jalur barat lewat Desa Wekas.
- Jalur selatan lewat Desa Selo.

Bagi yg baru pertama mendaki disarankan lewat jalur Wekas atau Cuntel, karena jalur dengan jalan setapak yang jelas, tidak terlalu menanjak dan terdapat beberapa sumber mata air disepanjang jalur pendakian.

Bagi yang sudah terbiasa, bisa melewati jalur Thekelan, dengan rute yang sedikit memutar, namun akan terpuaskan dengan suguhan pemandangan bentang alam yang luar biasa indahnya.

Dari jalur Thekelan akan ditemukan Pereng putih, sebuah Tebing dengan batuan andhesit yang ditumbuhi lumut kerak "Lichenes" berwarna putih yang akan mengeluarkan gema saat anda berteriak kencang.

Di pos 3 jalur Thekelan akan ditemukan maskot gunung merbabu yakni watu gubug yang disakralkan penduduk setempat.

Jalur Selo yang terletak di sisi selatan Merbabu, jalur yang cukup panjang dan selalu berhadapan dengan punggungan terbuka dengan padang rumput yang luas. Dimanjakan dengan pemandangan yang menakjubkan dengan padang rumput dan grombolan tumbuhan edelweis dan cantigi.

Keuntungan jalur Selo adalah akses langsung menuju puncak tertinggi, sedangkan 3 jalur yang lain harus melewati beberapa puncak untuk sampai puncak 3142 mdpl.

Jalur cuntel, wekas dan thekelan akan bertemu pada satu titik yakni pada gunung watu tulis. Di tempat ini terdapat sebuah menara dan antena relay milik TNI dan biasa pendaki menyebut dengan pemancar.

Watu tulis adalah puncak pertama yang bisa dijejaki, berjalan selanjutnya menuju ke selatan dan akan dijumpai kawah dengan kepulan asap berbau belerang. Disini juga akan ditemukan sumber mata air, namun harus jeli membedakan air tawar dengan air yang sudah bercampur belerang.

Disisi kanan kawah terdapat sebuah bukit kecil yang dinamakan gunung kukusan, karena bentuknya kerucut mirip alat pengukus tradisional.

Dari kawah untuk menuju puncak, pendaki akan dihadapkan pada sebuah jalur yang terjal yang dinamakan "Sri Gremet". Gremet diambil dari bahasa jawa yang artinya pelan, jadi perjalanan di jalur ini harus merayap dan ekstra hati- hati sebab sisi kanan- kiri adalah jurang.

Setelah menyelesaikan sri gremet akan melewati jalur "Geger Sapi" atau punggung sapi, yakni sebuah jalur sempit yang sisi kanan dan kiri adalah jurang. Analogi punggung sapi hingga punuk sapi untuk menggambarkan jalur tersebut.

Jembatan setan adalah jalur selanjutnya dan entah darimana nama tersebut diambil. Jalur yang terjal dan sedikit melelahkan namun akan terbayar usai diselesaikan, sebab langsung dihadapkan pada 2 pilihan. Pilihan pertama adalah mendaki puncak Sarip dengan waktu tempuh sekitar 10 menit atau 40 menit menuju puncak Kenteng songo.

Jalur kenteng songo sedikit landai. Pendakian terberat sebelum puncak adalah jalur Ondo rantai, jadi sebuah jalur terjal yang berundak- undak mirip tangga. Acapkali pendaki dipaksa untuk merayap bahkan memanjat dengan berpegangan pada perakaran Cantigi yang kokoh.

Di puncak kenteng songo akan ditemukan beberapa batu yang berbentuk bulat dan berlubang, namun saat ini kondisinya rusak oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab.

Jalan ke sisi barat sekitar 5 menit untuk sampai di puncak Trianggulasi pada ketinggian 3142 mdpl. Dari puncak inilah akan bertemu dengan jalur selo.

Di sisi barat menjulang 2 gunung kembar, Sindoro dan Sumbing.
Sisi utara terdapat 3 gunung, Ungaran, Andong dan Telomoyo.
Sisi timur nampak samar Gunung Lawu.
Dan sisi selatan Gunung Merapi dengan asap solfatara selalu mendampingi.


kompasiana.com/ eksotisme-merbabu-di-balik-sisi-historis-dan-mistis

Senin, 16 Juni 2025

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat 2/2

Sri Sultan naik tangga- lantai membelok ke kanan, tampaklah olehnya dihadapannya pohon jambu tlampok arum. Ini mengandung arti "Berkatalah selalu yang harum- harum. Bicaralah selalu bijaksana. Supaya nama tuan berbau harum di seluruh dunia".

Bangsal Witono artinya "heningkanlah fikiran tuan". Witono asal dari bahasa kawi, berarti tempat duduk di surga. Dalam bahasa jawa perkataan : wiwitana, artinya mulailah. Bangsal witono itu tempat pusaka- pusaka kraton pada upacara- upacara grebeg.

Sebelum Sri Sultan duduk di singgasana, singgasana diatur dahulu di Bangsal Manguntur Tangkil oleh dua abdi dalem kraton yang namanya berawalan Wignya dan Derma.

Tiap- tiap pegawai karaton menurut golongan jabatannya, misalnya wignyasekarta, wignyamenggala dan sebagainya, atau dermosemono, dermokalpito.

Awalan wignya menunjukkan jabatan tukang membawa "ampilan" Sri Sultan, misalnya tombak, pedang dan lain- lain, sedang awalan dermo menunjukkan jabatan ahli ukir mengukir.

yang disebut bangsal manguntur tangkil adalah sebuah bangsal kecil yang terletak di trateg sitihinggil, jadi sebuah bangsal di dalam bangsal. Mempunyai arti, bahwa di dalam badan kita (wadag) ada roh atau jiwa.

Manguntur tangkil berarti tempat yang tinggi untuk anangkil, yaitu untuk menghadap Tuhan Yang Maha Kuasa dengan cara mengheningkan cipta atau bersemedi.

Gadis- gadis pada upacara grebeg, semua ada 9 orang, ampilan dalem ada 9 macam, prajurit kraton ada 9 bendera (peleton), jalan keluar- masuk kraton ada 9 buah. Angka 9 ini banyak kita jumpai di kraton dan menggambarkan adanya 9 orang wali, penyebar agama islam di Jawa, juga adanya 9 lobang di badan kita.

Alun- alun, menggambarkan suasana "nglangut" suasana tanpa tepi, suasana hati kita dalam semadi. Pohon beringin di tengah- tengah alun- alun menggambarkan suasana, seakan- akan kita terpisah dari diri kita sendiri, seakan- akan kita kembar.

Simpang empat di sebelah utara. Pengurakan menggambarkan goda- goda dalam semedi. Kita tak boleh ke kanan atau ke kiri, tetapi terus ke tujuan kita.

Pasar beringharjo. Gambaran rintangan- rintangan atau goda- goda dalma semadi yang hebat. Semua ada di pasar, wanita- wanita cantik, makanan lezat, minuman segar, kain bagus berwarna- warni, bau- bauan yang wangi dan sedap.

Kepatihan. Seorang patih adalah seorang pegawai tertinggi dari Sri Sultan yang besar sekali kekuasaannya. Memuat arti godaan dalam semadi berupa kekuasaan, drajat, pangkat dan semat (uang).

Akhir tujuan, Tugu simbol dari tempat alif mutakalliman Wachid, badan, ilafi, bersatunya kawula dan Gusti, bersatunya hamba dan Tuhannya, suatu suasana dalam cita rasa kita, yang memberi keyakinan dan izin dari Tuhan Yang Maha Kuasa.

Prajurit- prajurit pengawal gunungan beruniform hitam dan satunya putih. Hitam simbol dari ketetapan hati. Putih simbol dari kesucian. Kedua peleton ini merupakan simbol dari sifat: tetap suci.

Kemandungan Lor. Dilihatnya pohon- pohon keben. Ini mengandung arti: "Tangkeben (tutuplah) ! mata saudara, telinga saudara, rasa saudara, sebab saudara sebentar lagi akan menginjak zaman sakaratul maut".

Masuk regol sri manganti. Dahulu Sri Sultan berkenan duduk sebentar di bangsal sri manganti, dijemput oleh permaisuri serta putra- putra Sri Sultan. Ini menggambarkan waktu kita telah menginjak di alam barzakh. 

Kemudian datanglah dua orang bupati nayaka kepadanya untuk mohon perintah Sri Sultan atau untuk menghaturkan minuman kepadanya. Ini menggambarkan datangnya dua malaikat yang memberi pelajaran- pelajaran atau petunjuk- petunjuk agama Islam berdasarkan kitab Al quran di alam barzakh.

Bangsal traju mas. Ini mengandung arti supaya kita menimbang- nimbang mana yang betul, mana yang salah, jangan sampai ingat lagi pada keduniawian, isteri dan anak- anak yang kita tinggalkan.

Gedung purwaretna. Ini mempunyai arti: "kita harus selalu ingat kepada asal mula kita". Di atas regol ada sebuah bulatan atau dengku mengelilingi jagad atau buwana. Mengelilingi Buwana, nama Sri Sultan. Purwa= pertama= asal. Retna= intan, cahaya.

Gedong purwaretna ini bertingkat tiga, gambaran dari baital makmur, baital mucharam dan baital muchaddas. Jendela ada 4 keblat atau 4 tingkat ketauhidan yaitu syariat, tharikat, chakekat dan ma'rifat.

Regol danapratapa memberi nasehat kepada kita: sebaik- baik manusia, ialah ia yang suka memberi dengan ikhlas serta suka memberantas hawa nafsunya.

Arca raksasa di kanan kiri regol menggambarkan nafsu baik dan nafsu jahat pada tiap- tiap manusia.

Pohon jambu dersono yang ada di kanan kiri regol danapratapa memberi nasehat kepada kita: sebaik- baik manusia ialah ia yang dapat membedakan antara baik dan jahat.

Bangsal kencana, perkataan kencana itu mengandung sifat- sifat, anasir- anasir yang bercahaya. Bangsal kencana adalah gambaran bersatunya kawula- gusti.

Gedong prabayeksa, di dalam gedong ada sebuah lampu yang tak pernah padam, bernama kyai wiji. Praba artinya cahaya, yeksa berarti besar, jadi cahaya yang besar/ tenang. Semua itu mengandung arti: menurut kepercayaan, perjalanan roh di zaman akherat itu mengikuti jalannya cahaya sampai di sebuah tempat yang tetap, yang terang dan langgeng.

Sebelah kanan gedong prabayeksa berdiri sebuah bangunan besar bercat kuning, namanya gedong kuning. Gedong ini gambaran tempat roh- roh yang telah hening, bening, murni yaitu surga langgeng. Kuning adalah warna segala sesuatu yang bersifat Ketuhanan. Semua itu hanyalah gambaran- gambaran saja, suatu nasehat dari orangtua kepada turun- turunannya secara visual- edukatif. Nyatanya terserah kepada Tuhan Maha Tau.


K.P.H. Brongtodiningrat. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat 1/2

Karaton ialah tempat bersemayam ratu- ratu, berasal dari kata- kata: ka + ratu + an = kraton. Juga disebut dengan kadaton, yaitu ke + datu + an = kedaton, tempat datu- datu atau ratu- ratu.

Arsitektur bangunan- bangunannya, letak bangsal- bangsalnya, ukiran- ukirannya, hiasannya, sampai pada warna gedung- gedungnya mempunyai arti. Pohon- pohon yang ditanam didalamnya bukan sembarang pohon.

Arsitek dari karaton ini ialah Sri Sultan Hamengku Buwono I sendiri.

Kompleks kraton terletak di tengah- tengah, tetapi daerah karaton membentang antara Sungai Code dan Sungai Winanga, dari utara ke selatan, dari Tugu sampai Krapyak.

Nama kampung- kampung jelas memberi bukti kepada kita, bahwa ada hubungannya antara penduduk kampung itu dengan tugasnya di kraton pada waktu dahulu, misalnya : Gandekan = tempat tinggal gandek- gandek (koerir) dari Sri Sultan, Wirobrajan tempat tinggal prajurit- prajurit Wirobraja, Pasindenan tempat tinggal pesinden- pesinden (penyanyi- penyanyi) kraton.

Daerah kraton terletak di hutan Garjitawati, dekat desa Beringin dan desa Pacetokan. Karena daerah ini dianggap kurang memadai untuk membangun sebuah kraton dengan bentengnya, maka aliran Sungai Code dibelokkan sedikit ke timur dan aliran Sungai Winanga sedikit ke barat.

Kraton Yogyakarta dibangun pada tahun 1756 atau tahun Jawa 1682, diperingati dengan sebuah condrosengkolo memet di pintu gerbang Kemagangan dan di pintu gerbang Gadung Mlati, berupa dua ekor naga berlilitan satu sama lainnya. Dalam bahasa Jawa : "Dwi naga rasa tunggal". Warna naga hijau. Hijau ialah simbol dari pengharapan.

Di sebelah luar dari pintu gerbang itu, di atas tebing tembok kanan- kiri ada hiasan juga terdiri dari 2 ekor naga bersiap- siap untuk mempertahankan diri. Dalam bahasa Jawa: "Dwi naga rasa wani".

Tahunnya sama, tetapi dekorasinya tak sama. Ini tergantung dari arsitektur, tujuan dan sudut yang dihiasinya. Warna naga merah. Merah ialah simbol keberanian.

Di halaman Kemagangan ini dahulu diadakan ujian- ujian bela diri memakai tombak antar calon prajurit- prajurit kraton.

Luas kraton Yogyakarta adalah 14.000 m². Di dalamnya terdapat banyak bangunan- bangunan, halaman dan lapangan- lapangan.

Mulai dari halaman kraton ke utara:
1. Kedaton/ Prabayeksa
2. Bangsal Kencana
3. Regol Danapratapa (pintu gerbang)
4. Sri Manganti
5. Regol Srimanganti (pintu gerbang)
6. Bangsal Poncowati (dengan halaman kemandungan)
7. Regol Brajanala (pintu gerbang)
8. Siti Inggil
9. Tarub Agung
10. Pagelaran (tiangnya berjumlah 64)
11. Alun- alun utara (dihias dengan pohon Beringin 62 batang)
12. Pasar (Beringharja)
13. Kepatihan
14. Tugu
Angka 64 menggambarkan usia Nabi Muhammad 64 tahun Jawa atau 62 tahun masehi.

Dari halaman kraton pergi ke selatan maka akan melihat :
1. Regol Kemagangan (pintu gerbang)
2. Bangsal Kemagangan
3. Regol Gadungmlati (pintu gerbang)
4. Bangsal Kemandungan
5. Regol Kemandungan (pintu gerbang)
6. Siti Inggil
7. Alun- alun selatan
8. Krapyak


1. Regol = pintu gerbang
2. Bangsal = bangunan terbuka
3. Gedong = bangunan tertutup (berdinding)
4. Plengkung = pintu gerbang beteng
5. Selogilang = lantai tinggi dalam sebuah bangsal semacam podium rendah, tempat duduk Sri Sultan atau tempat singgasana Sri Sultan.
6. Tratag = bangunan, biasanya tempat berteduh, beratap anyaman- anyaman bambu dengan tiang- tiang tinggi, tanpa dinding kraton dimuliakannya dan diberi atap seng, tetapi arsitekturnya tetap tak berubah.

Bangsal Kemandungan merupakan bangsal bekas pesanggrahan Sri Sultan H. B. I di desa Pandak Karangnangka waktu perang Giyanti (1746 - 1755).

Krapyak ialah sebuah podium tinggi dari batu bata untuk Sri Sultan, kalau baginda sedang memperhatikan tentara atau kerabatnya memperlihatkan ketangkasannya mengepung, memburu atau mengejar rusa.

Kompleks kraton dikelilingi oleh sebuah tembok lebar, bernama beteng. Panjangnya 1 km, berbentuk empat persegi, tinggginya 3 ½ m, lebarnya 3 sampai 4 m. Di beberapa tempat di beteng itu ada gang atau jalan untuk menyimpan senjata dan amunisi, di keempat sudutnya terdapat bastion- bastion dengan lubang- lubang kecil di dindingnya untuk mengintai musuh. Tiga dari bastion- bastion itu sekarang masih dapat dilihat. Beteng di sebelah luar dikelilingi oleh parit lebar dan dalam.

Lima buah plengkung atau pintu gerbang dalam beteng menghubungkan kompleks kraton dengan dunia luar. Plengkung- plengkung tersebut ialah:
1. Plengkung Tarunasura atau Plengkung Wijilan di sebelah timur laut
2. Plengkung Jogosura atau Plengkung Ngasem di sebelah barat daya
3. Plengkung Jogoboyo atau Plengkung Taman- sari di sebelah barat
4. Plengkung Nirboyo atau Plengkung Gading di sebelah selatan
5. Plengkung Tambakboyo atau Plengkung Gondomanan si sebelah timur.

Di muka tiap- tiap plengkung ada jembatan yang menghubungkan daerah- daerah kraton dengan daerah luar. Kalau ada bahaya, maka jembatan- jembatan itu dapat ditarik ke atas, menutup jalan masuk ke daerah dalam beteng. Sementara itu pintu- pintu plengkungan ditutup rapat.

Plengkung Tambakboyo dahulu tertutup, tetapi pada tahun 1923 dibuka kembali oleh Sri Sultan H. B. VIII. Hanya 2 dari 5 plengkung ini masih mempunyai bentuk asli, lainnya sudah berubah sama sekali bentuknya. Kedua plengkung itu ialah Plengkung Nirboyo (Gading) dan Plengkung Tarunasura (Wijilan).

Krapyak adalah sebuah gambaran dari tempat asal roh- roh. Di sebelah utaranya terletak kampung Mijen, berasal dari perkataan Wiji (Benih). Jalan lurus ke utara, kanan kiri dihiasi dengan pohon Asem dan Tanjung menggambarkan kehidupan Sang Anak yang lurus, bebas dari rasa sedih dan cemas, rupanya "nengsemaken" (menarik) serta disanjung- sanjung selalu, istimewa oleh ibu bapanya.

Plengkung Gading atau Plengkung Nirbaya. Plengkung ini menggambarkan batas periode sang anak menginjak dari masa kanak- kanak ke masa pra- puber. Rupa dan tingkahnya masih nengsemaken (pohon asem) apa lagi suka menghias diri (nata sinom). Sinom adalah daun asem yang masih muda, rupanya hijau muda, sangat menarik, tetapi berarti juga rambut halus- halus di dahi pemudi. Sinom itu selalu dipelihara dengan cermat oleh pemudi- pemudi, karena dapat menambah kecantikannya.

Alun- alun selatan terdapat 2 pohon Beringin, bernama "Wok". Wok berasal dari kata "Bewok". Dua pohon beringin di tengah- tengah alun- alun menggambarkan bagian badan kita yang rahasia sekali, maka dari itu diberi pagar batu bata. Jumlahnya 2 menunjukkan laki- laki, namanya "Supit Urang" menunjukkan perempuan. Lima buah jalan raya yang bertemu satu sama lainnya disini menggambarkan panca indra kita.

Tanah berpasir artinya belum teratur, lepas satu sama lainnya. Keliling alun- alun ditanami pohon Kweni dan Pakel, artinya sang anak sudah wani (berani) karena sudah akik baligh.

Siti hinggil ada sebuah trateg atau tempat istirahat beratap anyaman bambu. Kanan- kiri tumbuh pohon - pohon Gayam dengan daun- daunnya yang rindang serta bunga- bunganya yang harum wangi. Siapa saja yang berteduh di bawah tratag itu akan merasa aman, tenteram, senang dan bahagia. Menggambarkan rasa pemuda- pemudi yang sedang dirindu cinta asmara.

Di Sitihinggil ditengah- tengah dahulu ada pendoponya dan di tengah- tengah lantai ada selo- gilangnya, tempat singgasana Sri Sultan. Kanan- kiri tempat duduk kerabat keratin dan abdi dalem lain- lainnya, pria wanita berkumpul menghormat Sri Sultan. Menggambarkan pemuda- pemudi duduk bersanding di kursi temanten.

Pohon- pohon yang ditanam di sini ialah pohon Mangga Cempora serta Soka. Kedua pohon ini mempunyai bunga yang halus panjang berkumpul menjadi satu, ada yang merah ada yang putih, gambaran dari bercampurnya benih manusia laki dan perempuan.

Sitihinggil ini dilingkari oleh sebuah jalan, Pamengkang namanya. Mekangkang adalah keadaan kaki kita, kalau terletak sedikit jauh satu sama lainnya.

Di halaman Kemandungan terdapat pohon kepel, palem (mangga), cengkir gading serta jambu dersono.
Menggambarkan benih dalam kandungan sang ibu. Photon Pelem menggambarkan pada gelem atas kemauan bersama. Jambu Dersono dari kadersan sih ing sesama. Menggambarkan karena diliputi oleh kasih cinta satu sama lain. Pohon kepel dari perkataan kempel atau kempal, menggambarkan bersatunya kemauan, bersatunya benih, bersatunya rasa, bersatunya cita- cita. Cengkir gading adalah sejenis pohon kelapa dan kecil bentuknya. Dipakai pada upacara "mitoni" yaitu memperingati sang bayi sudah tujuh bulan di kandungan.

Jalan kecil dari sini ke kanan dan ke kiri menggambarkan pengaruh- pengaruh negatif yang dapat menganggu pertumbuhan sang bayi.

Sampai di Kemagangan, jalan di sini menyempit (dibuat sempit) kemudian melebar dan terang benderang.

Menggambarkan sang bayi telah lahir dengan selamat menjadi magang (calon) manusia. Kepadanya telah tersedia makan yang cukup, digambarkan dengan adanya dapur kraton Gebulen dan Sekullanggen. Jalan besar kanan- kiri kemagangan menggambarkan juga pengaruh negatif atau positif atas perkembangan sang anak.

Hendaknya sang anak dididik mengarahkan cita- citanya lurus ke utara, ke kraton, tempat bersemayam Sri Sultan. Di sini ia dapat mencapai yang cita- citakannya, asal mau bekerja dengan baik, patuh pada peraturan- peraturan, setia dan selalu ingat dan mengabdi kepada Tuhan Yang Maha Murah.


Bangsal Ponconiti, ponco berarti lima, simbol dari panca indra kita. Niti berarti meneliti, menyelidiki, memeriksa. Di sinilah Sri Sultan mulai meneliti pqnca indranya, mempersatukan pikirannya untuk sujud kepada Tuhan Yang Maha Kuasa, menjunjung tinggi perintahNya. Karena itulah kanan- kiri Bangsal Ponconiti ditanami pohon- pohon Tanjung.

Halaman dimukanya disebut Kemandungan. Mandung berarti mengumpulkan. Tanaman yang terlihat di sebelah utara halaman ini adalah Pohon Kepel dan Cengkirgading.

Kepel atau kempel berarti menjadi padat atau beku. Cengkirgading berwarna kuning. Warna kuning adalah simbol segala sesuatu yang mengandung makna Ketuhanan. Jadi semuanya mempunyai arti: " Kumpulkanlah dan padatkanlah tuan punya panca indra dan fikiran, sebab tuan akan bersujud di hadapan Tuhan Yang Maha Kuasa" melalui regol brajanala. Braja berarti senjata, Nala berarti hati.


K.P.H. Brongtodiningrat. Arti Kraton Yogyakarta. Yogyakarta: Museum Kraton Yogyakarta.