Selasa, 16 Desember 2025

Kuasa Ramalan. Pangeran Diponegoro dan Akhir Tatanan Lama di Jawa, 1785- 1855. Jilid 3

Judul Asli:
The Power of Prophecy;
Prince Dipanagara and the End of an Old Order in Java, 1785- 1855.

Penerjemah, Parakitri T. Simbolon
Hak Terjemahan bahasa Indonesia pada KPG

Peter Carey. 2012.
242 hlm


- Silsilah keluarga kesultanan Yogyakarta
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Danurejan
- Silsilah keluarga yang menunjukkan hubungan Diponegoro dengan keluarga Prawirodirjan

- Istri, keluarga dan anak- anak Pangeran Diponegoro
- Patih (perdana menteri) Yogyakarta dan Surakarta, 1755- 1879
- Pejabat tinggi dalam pemerintahan Yogyakarta, 1755- 1825

- Daftar pesanggrahan, pondok berburu dan tempat peristirahatan raja (Kelangenan- Dalem) di Yogyakarta yang dibangun oleh empat sultan pertama, 1755- 1822

- Daftar pesantren, pusat pengkajian hukum Islam (pathok negari) dan daerah bebas pajak untuk para ulama dan penjaga makam kerajaan (perdikan, pamutihan, juru kuncen) di Yogyakarta pra- 1832

- Daftar kiai, haji dan pemuka agama yang berhubungan dengan Diponegoro
- Daftar pangeran dan priayi Keraton Yogyakarta yang menunjukkan lahan pemilikan dan pensiun masing- masing, 1808- 1820, serta kesetiaan selama Perang Jawa

- Pejabat tinggi Perserikatan Dagang Hindia Timur Belanda (VOC), Pemerintah peralihan Inggris dan Pemerintah Hindia Belanda, 1780 - 1858
- Harga beras di Yogyakarta (1804- 1826) dan seluruh Jawa (1817- 1825)

- Daftar senjata pusaka Diponegoro
- Daftar pengikut Diponegoro di Manado, Juni 1830- Juni 1833
- Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

- Penanggalan Jawa dan Masehi 1785- 1855
- Penerimaan dari cukai gerbang jalan, candu dan pajak lain di Yogyakarta 1808- 1825
- Perbandingan nilai mata uang kertas dan logam yang beredar di Jawa pada 1811

- Pondok pesantren, pathok negari dan daerah perdikan kaum santri dan juru kunci pemakaman kerabat keraton Yogya sebelum 1832

* Makam Diponegoro di Makassar (1855- sekarang)
Wafat pada pagi buta, Senin 8 Januari 1855, Pangeran dikuburkan di Kampung Melayu, Makassar, sesuai kehendaknya, dekat kuburan putranya, Raden Mas Sarkumo (1834- Maret 1849).

Pada 1885, saat Raden Ayu Retnoningsih meninggal, jasad Pangeran dan putra keduanya konon dipindahkan dari halaman rumah Retnoningsih ke pemakaman umum Kampung Melayu.

Karena Pangeran dikuburkan bersama dengan keris pusakanya, Kanjeng Kiai Bondoyudo, sebenarnya dengan mudah bisa dicek dengan pendeteksi logam apakah jasad Pangeran ada di pemakaman itu.


* Gubernur- Jenderal, 1780- 1855

- Willem Arnold Alting > 1780- 1796
- Pieter Gerardus van Overstraten > 1796- 1801
- Johannes Siberg > 1801- 1805

- Albert Henricus Wiese > 1805- 1808
- Herman Willem Daendels > 1808- 1811
- Jan Willem Janssens > Mei - September 1811

- Gilbert Elliot Lord Minto > Agustus- Oktober 1811
- Thomas Stamford Raffles > 1811- 1816
- John Fendall > Maret - Agustus 1816

- Godert Alexander Gerard Philip baron van der Capellen > 1816- 1826
- Leonard Pierre Joseph burggraaf du Bus de Gisignies > 1826- 1830

- Johannes van den Bosch > 1830- 1834
- Jean Chretien Baud > 1834- 1836
- Dominique Jacques de Eerens > 1836- 1840
meninggal semasa bertugas

- Pieter Merkus > 1841- 1844
meninggal semasa bertugas
- Jan Jacob Rochussen > 1845- 1851

- Albertus Jacobus Duymaer van Twist > 1851- 1856

Lord Minto adalah Gubernur- Jenderal India (1807- 1813).
Raja Willem I (bertakhta 1813- 1840).
Sistem tanam paksa (1830- 1870).
Perang Padri di Sumatra Barat (1821- 1837)


* Surat- surat Diponegoro dari Batavia (1830) dan Makassar (1835)

Surat aslinya ditulis pada kertas gubernemen dan ditemukan oleh seorang sarjana Belanda dan dosen dalam Bahasa Melayu dan Jawa di Akmil Breda, J. J. de Hollander (1817- 1886), di antara tumpukan surat- menyurat para bupati Jawa, komandan poa tentara dan pejabat Belanda yang berkaitan dengan Perang Jawa (1825- 1830) dalam arsip Akademi Militer Kerajaan di Breda.

De Hollander menerbitkannya dalam aksara Jawa dengan terjemahan Belandanya dalam Bijdragen tot de Taal-, Land-en Volkenkunde 25: 192- 6. Ia mempertahankan ejaan asli dan memasukkan banyak sekali koreksi dalam catatan kakinya yang tidak disertakan sekarang.


* Surat kepada Kolonel J. B. Clerens (1835)
Ditulis oleh Diponegoro dari Makassar pada 14 Desember 1835 kepada Mayor- Jenderal Jan Baptist Cleerens (1785- 1850). Perwira asal Nederland Selatan (pasca- 1830, Belgia) itulah (ketika itu kolonel) yang berunding dengan dia di Remokamal dan Kecawang, Bagelen utara (sekarang Banyumas), serta di Menoreh, Kedu selatan, Februari 1830 dan membujuk dia menemui Jenderal H. M. de Kock di Magelang pada 8 Maret 1830 tempat ia kemudian ditangkap, 28 Maret 1830.

Surat yang mungkin didiktekan oleh Diponegoro kepada juru- tulisnya, ditulis pada kertas gubernemen Belanda dengan tinta hitam dengan menggunakan mata pena dari lidi aren.

Berbeda dengan suratnya kepada para wali Hamengkubuwono V dan kebanyakan surat- suratnya yang ditulis di Makassar, surat tersebut memakai aksara Jawa, bukan aksara pegon. Sampul sutra kuning mencantumkan alamat dengan tulisan tangan yang berbeda karena memakai mata pena dari bulu burung.

Sampul maupun surat aslinya tersimpan di Arsip Nasional, Jakarta.

Selasa, 25 November 2025

Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa. Tim Hannigan

Judul asli
Raffles and the British Invasion of Java
2012

Jakarta; KPG (Kepustakaan Populer Gramedia), 2015
419 halaman

Tanah Harapan
Helaan Napas Pertama di Timur
Kemenangan Gemilang
Seribu Pertanyaan Kecil

Pusat Kegelapan
Tanah Kemenangan Baru
Membuat Sejarah

Kerbau dan Harimau
Pemberontakan dan Mangga
Ratu Adil

Tim Hannigan ialah penulis dan jurnalis spesialis Indonesia dan anak benua India. Buku pertamanya, Murder in the Hindu Kush (The History Press, 2011), adalah biografi memikat penjelajah Inggris abad ke- 19 George Hayward. Buku itu menjadi salah satu nominasi peraih Boardman Tasker Prize 2011 di Inggris.

Buku Raffles dan Invasi Inggris ke Jawa atau Raffles and the British Invasion of Java merupakan buku keduanya, dan meraih John Brooks Award 2013 di Inggris, untuk kategori nonfiksi sejarah.

Peta pulau Jawa 1811- 1816
Peta Jawa Tengah 1811 - 1816

Di Jawa, keris, belati seremonial, merupakan yang paling kuat di antara berbagai benda keramat yg dapat dimiliki raja atau orang biasa.

Orang- orang yg menempa keris itu bukanlah pandai besi biasa, mereka juga dukun, yang mengetahui mantra dan jampi rahasia yang akan membuat besi tipis dan diukir itu dipenuhi dengan energi tak terlihat.

Terkadang, mereka menempa logam panas dengan tangan kosong. Ketika keris diturunkan dari generasi ke generasi, kekuatannya bertambah dan ada upacara pembersihan dan sesajen tahunan yang rumit yang harus dilakukan untuk membuatnya tetap aman.

Keris pusaka sungguhan bukan sekedar benda mati, keris itu dianggap bernyawa, memiliki nama sendiri dan jika tidak dirawat dengan benar, bisa menjadi tidak stabil dan berbahaya.

Dimasukkan ke dalam sarung yang dipakai dengan benar sesuai aturan Jawa, keris juga merupakan simbol jelas dan sandi rahasia untuk potensi kejantanan- begitu besar sehingga keris seorang laki- laki sebenarnya bisa menggantikannya di samping mempelai perempuan dalam pelaminan seremonial pada hari pernikahannya seandainya mempelai laki- laki berhalangan.

Tanpa kerisnya, seorang laki- laki Jawa secara spiritual menjadi tak jantan. Terakhir, keris juga merupakan senjata praktis dan alat utama pembunuhan dan eksekusi.

Dinasti Jawa kuno yang pertama kali terlihat jelas di catatan sejarah adalah Sailendra, Para Raja Gunung. Dinasti Sailendra beragama Buddha dan memerintah di suatu tempat di Kedu di sebelah barat Gunung Merapi sejak abad ke-8.

Pada waktu yang sama, dinasti lain, Sanjaya, berdiri di dekat tempat yang kemudian menjadi Yogyakarta, yang selalu mengandung kekuasaan. Para raja Sanjaya bukan pemeluk Buddha melainkan Hindu Siwa, dan merekalah yang membangun candi di Prambanan.

Tentu pernah terjadi perang antara kedua kerajaan itu, dan pada suatu masa, Sanjaya tampaknya menjadi bawahan Sailendra. Kemudian terjadi pemberontakan dan juga ada pernikahan antar kerajaan.

Tidak mengherankan jika Mackenzie tidak menemukan unsur Hindu di candi Sewu- tak seperti komplek Loro Jonggrang di dekatnya hampir dua kilometer ke arah selatan, karena Candi Seribu didedikasikan untuk agama Buddha, agama para besan kerajaan.

Kedua kerajaan dan kepercayaan itu kemudian tampak melebur dan jatuh di Jawa, tidak pernah lagi ada garis pembagian yang jelas antara Buddhisme dan Hinduisme. Pada akhir milenium pertama Masehi, pusat kekuasaan bergeser ke timur keluar Jawa Tengah, ke cekungan Sungai Brantas dekat Surabaya.

Kerajaan- kerajaan naik dengan singkat ke permukaan seperti gelembung mendidih di lava dalam kawah gunung api, seringkali bertahan hanya beberapa generasi sebelum pecah, dan kekuasaannya melompat untuk bangkit di tempat lain- Kahuripan, Janggala, Kediri, Singosari, dan akhirnya pada abad ke- 14, gelembung terbesar, Majapahit.

Ratusan halaman The History of Java berisi kumpulan menarik sejarah, antropologi dan desas- desus, satu wacana mengenai kesusasteraan Jawa, daftar candi, sejumput propaganda anti Belanda, dan seruan pembenaran diri yang frustasi.

Buku itu juga boleh dikata merupakan karya paling signifikan yang muncul dari ledakan penerbitan kecil sesudah penaklukan Jawa, dan untuk pertama kalinya menyajikan sejumlah gagasan mengenai sejarah Indonesia yang akan terus menyebar luas- dan terkadang merusak- sepanjang era kolonial dan sesudahnya.

Jelas, dengan segala urusan lain yg dia lakukan, Raffles sendiri tidak punya waktu untuk membersihkan candi dari tumbuhan rambat, dan dalam banyak hal, The History of Java hanya praktik besar plagiarisme yang diizinkan.

Meski buku itu berisi banyak klaim bahwa Belanda tidak berminat dengan sejarah dan budaya Jawa sebelum Inggris tiba, Raffles banyak menggunakan catatan dan naskah yang dia temukan di perpustakaan Buitenzorg; terjemahan yang disebut di catatan kaki hanyalah terjemahan dari terjemahan, dan dia terkadang menggunakan keahlian orang Belanda berpengalaman ketika berburu rincian budaya yang kurang jelas.

Namun yang lebih penting, Raffles menggunakan sepasukan pengganti Leyden untuk pekerjaan lapangan.

Buku The History of Java membuat dunia mengetahui banyak tempat lain juga, tumpukan batu pahat lain di lereng- lereng bukit: Candi Sukuh, Candi Prambanan, Candi Dieng dan Singosari, monumen- monumen epik yang dilupakan semua orang- kecuali tentunya orang- orang yg tinggal di sekitarnya sejak candi- candi itu didirikan.

Penyusunan daftar candi di Jawa akhirnya merupakan penaklukan Inggris yang paling ramah dan mengagumkan di Indonesia.

Borobudur. Para raja Sailendra membangunnya selama sekitar tujuh puluh tahun, dimulai sekitar tahun 780 M. Candi itu dirancang tanpa rencana awal, setiap generasi baru raja, arsitek dan tukang batu membangun melanjutkan apa yang dilakukan sebelumnya, sebelum akhirnya mencapai puncak terakhir.

Untuk apa bangunan itu sesungguhnya masih belum sepenuhnya jelas- tidak seperti candi Prambanan, Borobudur bukan benar- benar candi karena tidak ada ruang suci untuk tempat dewa dan berdoa.

Lebih mungkin, Borobudur merupakan tempat tujuan wisata pendidikan yang megah, para pengunjung mengelilingi tingkat- tingkatnya sesuai urutan dan mendaki semakin tinggi menuju pencerahan.

Senin, 29 September 2025

La Galigo II

Harun Hadiwijono, Dr. 1977. Religi Suku Murba di Indonesia. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Harvey, Barbara Sillars, (1989). Pemberontakan Kahar Muzakkar dari Tradisi ke DI/ TII. Jakarta: Pustaka Utama Grafiti.
Holt, Claire. 1939. Dance Quest in Celebes. Paris: Les Archives Internationales de la Dance.

Karepesina; Ja'cuba, at.al.. (Pengantar: Abdullah Dr. Taufik). 1988. Mitos, Kewibawaan dan Perilaku Budaya. Yayasan Ilmu- Ilmu Sosial.
Kern; R.A. I La Galigo. 1989. Yogyakarta- Jakarta: Gajah Mada University Press & KITLV, 1989.
Koolholf, Sirtjo dan Roger Tol. 1995. I La Galigo (Menurut Naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa). Jakarta: KITLV dan Djambatan.

Lathief, Halilintar. 1987. Tari- tarian Daerah Bugis. Yogyakarta: Institut Press.
Lathief; Major Inf. A. 1957. Masalah Keamanan. Makassar: Ko. Pemuda Pembangunan Lompobattang.
Mattalioe, M. Bahar. 1994. Pemberontakan Meniti Jalur Kanan. Jakarta: PT. Gramedia Widiasarana Indonesia.

Mone, Abdul Rahim. 1958. Pelantikan Pimpinan Bissu. Majalah Kebudayaan Sulawesi No. 2/ Oktober 1958.
Mone; Abdul Rahim. 1975. Pesta Palili di Segeri. Ujung Pandang: Kantor Cabang II L.S.A.
Muhni; Djuretna A. Imam. 1994. Moral dan Religi. Kanisius, Yogyakarta.

Nofal; Ir. Abdul Razaq. 1975. Alam Jin dan Malaikat. Bulan Bintang.
Noorduyn. 1972. Islamisasi Makassar. Jakarta: Bhratara.
Pelras, Christian. 1996. The Bugis (The Peoples of South- East Asia and the Pasific), Amerika Serikat: Blackwell Publishers.

Pritchard; E.E.Evans. 1987. Teori- teori Tentang Agama Primitif. (Terjemahan: Chen Hock Tong). Bangi: Universiti Kebangsaan Malaysia.
Roham; Drs. H. Abujaman. 1991. Agama Wahyu dan Kepercayaan Budaya. Media Da'wah.
Saparina, Sadli. 1976. Persepsi Sosial Mengenai Prilaku Menyimpang. Jakarta: Bulan Bintang.

Subagya, Rahmat. 1976. Kepercayaan: Kebatinan, Kerohanian, Kejiwaan. Yogyakarta: Kanisius.
Sukardjo, K. 1993. Agama- Agama yang Berkembang di Dunia dan Pemeluknya. Bandung: Angkasa.
Sulu, Phill M. 1997. Permesta, Jejak- jejak Pengembaraan. Jakarta: Sinar Harapan.

Tule LIC, Drs. Philipus dan Wilhelmus Djulei LIC. 1994. Agama- agama Kerabat Dalam Semesta. Nusa Indah Flores, NTT.
Verkuyl, Dr. J. 1958. Tari dan Dansa. Jakarta: Badan Penerbit Kristen.
Wouden; F.A.E. Van. 1985. Klen Mitos dan Kekuasaan. PT. Graffiti Press.

Sudah sejak lama kita mengetahui kehebatan Sawerigading dalam perjalanannya melanglang buana. Bahkan bukan saja dunia ini yang diinjakinya karena tokoh superman ini tak segan berjalan jauh- jauh sampai di luar angkasa, seperti yang dapat kita lihat pada episode Mappaliqna Sawerigading Saliweng Langiq, 'Terdamparnya Sawerigading di Luar Angkasa' (Fauziah 1998).

Diceritakan bahwa Batara Lattuq, maharaja Luwuq, melahirkan Batara Guru (tidak dikenal permaisurinya). Setelah Batara Guru mengambik alih kekuasaan di kerajaan Luwuq, maka Batara Lattuq menghilang (diperkirakan kembali ke kayangan). Batara Guru dikaruniai tiga orang anak:
1. Lagaligo (sulung) ahli di bidang sejarah dan sastra pada umumnya.

2. Sawerigading (anak kedua) menjadi orang sakti, ahli perang dan perantau.
3. Batendriajeng (wanita, anak bungsu) ahli dan menguasai soal- soal adat setempat.

Epik raksasa ini bergerak ketika Patotoqe (Sang Penentu Nasib) memperoleh laporan bahwa Dunia Tengah ternyata kosong melompong. Patotoqe lalu bertindak menjalankan perannya yang sejati, dengan terlebih dahulu mengumpulkan segenap dewa di Puncak Langit dan Dunia Bawah Tanah.

Peran terpentinh dari Patotoqe sang Dewa Tertinggi, bukanlah sekedar sebagai Sang Penentu Nasib. Ia harus menyebarkan kehidupan di dunia, menjaga dan merayakannya, sehingga dunia yang tadinya kosong, menjadi meriah dan bercahaya.

Jika tak ada kehidupan di dunia, maka takkan ada manusia di sana dan tanpa manusia maka takkan ada Dewa Maha Tinggi yang menentukan nasib (yang ada hanya sekedar penghuni langit). Konsep inti di sini adalah kehidupan, kemanusiaan. Adapun penyembahan manusia kepada Dewata yang Maha Tinggi, hanyalah akibat samping dari penciptaan kehidupan dan kemanusiaan.
Menurut Sureq Galigo, padi baru diperkenalkan sekitar setahun kemudian dihitung dari awal kedatangan Batara Guru yaitu ketika salah seorang isterinya bernama We Saung Riuq melahirkan seorang putri yang diberi nama We Oddang Riuq.

Hanya tujuh hari usianya ia lalu meninggal. Maka dicarilah hutan yang lebat, gunung yang tinggi dan hulu sungai untuk dibuatkan makamnya. Hanya tiga malam setelah anak itu dimakamkan, Batara Guru lalu pergi mencari makam anaknya itu. Tetapi yang ditemuinya bukan makam, melainkan hamparan tanaman.

Karena heran ia langsung pergi menghadap Patotoqe (ayahnya) untuk menanyakan apa gerangan yang ia jumpai. Jawaban yang ia peroleh: "La na ritu anaq riaseng Sangiang Serri, Anaqmu ritu mancaji ase", artinya "Itulah (Paduka) anakda yang disebut Sangiang Serri, anakmu itulah yang menjelma menjadi padi".

Minggu, 28 September 2025

La Galigo. Menelusuri Jejak Warisan Sastra Dunia

Editor: Nurhayati Rahman, Anil Hukma, Idwar Anwar.

Diterbitkan atas kerja sama
Pusat Studi La Galigo
Divisi Ilmu Sosial dan Humaniora
Pusat Kegiatan Penelitian
Universitas Hasanuddin

dengan
Pemerintah Kabupaten Barru

Cetakan Pertama, Juni 2003


The 'La Galigo' A Bugis Encyclopedia and its Growth (Sirtjo Koolhof).
Transliterasi dan Terjemahan Sureq Galigo (Muhammad Salim).
Ibuku Magali- Gali, maka Aku Dinamai I La Galigo (Muhammad Salim).

Pengembaraan La Galigo ke Washington DC (Memperkenalkan Husin bin Ismail, Seorang Bugis Terpelajar di Singapura) (Roger Tol).
Seduced by La Galigo (A Filmmaker Journey) (Rhoda Grauer).

* Pengembaraan Tradisi Lisan La Galigo di Nusantara
La Galigo Versi Lisan Gorontalo (Nani Tuloli).
Sawerigading Versi Sulawesi Tengah (Hasan Basri dan Baso Siodjang).

Sawerigading dan Haluoleo di Sulawesi Tenggara (Ingatan Masa Lampau dan Tafsir Masa Kini) (Susanto Zuhdi).
La Galigo dan Kejayaan Bugis di Tanah (Riau): Seperti Tergambar dalam Sastra Melayu (Mu'jizah dan Dewaki Kramadibrata).

Sawerigading dalam Peradaban Suku Toraja, Sulawesi Selatan (Cornelis Salombe).
Misi Perjalanan Sawerigading (Lasaeo) di Poso (Juraid Abd. Latief).

Sawerigading dalam La Galigo (Catatannya dalam Versi Kelantan dan Trengganu serta Hubungannya dengan Yuwana di Semenanjung Indocina) (Abdul Rahman Al Ahmady).

*
La Galigo dan Kanon Sastra Dunia: Penciptaan dan "Penemuan" Manusia (Nirwana Ahmad Arsuka).
La Galigo, Odesei, Trah Buendia (Nirwan Ahmad Arsuka).
Pendahuluan Siklus La Galigo yang Tak Dikenal (Christian Pelras).

La Galigo Sebagai Sumber Kajian Sejarah (Teuku Ibrahim Alfian).
Kegunaan Cerita Rakyat Sawerigading Sebagai Sumber Sejarah Lokal Daerah- Daerah di Sulawesi (James Danandjaja).

Nature and Culture (Studi Awal tentang Konsep Lingkungan dalam Epos Galigo) (Darmawan Mas'ud dan Gufran D. Dirawan).
Pemanfaatan Lingkungan Alam Bagi Pemenuhan Kebutuhan Hidup Masa Lalu di Sulawesi: Refleksi Mitos La Galigo (Widya Nayati).

Budidaya Padi Berdasarkan Naskah La Galigo (Fahruddin Ambo Enre).
Perspektif Gender dalam Naskah Galigo (Nurmaningsih).
Keterbacaan (Intelligibilitas) Sureq Galigo Bagi Penutur Makassar (Nurdin Yatim).

La Galigo in Comparative Perspectives (Campbell Macknight).
Berlayar ke Tompoq Tikkaq: Sebuah Episode La Galigo (Horst H. Liebner).
Solusi Konflik dalam La Galigo (Mahmud Tang).
Nilai- nilai Utama Kebudayaan Bugis dalam La Galigo (Rahman Rahim)

*
Sawerigading dalam Identifikasi dan Analisi (Mattulada).
Persepsi dan Pemahaman Tokoh Adat tentang La Galigo (A. Anton Pangerang).
"Kenyataan, Anakrotisme dan Fiksi": Arkeologi Bersejarah dan Pusat- Pusat Kerajaan dalam La Galigo (Ian Caldwell).

The Archeology of The Major Sites in Ussu/ Cerekang (David Bulbeck).
Kepercayaan dan Upacara dari Budaya Bugis Kuno: Pujaan Pendeta Bissu dalam Mitos La Galigo (Gilbert Albert Hamonic).
Bissu in La Galigo (Sharyn Graham).
Bissu: Imam yang Menghibur (Halilintar Lafief).


* Daftar Pustaka
Abdullah, Hamid. 1985. Manusia Bugis Makasar. Jakarta: Inti Idayu.
Abrams, M.H. 1976. The Mirror and The Lamp Romantic Theory and Critical Tradition. Oxford University.
Arung Pancana Toa, 2000. La Galigo menurut naskah NBG 188 yang disusun oleh Arung Pancana Toa. Jilid II, Transkripsi dan Terjemahan Muhammad Salim, dkk. Lephas Makasar.

Ambo Enre, Fachruddin. 1999. Ritumpanna Welenrengnge: Telaah Filologis sebuah Episode Sastra Bugis Klasik. Efeo: Jakarta.
Coulmas, Florian.1989. The Writing System of the World. New York: Basic Blackwell.
Eliade, Mircea, (ed). 1983. "Bugis Religion" dalam "The Encyclopedia of Religion. New York: Mc Millan.

Kern. R.A. 1939. Catalogus van de Boegineesche tot de I La Galigosyclus Behoorende. Handscripten der Leidedsche Universiteitsbibliotheek. Leiden: Universiteitsbibliotheek.
___. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun. Yogyakarta: Gajahmada Press.

I La Galigo, Jilid I tahun 1995. Transliterasi dan terjemahan olah Muh. Salim dan Fachruddin A.E. KITLV dan Jambatan.
Kern. R.A. 1989. I La Galigo. Diterjemahkan oleh La Side dan Sagimun MD. Yogyakarta. Universitas Gadjah Mada.

Koolhof, Sirtjo. 1995. Pengantar/ Pendahuluan dalam I La Galigo, Jilid I. Jakarta: Djambatan.
Mills, Roger F. 1975. Proto South Sulawesi and Proto Austronesian Phonology. Disertasi: University of Michigan.
Noordfuyn. 1992. "Variation in the Bugis and Makassarese Scripts" Paper for International Workshop of Indonesian Studies, Leiden.

Rahman, Nurhayati 1998. (disertasi). Pelayaran Sawerigading ke Tana Cina: Kajian Filologi dan Semiotik La Galigo. Jakarta: Universitas Indonesia.
Abdoussalam, Harith & Drs. R. 1971. Magie Dalam Agama Primitive & Hindu (Beberapa catatan Bibliography). Yogyakarta: Jurusan Perbandingan Agama Fakultas Ushuluddin IAIN Yogyakarta.

Adaus, Abdul Hafied. 1974. Seni Tari Klasik Bissu. Pangkep: Kantor Kebudayaan Kabupaten Pangkep.
Ali; Andi Muh. 1980. Arti dan Jenis Arajang. Watampone: Kantor P dan K Kabupaten Bone.
Badaruddin, Makmun; at.al.1980. Bissu dan Peralatannya. Ujung Pandang: Proyek Pengembangan Permuseuman Sulawesi Selatan.

Burhanuddin, BH., 1976. Zaman Hindu di Sulawesi (600- 1500 M), Kendari: Yayasan Karya Teknika.
Fauzi bin Haji Awang, Ustadz Mohd. 1971. Ugama- ugama Dunia. Kelantan: Malaysia: Pustaka Aman Press. (cet.2).
Fowler; James W. 1995. Teori perkembangan Kepercayaan. Kanisius, Yogyakarta.

Geertz, Clifford. 1992. Kebudayaan dan Agama (terjemahan Francisco Budi Hardiman). Yogyakarta: Kanisius.
Gonggong, Anhar (1992). Abdul Qahar Muzakkar Dari Patriot Hingga Pemberontak.
Hafidy; H.M. As'ad El. 1982. Aliran- aliran Kepercayaan dan Kebatinan di Indonesia. Jakarta: Ghalia Indonesia. (Cetakan kedua).

Jumat, 26 September 2025

Foto- foto T.E.D

 1. Dalam kereta menuju kota Bandung


2. Büyük Çamlıca Camii (Masjid)




3.



































Mengunjungi Tempat- tempat di Kota Magelang

 1. Masjid Agung Magelang




Salah satu bangunan cagar budaya. Dirancang oleh seorang arsitek berkebangsaan Belanda yang bernama Thomas Kharsten. Mampu menampung 1.750 juta liter air. Memiliki ketinggian 23 meter.

Dibangun pada tahun 1916. Tujuan utama pembangunannya adalah untuk mengamankan persediaan air minum bagi tentara militer Belanda maupun warga Belanda yg tinggal di Kota Magelang. Agar para tentara dan warga Belanda terlindungi dari upaya peracunan maupun pencemaran.


Dibangun pd tahun 1977. Tinggi bangunannya 4 meter. Pembangunan monumen ini mempunyai maksud agar masyarakat Kota Magelang dapat menghayati jiwa kepahlawanan dan pengorbanan Pangeran Diponegoro yang ditangkap secara licik oleh Jenderal De Kock di Magelang pada tahun 1830.

Ada sebuah candra sengkala yang tertulis: "Turonggo Tinitihan Sesekaring Bawono" yang berarti tahun 1977 saat monumen ini dibangun.


4. Tugu Aniem (A. Niem) dan Klenteng Liong Hok Bio

Tugu Aniem (A. Niem) di kawasan Alun- alun Kota Magelang.

Memiliki bentuk silinder berwarna putih dengan puncak lancip dan hiasan khas arsitektur eropa abad ke- 19. Nama tugu ini berasal dari Abraham Christian Niem, seorang asisten residen Belanda yang meninggal pada masa Perang Jawa melawan pasukan Pangeran Diponegoro sekitar tahun 1830.

Dibangun pada masa kolonial sebagai bentuk penghormatan atas jasa Niem yang kala itu dianggap sebagai pegawai pemerintah Hindia Belanda yang berjasa dalam menjaga stabilitas kekuasaan di wilayah Kedu.


*Klenteng Liong Hok Bio

Didirikan tahun 1864 oleh Kapitein Be Koen Wie atau Be Tjok Lok. Terdapat Hio (dupa yang digunakan masyarakat Tionghoa dalam kegiatan peribadatannya) -besar di dalamnya dengan berat 3,8 ton.


5. Candi Asu Sengi

Peninggalan Mataram Kuno dari trah Wangsa Sanjaya (Mataram Hindu). Berada di lereng Gunung Merapi sebelah barat, di tepian sungai Tlingsing Pabelan, tepatnya di Dusun Candi Pos, Desa Sengi, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang.

Nama candi asu diberikan karena sewaktu pertama kali ditemukan ada sebuah patung lembu Nandhi yang wujudnya telah rusak dan lebih mirip menyerupai Asu (anjing - dlm bhs Jawa).


6. Candi Lumbung




Letak aslinya di tepi sungai Apu, anak sungai Pabelan di Dusun Tlatar, Desa Krogowanan, Kecamatan Sawangan. Pada tahun 2010 Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah (kini Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X) mengamankan candi ini dengan memindahkan candi ini dari tempat aslinya ke tempat sementara di tepi jalan yang menuju ke Ketep Pass, sekitar 500 meter dari lokasi aslinya.

Candi ini dipindah karena tanah tumpuannya hanya tinggal satu meter dari tebing sungai setinggi 7 meter yang dikhawatirkan longsor. Karena bila tebing penyangga tanah tumpuan candi ini longsor, maka runtuhlah candi ini dan batu- batunya akan terhanyut aliran lahar Merapi.

Secara arsitektural memiliki latar belakang agama Hindu dan dibangun sekitar abad ke-9 Masehi. Tinggi 7, 20 meter. Bagian puncak sudah runtuh dan hilang batu- batunya, yang tersisa bagian tengah dan dasar. Diperkirakan dibangun dalam kurun waktu bersamaan dengan Candi Asu dan Candi Pendem, yakni pada abad ke- 9, ketika Kerajaan Mataram Kuno.













Rabu, 24 September 2025

Mengunjungi Tempat- tempat di Jakarta

 1. Masjid Istiqlal

    Masjid terbesar di Asia Tenggara.

    Nama"Istiqlal" berasal dari bahasa Arab yang berarti "kemerdekaan".

    Pembangunannya dimulai pada tahun 1961 dan selesai pada tahun 1978, diresmikan oleh Presiden

    Soeharto.



2. Halte Jaga Jakarta
    Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung bersama jajaran balaikota memutuskan untuk merubah Halte
    Senen Sentral menjadi Halte Jaga Jakarta.

3. Monumen Nasional terlihat dari atas gedung Perpustakaan Nasional

4. Kawasan Komplek Olahraga Gelora Bung Karno. Memiliki luas 279, 1 Ha.
    Dibangun pada tahun 1962.

Stadion Utama Gelora Bung Karno. 

Denah Komplek Stadion dari Gate D


5.


6. Penetapan Stasiun Pasar Senen sebagai bangunan cagar budaya.
    Awalnya berupa halte kecil milik Batavia Ooster Spoorweg MIJ untuk menunjang transportasi
    di pasar senen yang dibangun pada 1733.






















Perpustakaan Nasional di Jakarta

 1.


2. Lantai- lantai di Perpustakaan

3.

4.

5.

6. Pengakuan naskah di kancah Internasional: Memory of The World (MOW)

7.

8. Naskah yang ditulis dalam bahasa jawa kuno dengan aksara Bali di atas daun lontar



9. Aksara ULU merupakan kekayaan budaya tulis kuno yang dimiliki daerah Sumatera Selatan


10.


Museum Nasional Indonesia di Jakarta

 1. Denah Museum Nasional Indonesia


2. Arca Ganesha, dikenal sebagai dewa ilmu pengetahuan, kebijaksanaan dan penghalau rintangan.
    Digambarkan dengan kepala gajah dan tubuh manusia, seringkali dengan empat tangan yang
    memegang berbagai atribut seperti gading patah, kapak, tasbih, teratai dan mangkuk berisi modaka

3. Arca Suhita, raja keenam Kerajaan Majapahit dengan gelar Bhatara Parameswara.
    Selama memimpin, didampingi oleh suaminya, Bhra Hyang Parameswara Ratna Pangkaja

4. Arca Bhairawa. Manifestasi Dewa Siwa dalam bentuk yang menakutkan dan sekaligus Buddha,
    dalam aliran sinkrestisme Tantrayana. Digambarkan dengan ekspresi wajah penuh amarah,
    memegang pisau dan mangkuk dari tengkorak manusia, serta berdiri di atas mayat seorang
    pria  dan tumpukan tengkorak di dasarnya. Terdapat relief tokoh suci Buddha Aksobhya
    terukir di mahkotanya.

5.

6. Relief Sinar (Surya). Surya Majapahit yang dikelilingi Dewata Nawasanga menyimbolkan seluruh Kerajaan Majapahit terlindungi oleh delapan dewa penjaga

7. Rekonstruksi Kuda Nil Purba

8.

9. Lukisan wajah dari berbagai wilayah- wilayah di Indonesia