* Dalam sejarah dikenal sebagai:
.Pengatur siasat kejatuhan Kerajaan Singhasari & kematian Kertanagara(Raja Singhasari),
.Membantu Raden Wijaya dalam menaklukan Jayakatwang (pemberontak Kerajaan Singhasari),
.Pendirian Kerajaan Majapahit.
* Saat masa Kerajaan Singhasari, ia menjabat sebagai Penasehat Kenegaraan (Raja Kertanagara), namun karena Kertanagara kurang menyukai peran Wangsa Rajasa (keturunan Ken Dedes- Ken Arok), Banyak Wide sendiri pendukung Wangsa Rajasa, ia lalu dipindahkan dari jauh pusat Kerajaan menjadi Adipati di Songeneb/Sumenep (pada usia 37 tahun). Kemudian memperoleh gelar "Arya Wiraraja" yang berarti "pemimpin yang berani". Saat terjadi Ekspedisi Pamalayu, berusia sekitar 43 tahun.
* Arya Wiraraja mengetahui kalau Jayakatwang (Bupati Gelang-Gelang) berniat memberontak Kerajaan Singhasari kemudian menyarankan agar segera melaksanakan niatnya, karena saat itu sebagian besar tentara Singhasari sedang berada di luar Jawa.
*Saat terjadi pemberontakan Jayakatwang di Kerajaan Singhasari, Raden Wijaya meminta perlindungan Arya Wiraraja di Songeneb/ Sumenep, kemudian Arya Wiraraja membantu Raden Wijaya dengan meminta Jayakatwang mengusahakan pengampunan kepada Raden Wijaya & mengirimkan orang-orang Madura kepada Raden Wijaya untuk membuka hutan Tarik & mendirikan Kerajaan Majapahit.
*Arya Wiraraja & Raden Wijaya melakukan kesepakatan, pembagian tanah Jawa menjadi dua yang sama besar jika berhasil menggulingkan Jayakatwang. Dikenal dengan Perjanjian Sumenep.
*Kemudian Arya Wiraraja memimpin Kerajaan Lamajang Tigang Juru,
versi lain, saat putranya (Ranggalawe) meninggal dibunuh, dan dianggap memberontak Kerajaan Majapahit, ia sakit hati & mengundurkan diri dari jabatannya, lalu menuntut janji Raden Wijaya, yaitu setengah wilayah Majapahit (Majapahit sebelah timur beribukota di Lumajang).
*Ketika putranya (Ranggalawe) meninggal, ia kemudian mempersiapkan benteng pertahanan beribukota di Lamajang, bernama Arnon (Situs Biting), berada dalam wilayah desa Kutorenon. Kuto= kota berbenteng & Renon= Renu= marah, berarti kota yang dibangun karena marah. Selagi ada Arya Wiraraja, wilayah Lamajang tidak berani disentuh oleh Kerajaan Majapahit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar