Annelies telah berlayar.
Kepergiannya laksana cangkokan muda direnggut dari batang induk.
Perpisahan ini jadi titik batas dalam hidupku: selesai sudah masa-muda.
Ya, masa muda yang indah penuh harapan & impian-dan dia takkan balik berulang.
Belakangan ini matari bergerak begitu lambat, merangkaki angkasa inci demi inci seperti keong.
Lambat, ya lambat-tak peduli jarak yang ditempuhnya takkan mungkin diulang balik atau tidak.
Mendung sering bergantung tipis di langit, segan menjatuhkan gerimis barang sesapuan. Suasana begitu kelabu seakan dunia sudah kehilangan warna-warni selebihnya.
Orang tua-tua melalui dongengan mengajarkan akan adanya dewa perkasa bernama Kala-Batara Kala.
Katanya dialah yang mendorong semua saja bergerak semakin lama semakin jauh dari titik tolak, tak terlawankan, ke arah yang semua saja tidak bakal tahu.
Juga aku, manusia yang buta terhadap hari-depan, hanya dapat berharap tahu.
Uh, sedang yang sudah dilewati tak semua dapat diketahui!
Orang bilang, apa yang ada di depan manusia hanya jarak.
Dan batasnya adalah ufuk.
Begitu jarak ditempuh sang ufuk menjauh.
Yang tertinggal jarak itu juga-abadi.
Di depan sana ufuk yang itu juga-abadi.
Tak ada romantika cukup kuat untuk dapat menaklukkan dan menggenggamnya dalam tangan-jarak dan ufuk abadi itu.
Batara Kala telah menyorong Annelies melalui jarak-jarak, aku sendiri disorongnya melalui jarak-jarak yang lain, makin berjauhan, makin pada tak tahu apa bakal jadinya.
Jarak yang semakin luas membentang membikin aku jadi mengerti: dia bukan sekedar boneka rapuh.
Barang siapa dapat mencintai begitu mendalam, dia bukan boneka.
Mungkim juga dialah satu-satunya wanita yang mencintai aku dengan tulus.
Dan makin jauh juga Batara Kala menyorong kami berpisah, makin terasa olehku: sesungguhnya aku mencintainya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar