Senin, 25 Maret 2024

Dinasti Mamluk

Kata "mamluk" merupakan kosa kata dalam Bahasa Arab dalam bentuk tunggal, sedangkan bentuk jamaknya adalah "mamalik".
Kata tersebut memiliki arti budak yang menjadi tawanan, tapi orangtuanya tidak menjadi tawanan.

Mamluk adalah gelar yang diberikan kepada budak- budak berkulit putih yang berasal dari Kaukasus, wilayah pegunungan di perbatasan Rusia dan Turki.

Khalifah Al- Mu'tashim, Khalifah Abbasiyah ke- 8 adalah khalifah pertama yang mengandalkan unsur Turki untuk menjadi pengawalnya.

Al- Mu'tashim menaruh kepercayaan yang rendah kepada unsur Persia, sementara dia juga tidak tertarik dan tidak mempercayai unsur Arab.
Kondisi tersebut mendorong Khalifah Al- Mu'tashim untuk mempercayakan keamanan pribadinya kepada sekelompok orang dari unsur Turki.

Unsur Turki dikenal sebagai memiliki kekuatan fisik yang tinggi, memiliki sikap pemberani dan suka berperanh.

Shalahuddin Al- Ayyubi mendirikan Dinasti Ayyubiyah di atas reruntuhan Dinasti Fathimiyah pada tahun 1171 M.
Dia berusaha menghapus jejak- jejak kekuasaan Dinasti Fathimiyah di Mesir dan mempromosikan kebijakan Pendidikan dan keagamaan Sunni.

Pada kenyataannya, Dinasti Ayyubiyah merupakan Dinasti bangsa Kurdi, tapi tumbuh dan berkembang dalam tubuh Dinasti Turki Saljuk dan Mamluknya.

Setelah wafatnya Turan Shah, penguasa terakhir Dinasti Ayyubiyah, situasi dan kondisi menjadi kosong dari kepemimpinan.

Otoritas Mamluk menemukan momentumnya untuk memainkan peran pentingnya untuk mengambil alih kekuasaan dengan mengangkat Syajarah al- Dur sebagai Sultanah.
Dia menjadi penguasa perempuan pertama dalam sistem kekuasaan Dinasti Mamluk.

Pasukan Mamluk berhasil memaksa pihak tentara Salib untuk menyetujui perjanjian yang diajukan oleh pihak Mamluk.
Di antara poin penting isi perjanjian tersebut adalah Raja Perancis, Louis IX harus mengembalikan kota Dimyath ke tangan Mesir, pasukan Salib tidak lagi menyerang kawasan- kawasan pesisir yang menjadi wilayah kekuasaan Muslim.
Pihak tentara Salib membayar sejumlah lima ratus dinar sebagai imbalan atas pembebasan sejumlah tawanan Kristen dan umat İslam berkomitmen untuk merawat anggota pasukan Salib yang sedang sakit.

Dengan disepakatinya dan dipatuhinya perjanjian tersebut, berakhirlah Perang Salin VII yang dibarengi dengan berakhirnya kekuasaan Dinasti Ayyubiyah (1250 M) dan mulainya pemerintahan Dinasti Mamluk.
Momen tersebut menjadi penanda kemenangan tentara Mamluk melawan tentara Salib.

Di Kairo muncul berbagai aksi demonstrasi dan huru- hara menentang pemerintahan Syajarah Al- Dur.
Para ulama menolak kepemimpinan perempuan.
Para Raja dan Amir Dinasti Ayyubiyah di Syam, memandang merekalah yang memiliki hak yang sah untuk memerintah Mesir dan Syam karena mereka adalah keturunan Shalahuddin Al- Ayyubi.

Syajarah Al- Dur meminta dukungan terhadap Al- Mu'tashim, khalifah terakhir Dinasti Abbasiyah di Baghdad.
Khalifah Al- Mu'tashim bahkan mencela atas pengangkatan Sultan perempuan.

Dinasti Mamluk memerintah selama dua setengah abad lebih (1250- 1517 M) secara independen.

Dinasti Mamluk dibedakan menjadi dua garis kesultanan, Sultan- sultan Bahri (Mamluk Bahri) dan Sultan- sultan Burji (Mamluk Burji).
Kaum Bahri terutama adalah orang- orang yang beras dari Qipchak (Rusia Selatan) dengan campuran Mongol dan Kurdi.
Sementara kaum Burji terutama terdiri dari orang- orang Circasia (Caucasus).

Dinasti Mamluk merupakan pemerintahan Timur Tengah yang pertama yang didasarkan pada mesin militer budak.
Seluruh elite pemerintahan, termasuk Sultan adalah budak atau mantan budak.
Pada kenyataannya, tidak ada warga pribumi Mesir atau Syria dapat menjadi pejabat elite Dinasti Mamluk.

__
Konfrontasi Dinasti Mamluk dengan Pasukan Mongol.

Bangsa Mongol adalah sekelompok suku nomaden yang berasal dari dataran tinggi Mongol, sebelah utara gurun Gobi.

Di era keemasannya, hampir tidak ada satu pun pasukan yang mampu membendung kekuatan bangsa Mongol, kecuali dua kekuasaan, yakni Dinasti Mamluk dan Kerajaan Singhasari di Jawa.

Dinasti Mamluk berhasil mengusir dan menghancurkan tentara Mongol pada peristiwa yang disebut Pertempuran Ain Jalut.
Terjadi pada tanggal 3 September 1260 M di Palestina.
Pasukan Dinasti Mamluk (Mesir) dipimpin oleh Qutuz dan Baibars, sedangkan tentara Mongol dipimpin oleh Kitbuga.

Setelah berhasil mengalahkan gerakan İsmailiyah, Hulagu Khan mengirim surat ancaman dan meminta Khalifah Al- Mu'tashim supaya menemuinya.
Surat tersebut dibalas dengan ancaman juga.

Tentara Mongol mengepung ibukota kekhalifahan dan menyerangnya pada tahun 1258.
Baghdad diluluh lantahkan, khalifah Al- Mu'tashim dieksekusi.
Dengan kejadian tersebut berakhirlah kekhalifahan Abbasiyah.

Baghdad waktu itu menjadi pusat sekaligus simbol bagi perkembangan sains, sastra dan seni.
Di sana ada banyak ilmuwan, sastrawan, filosof, penyair dan para ahli dari disiplin lainnya.
Perpustakaan- perpustakaan, sekolah- sekolah, lembaga- lembaga pendidikan dihancurkan dan jejak- jejak peninggalan İslam dilenyapkan.

Quthuz menugaskan kepada panglimanya, Baybars Al- Bunduqdari untuk memimpin pasukan pengintai supaya mempelajari situasi di lapangan.
Pada bulan Juli 1260, Baybars bergerak menuju Gaza.

Hulagu kembali ke negara asalnya sambil membawa sebagian anggota pasukannya.
Dia hanya menyisakan sepuluh ribu prajurit di bawah pimpinan Kitbuga Noyan.

Kitbuga tiba di Ain Jalut, sebuah distrik kecil yang terletak antara Bisan dan Nablus Palestina.

Baybars memimpin barisan depan dan menetapkan dirinya sebagai panglima perang, meskipun komando tertinggi tetap dipegang oleh Quthuz hingga akhir pertempuran.

Pertempuran dimenangkan oleh pasukan Mamluk.
Kitbuga beserta sejumlah pemimpin pasukan terbunuh di medan pertempuran.
Pertempuran tersebut terjadi di Ain Jalut tanggal 3 September 1260 M.

Mamluk mampu menyatukan negeri Syam dan Mesir yang sebelumnya sempat terpecah- pecah akibat konflik internal anak keturunan Shalahuddin Al- Ayyubi.

Kemenangan Mamluk telah menyelamatkan İslam dan kaum muslimin dari bahaya besar sebagaimana dialami oleh Baghdad dan beberapa kawasan İslam yang telah diinvasi oleh pasukan Mongol.

Baybars merasa kesal kepada Quthuz yang telah mengingkari janji untuk memberikan wilayah Aleppo kepada Baybars jika berhasil mengalahkan orang- orang Mongol.
Quthuz juga menaruh kecurigaan yang tinggi terhadap Baybars.

Pihak Baybars bertekad untuk membunuh Quthuz dengan melakukan konspirasi dengan para Amir Mamluk Bahri.
Akhirnya Baybars berhasil membunuh Quthuz.

Baybars berkuasa tahun 1267- 1277 M.
Awalnya dia adalah seorang budak dari Turki yang dijual ke Damaskus, karena ada cacat pada matanya, dia dikembalikan.
Nama lengkapnya Al- Malik Al- Zhahir Rukn al- Din Baybar al- Bunduqdari.

Gelar Al- Bunduqdari merupakan gelar yang diberikan oleh tuan pemiliknya di Hammah, sebelum akhirnya dia dibeli oleh Khalifah Al- Shalih dari Dinasti Ayyubiyah.

Dalam kisah- kisah legendaris, popularitasnya mengungguli Shalah al- Din Ayyubi.


1. Dinasti Fathimiyah
2. Dinasti Ayyubiyah (1171- 1250 M)
3. Dinasti Mamluk (1250- 1517 M)

4. Dinasti Ustmani Turki (1517- 1924 M)


Siti Maryam, 2022, Dinasti Mamluk di Mesir Penyelamat Peradaban İslam 1250- 1517 M, Yogyakarta: Fakultas Adab dan İlmu Budaya Universitas İslam Negeri Sunan Kalijaga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar