Minggu, 03 Agustus 2025

Gua Selarong

 1. Papan informasi Gua Selarong


2. Peta lokasi obyek wisata Gua Selarong

3. Gua Kakung

4.

5. Air terjun

6.


Dikenal sebagai tempat persembunyiannya Pangeran Diponegoro dari kejaran Belanda setelah kediamannya di Tegalrejo (Yogyakarta), dibakar oleh serdadu Hindia Belanda.

Dari Gua ini, Pangeran Diponegoro menyusun kekuatan untuk melancarkan perang gerilya sebagai bagian dari Perang Jawa 1825- 1830.

Perlu menaiki ratusan anak tangga dulu untuk dapat melihat gua ini.
Di sebelah barat, ada Gua Kakung, tempat tinggal Pangeran Diponegoro. Mulut Gua yang telah dipahat persegi ini tak terlalu lebar, hanya dua meter, dengan tinggi dan dalam satu meteran.

Di sisi timur terdapat Gua Putri, tempat istirahat salah satu istri Pangeran Diponegoro, Raden Ayu Ratnaningsih. Gua ini lebih lebar, tapi sisi batuan di sisi depan lebih rendah sehingga untuk masuk harus menunduk.

Kedua gua telah dilindungi bangunan baru berupa gerbang dengan cat putih yang masih tampak baru. Di dua gua itu juga tercecer sisa- sisa ritual seperti daun dan keranjang kecil tempat ubarampe sesajen.

Prajurit Pangeran Diponegoro memanfaatkan kondisi alam Selarong yang berupa perbukitan dengan menyebar telik sandi. Sekitar satu kilometer di sisi timur Selarong, ada bukit mijil yang menjadi tempat pemantauan.
Dari bukit ini, mereka mengawasi jika pasukan Belanda menyerbu. Jika kelihatan pasukan Belanda datang, mereka memberi kode dengan membakar gubuk.

Kobaran api dari Bukit Mijil bakal terlihat dari Bukit Semanjir di sebelah selatan Selarong. Prajurit jaga di Semanjir pun akan segera melapor ke Selarong untuk menyiapkan pasukan.

Suatu kali, anak buah Pangeran Diponegoro kecolongan. Pasukan Belanda sanggup merangsek ke kawasan Selarong. Pendukung Pangeran Diponegoro pun menyongsong hingga pertempuran pecah. Korban- korban pun berjatuhan, tak terkecuali para serdadu Belanda. Warga setempat menyebut lokasi perang itu berada di selatan Selarong sebagai Banjar Pateman atau Banjaran.

Sebagai bekas lokasi perang, warga kerap menemukan sisa tulang belulang manusia di dalam tanah. Pada medio 1980-an, mereka biasanya menemukan tulang saat membangun rumah.

Uniknya, tulang- tulang itu berukuran lebih panjang dari struktur tulang orang Jawa pada umumnya. Dengan begitu, bisa dibayangkan pula bahwa kerangka itu bukan tulang dari manusia Jawa. Warga sekitar menyebutnya balung londo.

Dengan banyaknya korban serdadu Belanda itu, kawasan Selarong bisa dibilang tak sekadar menjadi tempat persembunyian, melainkan sebagai palagan untuk memberi perlawanan sengit pada penjajah.

Sebelum perang, Pangeran Diponegoro sudah sering ke Gua Selarong untuk semedi dan belajar dari para tetua setempat, terutama seorang pertapa yang disebut Kiai Usrek atau Kiai Secang. Guru spiritual Pangeran Diponegoro.

Di atas bukit Selarong, di atas Gua Kakung dan Gua Putri yang menjadi kediaman Pangeran Diponegoro dan sang istri, terdapat dua makam yang dipercaya sebagai makam Kiai Secang dan istrinya.

Jalan menuju makam Kiai Secang harus turun dari gua, ke tempat parkir di deket loket, lalu menyusuri jalan setapak di samping musala.



https://mojok.co/liputan/histori/gua-selarong-balung-londo-dan-makam-di-atas-bukit/









Tidak ada komentar:

Posting Komentar