1. Terusir dari Negeri Majapahit
2. Tersesat
3. Air Kehidupan (Banyuurip)
4. Sang Dara nan Jelita
5. Ki Manguyu Trah Galuh
- Kisah 1 Prabu Barmawijayakusumah, Pengganti Raja Galuh
- Kisah 2 Ki Ajar Sidik Permana yang Sakti
- Kisah 3 Dewi Naganingrum Selong
- Kisah 4 Aki Balangantrang
- Kisah 5 Ciung Wanara
- Kisah 6 Ayam Jantan kinantan
- Kisah 7 Taruhan Separuh Negara
- Kisah 8 Menuntut Balas
6. Melaga Puyuh
7. Ki Manguyu Rabi
8. Galau Kacau, Gundah Resah
9. Sowan Ki Buyut Singgelo
10. Geger di Kaputren Lowano
11. Tapa Ngeli Ki Buyut Singgelo
12. Pertempuran Seru di Puri Lowano
13. Perang Sampyuh
14. Sumur Pinatah
15. Menjadi abdi Dalem Mataram
16. Menjadi Tamtama Mataram
17. Turut Menyerbu ke Jakarta
Sesaat kemudian, Keris sakti dicabut kembali, ditarik sepenuh hati, senantiasa mantram mengiringi, tercabut Sang Panubiru keris pusaka, dari dalam bantala pertala dan memancarlah air keluar, membasahi permukaan tanah, tiada berhenti memancar sehingga mengalir bak anak sungai, kemudian membanjir menutupi cekungan tanah, laksana kolam kecil berair bening.
Gembira sang pangeran, menampak air keluar tiada henti, bening sungguh air suci. Berseru Pangeran kepada adinda, Ni Putri Manikwulan dengan segera, bahwa air sudah tersedia, dapat melepas dahaga tiada tara. Berlari ni Dewi menuju arah suara, teriakan rakanda nan membahana, gembira ria menampak tirta, alamat haus segera hapus.
Itulah asal mula sumur Beji di situ, yang menjadi andalan penduduk, lalu daerah dimana tirta timbul, memancar membentuk sumur, dinamakanlah desa BANYUURIP begitu, artinya Air yang membuat hidup.
Di timur Kab. Purworejo ada daerah yang namanya Sami Galuh, wilayah Kilon Progo sekarang yang menunjukan masih wilayah Galuh zaman itu. Setelah dalam peperangan antara Prabu Ciung Wanara dengan Raden Arya Bangah adik tirinya, yang berakhir dengan kalahnya Arya Bangah, maka seperti Raden Jaka Sesuruh, raden Arya Bangah pun melarikan diri ke arah timur.
Kemudian bertemu lagi dengan Raden Jaka Sesuruh yang menjadi suami Raja Majapahit, kemudian dijadikan Adipati di daerah Pagelen.
Raden Arya Bangah ini berputra tiga oranh yaitu Dewi Rasawulan, Raden Udakusuma dan Raden Ranukusuma.
Selanjutnya Raden Arya Bangah yang sudah menjadi Adipati di Pagelen, putranya yang bernama Dewi Rasawulan kemudian diambil menjadi Garwo Ampil (Selir) oleh Prabu Hayan Wuruk semasa masih menduduki kedudukan Pangeran Adipati Anom (Putra Mahkota).
Dari garwo ampil ini Prabu Hayam Wuruk berputra dua oranh yaitu Pangeran Pekik Jayakesuma dan Dewi Manikwulan yang biasa disebut Ni Putri.
Selanjutnya Putra Adipati Harya Bangah yang lain yaitu Raden Udakusuma dan Raden Ranukusuma mohon kepada ayahanda untuk membuat daerah baru. Di daerah itu mereka mendirikan desa baru dan membuat sumur untuk keperluan mereka serta penduduk sekitarnya, setelah jadi dua sumur itu dinamakan Sumur Kembaran.
Selanjutnya kedua putra itu berpisah, Raden Udakusuma bersama pengiring- pengiringnya berjalan ke arah Utara dan sampai di suatu daerah yang subur makmur dengan aliran sungai Bogowonto (cihWatukoro), yang kemudian bernama daerah Lowano.
Di sana Raden Udakusuma menetap dan berganti nama menjadi Raden Udopati. Kemudian berputra Raden Arya Singgela, selanjutnya menurunkan para pembesar di Lowano.
Sedangkan Raden Ranukusumo berganti nama menjadi Raden Ranupati dan tetap tinggal di desa Condhongsari, termasuk daerah Banyuurip. Raden Ranupati ini berputra raden Hadiwijaya yang senang mencari ilmu di Padepokan- padepokan, pertapaan- pertapaan, berguru kepada para Reshi, Pendita dan Bhagawam, maka dari itu dia disebut cantrik atau dalam bahasa Sansekerta disebut MANGUYU.
Oleh karena itu Raden Hadiwijaya itu selalu disebut dengan nama ki Manguyu.
Pangeran Joyokesumo dengan tajam memperhatikan pertarungan seru itu, segala gerak- gerik si Kebrok tidak luput dari pengamatannya, kadang- kadang tersenyum atau tertawa kecil apabila dilihatnya si Kebrok puyuh kesayangannya berada di atas angin, tapi mulut tampak merengut bila melihat si Kebrok berlaku surut.
Sedang ki Manguyu duduk dengan tenang dan diam, namun tatapan tajamnya tidak lepas dari si Balut puyuh miliknya, sesekali wajah tampannya berseri tapi kadang juga kedua alisnya mengerut hampir beradu kedua ujung alis di atas dahinya.
Seorang Botoh dari pihak Pangeran Jayakusuma sambil bergerak- gerak menari- nari, tampil kedepan lalu membentak dengan keras (hentak) pula. Botoh ki Manguyu pun tidak mau kalah, lalu menghardik juga dengan kerasnya, diikuti oleh yang memasang taruhan pada si Balut.
Jadilah mereka saling hentak- menghentak (menghardik), untuk memberi semangat puyuh jagoan masing- masing. Maka tempat itu disebut dusun Sentakan, yang berada di desa Sumbersari kecamatan Banyuurip sekarang.
Ki Manguyu ialah salah satu keturunan Raden Harya Bangah, putra Prabu Galuh Pakuan Pajajaran. Sedangkan ni Putri Manikwulan adalah putri raja Majapahit, maka bertemu kembali dua darah yang berasal dari satu keturunan.
Pernikahan yang membahagiakan, sebetulnya yang dicita- citakan oleh Pangeran Joyokesumo, kalau Puyuhnya si Kebrok menang, tentu ki Manguyu akan menjadi hambanya, dia akan menikahkannya dengan adindanya, tetapi bila puyuhnya si Kebrok kalah, tetap pula ki Manguyu akan menjadi suaminya adindanya.
Orang- orang Banyuurip pada suatu saat mendengar suara puyuh yang tampak kesakitan napasnya Keme- rumpyung. Untuk memastikan kebenarannya (dalam bahasa Jawa disebuy Amertaake), diperintahkan orang- orang membuktikannya ke tempat itu yang masih berupa hutan.
Kemudian tempat- tempat itu disebut dusun Ngadimerta dan lokasi hutan dimana diperkirakan si Kebrok berada disebut dusun Krumpyung.
Pada akhirnya orang- orang menemukan puyuh si Kebrok dalam keadaan sudah mati menjadi bathang (bangkai), maka dusun itu disebut Bathang. Karena sayangnya, bathang si Kebrok dikuburkan dengan baik- baik dan tempat itu disebut dusun Candi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar