Senin, 11 Agustus 2025

Pasareyan Agung Giriloyo

Makam Giriloyo sejatinya adalah lokasi pertama yang dipilih oleh Sultan Agung jika kelak ia mangkat. Namun, lokasi ini kemudian diminta oleh sang paman. Sultan Agung kemudian memilih lokasi kedua yakni Pajimatan sebagai area makamnya.

Pajimatan adalah lokasi pilihan kedua Sultan Agung. Sesungguhnya gumpalan tanah dari Mekah tidak langsung jatuh di Pajimatan. Namun, di tempat bernama Giriloyo. Tanah itu dilemparkan oleh Sunan Kalijaga.

Menurut versi lain, lokasi ini awalnya hendak dijadikan komplek makam raja oleh Sultan Agung. Ia bahkan sudah menyelesaikan pembangunannya. Namun, Pangeran Juminah, yang tak lain adalah pamannya, meminta izin agar ia boleh dimakamkan di lokasi ini. Sultan Agung akhirnya mengabulkan permintaan sang paman.

Sosok Pangeran Juminah alias Pangeran Blitar disebut H. J. De Graaf dalam Puncak Kekuasaan Mataram sebagai anak ke- 18 Senopati. Ia punya nama asli Raden Mas Bagus. Pola penamaan ini mirip dengan 2 pangeran lain yang sama- sama menggunakan nama tempat di Jawa bagian timur: Pangeran Purbaya dan Pangeran Singasari. Ia juga disebut dengan gelar lebih tinggi, panembahan.

Pangeran ini juga turut disebut sebagai salah satu pemimpin perang Mataram. Namun, De Graaf mengatakan keberadaan sosoknya lebih menarik perhatian pihak Belanda bukan karena kemampuan militernya melainkan karena kedekatan hubungannya dengan sang raja. De Graaf menyebut, kepada Juminah lah pembangunan makam diserahkan. Menurut laman Kemendikbud Makam Giriloyo dibangun antara tahun 1628- 1629.

Setelah permintaan sang paman, Sultan Agung terpaksa mengubah keinginan awalnya untuk menggunakan area ini sebagai makamnya. Belakangan ia mencari lokasi lain setelah permintaan sang paman dikebumikan di lokasi tersebut. Pilihan jatuh ke Bukit Merak yang sebenarnya masih berada di satu rangkaian pegunungan dengan Giriloyo. Jaraknya pun tidak sampai 2 kilometer dan kini berada di satu kalurahan.

Dalam skala lebih kecil dan sederhana, Makam Giriloyo punya beberapa kemiripan dengan Makam Pajimatan. Di bagian bawah ada masjid kagungan dalem. Ada pula anak tangga selebar sekitar 3 meter menuju makam. Area utama makam juga membujur dari barat ke timur dengan 2 sayap. Tersebar pula beberapa makam umum di sekitar anak tangga.

Total, ada 65 nisan di komplek Makam Giriloyo. Tokoh utama di makam ini ada 4 yaitu Pangeran Juminah, Sunan Cirebon atau Panembahan Giriloyo, Kanjeng Ratu Mashadi (ibu dari Sultan Agung) dan Kanjeng Ratu Pembayun (permaisuri Amangkurat I). Semua pusara tadi berada di sayap barat kecuali makam Sunan Cirebon yang berada di sebuah bangunan sayap timur.

Selain itu ada pula makam Kiai Ageng Giring, Kiai Ageng Gentong, serta Tumenggung Wiraguna dan istri. Saya memastikan ulang bahwa sosok Kiai Ageng Giring adalah orang yang sama dengan Ki Ageng Giring III di Sodo.

Sementara Tumenggung Wiraguna adalah panglima perang sekaligus orang kepercayaan Sultan Agung. Nama ini menjadi salah satu tokoh penting di novel Roro Mendut karya Y. B. Mangunwijaya.

Mayoritas pusara di sini berbentuk tatanan batu dengan nisan bergaya hanyakrakusuman.

Sayap makam sisi barat berada di bagian lebih tinggi dengan gapura supit urang namun sudah rusak. Beberapa bagian tembok juga diwarnai keretakan. Pintu bangunan makam sayap barat telah lapuk dan kini dilapisi pinti besi sebagai pengaman tambahan.

Di area ini juga terdapat sebuah batu bernama selo tilas. Menurut abdi dalem makam, batu ini adalah gumpalan tanah yang dulunya dilemparkan dari Mekah. Di dekat makam Kiai Ageng Giring, ada sebuah sumur yang airnya dipercaya punya aneka khasiat, bahkan manjur untuk mengusir hama di sawah.

Beberapa versi menyebutkan ketika Sultan Agung mencari lokasi baru, beliau melempar lagi sedikit tanah dari sini dan juga sering digunakan oleh sang raja untuk duduk.

Memasuki sayap barat, ada satu buah nisan dengan bentuk mencolok. Dimensinya lebih besar dibanding makam lainnya, permukaannya polos dan berwarna hitam. Tertulis di papan nama di dekat kepala nisan, Sekaran sepen. Ini adalah sebuah makam tiban yang dipercaya datang begitu saja di Makam Giriloyo.

Menurut cerita, secara fisik, makam Sultan Agung berada di Pajimatan, namun, secara batiniyah, makam beliau berada di sini, maka muncul sekaran sepen ini. Karena beliau sebenarnya ingin dimakamkan di Giriloyo. Misteri tidak berakhir di situ karena di sekitar makam tiban ini juga ada beberapa umpak batu.

Menurut cerita dari para abdi dalem terdahulu, konon, sekaran sepen dan 3 nisan lain disekitarnya pernah dipasang sebuah cungkup (bangunan beratap pelindung makam). Namun, cungkup itu tiba- tiba hilang begitu saja. Belakangan cungkup itu ditemukan di daerah Demak dan hanya menyisakan umpak batu saja.

Makam di sayap barat secara sederhana dibagi dalam 2 area. Di area barat bersemayam para tokoh besar yaitu Pangeran Juminah, Kanjeng Ratu Hadi, Kanjeng Ratu Pembayun. Sementara di luar pagar sayap barat juga terdapat sederet makam prajurit. Makam disini menggunakan papan nama dari kayu buatan para abdi dalem. Tentu saja itu hanya untuk makam yang sudah diketahui namanya karena tidak semua nama diketahui para abdi dalem.

Salah satu nama menarik di makam ini tentu saja Sunan Cirebon. Nama ini juga disebut dengan Sultan Cirebon V dalam laman Kemendikbud. Terkait hubungannya dengan Sultan Agung, bahwa beliau ini merupakan cucu menantu sang raja dan meninggal ketika berada di Mataram.

Jangan berharap ada papan informasi. Mayoritas bangunan masih asli, bukan karena disengaja namun karena minimnya perhatian. Bangunan baru hanya berupa bangsal di depan masjid dan tempat istirahat peziarah.

Bersama Banyusumurup dan Pajimatan, Giriloyo adalah salah satu dari 3 makam milik keraton di Imogiri. Dibanding 2 lainnya, secara urutan kronologis ini adalah makam paling tua. Sama seperti 2 makam lainnya, Giriloyo juga dijaga oleh abdi dalem dari Kraton Yogyakarta dan Surakarta. Kisah- kisah di Makam Giriloyo agaknya masih tertutup dengan kejayaan dan perhatian khalayak terhadap Pajimatan.

Bandingkan juga dengan Banyusumurup yang sering disebut makam para musuh raja. Banyusumurup lebih beruntung rasanya karena sudah dilengkapi papan informasi. Abdi dalemnya pun lebih banyak. Di Giriloyo ada sekitar 10 abdi dalem. Keadaannya dibuktikan dengan pagar makam yang sudah retak, pintu masuk yang lapuk, gerbang dengan runtuhan di bagian atas dan jalan naik menuju makam yang sederhana.

Di sini bersemayam tokoh- tokoh penting Mataram Islam di masa silam. Lebih penting lagi sebab makam ini adalah lokasi incaran awal Sultan Agung, raja besar Mataram, saat hendak membangun area makam untuk beliau dan keturunannya. Tidak ada pula narasi makam ini sebagai lokasi awal makam raja- raja di laman Keraton Yogyakarta.

Perhatian terhadap area ini malah lebih tertuju ke Masjid Agung Giriloyo di bagian bawah makam. Bangunan ini 2 tahun terakhir terus mengalami renovasi dan pembaruan dari pihal keraton untuk mengganti bagian atap dan tiang kayu.



mojok.co/liputan/histori/makam-giriloyo-rumah-peristirahatan-terakhir-sultan-agung-yang-dibatalkan/amp/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar