Jumat, 08 Agustus 2025

Lokomotif Sri Gunung

Nama Sri Gunung merupakan sebuah julukan bagi lokomotif kelas berat yang pernah ada di Indonesia pada sejarah perkeretaapian Indonesia. Selain Si Kuik yang merajai di berbagai medan dan kondisi alam Indonesia, adalah Sri Gunung yang menjadi saingan utamanya.

Lokomotif buatan Swiss yang pernah merajai jalur lintas pegunungan di Jawa Barat (tanah Priangan). Walau memiliki ukuran yang besar, tetapi untuk kekuatan laju dan daya angkut, telah teruji dengan baik.

Setelah masa kejayaan Nederlandsch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) di Semarang dan sekitarnya, berdirilah Staat Spoorwagen (SS) yang mencoba menguasai wilayah Jawa Barat dan Jawa Timur. Dengan mengusung konsep kereta uap berukuran kecil, yakni 1.067 mm untuk ukuran lebar lokomotifnya.

SS menghadapi tantangan berupa daerah pegunungan yang terjal akhirnya mengoperasikan dua jenis lokomotif yang memiliko karakternya masing- masing. Pertama adalah Si Kuik, yang dalam kapasitasnya hanya mampu menarik beban yang ringan dibandingkan dengan Sri Gunung.

Jalur menanjak di daerah Cibatu, Cikajang, Garut dan Purwakarta membuat Sri Gunung memiliki peran besar dalam kisah perjalanannya. Kecepatannya yang berkisar hingga 55 km/ jam dalam posisi berbelok membuat Sri Gunung menjadi lokomotif favorit bagi SS.

Hingga pada tahun 1927, SS mendatangkan 30 unit lagi lokomotif model Sri Gunung atau C 50. 16 unit dari SLM Swiss dan 14 unit dari Werkspoor Belanda. Selain dari ketangguhannya, pengoperasian dan perawatannya yang lebih ringkas dibanding Si Kuik, membuatnya dapat bertahan hingga masuknya era industri kereta api diesel.

Jika dilihat dari ukuran jalur lintas Jawa Barat melalui rute selatan hingga ke Jawa Timur, maka jalur ukuran 1.067 mm adalah penguasanya. Termasuk Jawa Tengah bagian selatan, via Kroya yang terhubung hingga Yogyakarta.

Hanya ada tiga lokomotif Sri Gunung yang tersisa hingga saat ini, pertama berada di Museum Transportasi TMII, kedua berada di Museum Kereta Api Ambarawa dan yang ketiga berada di Belanda. Sedangkan dua yang berada di Indonesia kerap dijadikan rujukan dalam melakukan studi historis mengenai sejarah Kereta Api Indonesia (KAI).

Hanya Sri Gunung lah lokomotif yang dapat bertahan hingga kini, lantaran lokomotif Si Kuik saat ini sudah tidak dapat diketemukan (musnah) karena berbagai macam faktor.

Lokomotif lintas zaman Sri Gunung, mungkin sesuai nama yang diberikan oleh orang Belanda. Dengan julukan Bergkoningin yang artinya lokomotif uap raksasa. Lokomotif ini harus mengakhiri masa dinasnya pada tahun 1984, dengan rute terakhir Cibatu- Garut.


kompasiana.com/novitadesywigesia3970/63f1085008a8b5456243c725/kereta-api-indonesia-misteri-lokomotif-sri-gunung

Tidak ada komentar:

Posting Komentar